Langgam.id – Sejak jembatan putus diterjang banjir bandang pada November 2025 lalu, rakit menjadi jembatan harapan satu-satunya warga Nagari Anduriang, Kecamatan 2 X 11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat (Sumbar).
Hanya terbuat dari papan kayu dan drum, rakit ini tidak hanya mampu mengangkut orang, namun juga beberapa sepeda motor dalam sekali jalan. Sosok di balik rakit itu salah satunya adalah Hendri, selaku pengelola.
Hendri setia menjaga rakit itu tetap bergerak, ditarik menggunakan tali sling baja bersama sejumlah warga lainya. Perannya begitu terasa bagi anak-anak sekolah, petani hingga para pekerja yang menggantungkan langkah lewat alat sederhana ini.
“Kalau menunggu bantuan datang, warga yang tinggal di Nagari Anduriang akan kesulitan pergi sekolah, ke kebun dan menjual hasil panen di Kayu Tanam,” kata Hendri kepada Langgam.id, Jumat (15/5/2026).
Ia mengatakan rakit dibuat secara gotong royong oleh masyarakat. Drum dan papan kayu dibeli dari uang iuran sukarela warga yang menggunakan rakit tersebut.
Hendri menambahkan, aktivitas penyeberangan menggunakan rakit dimulai sejak pukul 05.00 WIB hingga sekitar pukul 23.00 WIB setiap harinya. Dalam sehari, rakit dapat bolak-balik puluhan kali mengangkut warga.
Namun, Hendri mengaku khawatir ketika debit Sungai Batang Anai meningkat akibat hujan di hulu sungai.
“Kalau air besar, arus sangat kuat. Rakit tidak bisa dipakai karena risikonya terlalu besar dan membahayakan,” tuturnya.
Penuturan Hendri, untuk operasional warga tidak dipungut tarif tetap. Pengelola hanya menyediakan ember iuran sukarela yang digunakan untuk biaya perawatan rakit dan kebutuhan operasional.
“Sebagian juga kami sisihkan untuk sumbangan masjid di Nagari Anduriang,” ujarnya.
Kemudian, seorang warga bernama Yulidar mengaku harus menggunakan rakit untuk mengantar anaknya pergi ke sekolah.
“Saat naik rakit ada rasa takut dan cemas, apalagi kalau air deras dan rakit bergoyang. Tapi kalau memutar jalan jauh sekali dan anak bisa terlambat ke sekolah,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Mak Itam seorang tukang ojek yang setiap hari menggunakan rakit untuk bekerja.
“Kalau hujan deras saya kadang tidak berani menyeberang. Terlalu bahaya,” katanya.
Ia berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan karena kondisi tersebut berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
“Yang kasihan anak sekolah karena tidak semua bisa dibawa sekaligus dan antrian setiap hari sekolah pasti panjang,” ujar Mak Itam.
Sementara itu, Pejabat Wali Nagari Anduriang, Henyunis mengatakan pemerintah nagari telah melaporkan kondisi jembatan putus tersebut kepada pemerintah daerah dan berharap pembangunan jembatan darurat segera dilakukan.
“Akibat putusnya jembatan, masyarakat terpaksa menggunakan rakit yang sifatnya darurat ini karena belum ada akses lain yang dekat,” katanya.
Menurut Henyunis, jembatan tersebut merupakan akses penting bagi sekitar 5.000 warga Nagari Anduriang untuk kegiatan ekonomi, pendidikan dan layanan kesehatan.
“Masyarakat banyak berkegiatan di Kayu Tanam, mulai dari sekolah hingga aktivitas pasar. Alternatif lain cukup jauh dari nagari,” tutur Mak Itam.
Ia juga mengingatkan risiko keselamatan warga semakin tinggi saat musim hujan karena debit Sungai Batang Anai dapat meningkat sewaktu-waktu.
“Kalau banjir datang lagi dari hulu sungai tentu sangat berbahaya bagi masyarakat yang menyeberang,” pungkasnya. (WAN)






