Ahli Geologi Ungkap Jejak Banjir Bandang Puluhan Tahun Lalu di Arosuka

Langgam.id – Banjir bandang atau galodo yang menerjang Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok di Arosuka, Senin (21/9/2026) malam, disebut bukan kali pertama terjadi.

Ahli geologi Ade Edward mengatakan, kawasan tersebut memiliki jejak banjir bandang yang pernah terjadi sekitar dekade 1980-an.

Kata Ade, jejak itu masih dapat dilihat di sekitar aliran sungai kecil yang berada dekat jembatan di samping Kompleks Perkantoran Pemkab Solok. Di lokasi itu masih ditemukan batu-batu berukuran besar yang terbawa aliran air.

“Di tepi sungai kecil dekat jembatan samping komplek perkantoran, masih terlihat banyak batu besar. Itu jejak banjir bandang lama,” ujarnya kepada Langgam.id, Selasa (22/9/2026).

Ade menjelaskan, keberadaan batu-batu besar tersebut menunjukkan kawasan Arosuka memiliki sejarah sebagai jalur aliran material vulkanik dari kawasan Gunung Talang.

Aliran sungai yang berhulu di kawasan puncak Gunung Talang tersebut mengalir menuju Arosuka. Sementara di bagian hulu, kata Ade, terdapat aktivitas pertanian.

Dirinya pernah terlibat dalam Komisi Daerah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) ketika pusat pemerintahan Kabupaten Solok dipindahkan dari Koto Baru ke Arosuka pada 2004.

Dalam kajian tersebut, ia mengaku telah menyampaikan bahwa kawasan Arosuka masuk dalam peta rawan bencana Gunung Talang.

“Jalur Sungai Batang Barus di komplek perkantoran publik itu masuk peta rawan bencana. Ancaman bencananya adalah lahar dingin dan banjir bandang apabila hujan lebat di hulu,” jelasnya.

Namun, Ade menilai pembangunan lanjutan di Kompleks Perkantoran Pemkab Solok tidak sepenuhnya mengacu pada rekomendasi AMDAL dan kajian risiko bencana yang telah dibuat.

Menurutnya, dokumen kajian risiko bencana sebenarnya sudah tersedia. Persoalannya, rekomendasi yang tercantum di dalamnya tidak dilaksanakan secara optimal, termasuk dari sisi penganggaran.

“Dokumen kajian risiko bencana sudah ada, tetapi tidak dijalankan dan tidak dianggarkan. Banyak dokumen bagus, tapi tidak dikerjakan,” tegasnya.

Ade juga menjelaskan bahwa perkembangan kawasan perkotaan turut mengubah tata guna lahan. Pembangunan jalan, permukiman, dan kawasan perdagangan membuat air hujan yang menjadi aliran permukaan semakin besar.

Dalam kondisi hujan lebat di kawasan hulu, kondisi tersebut dapat meningkatkan debit aliran sungai. Material longsoran berupa batu dan kayu kemudian dapat terbawa bersama arus hingga memperbesar dampak banjir bandang.

“Sungai itu tidak bisa menampung. Terjadi longsor di lereng gunung, itu penyebab banjir bandang. Volume hujan bertambah, air mengalir, sampai meningkat tiga kali lipat. Aliran menambah volume batu dan kayu, sungai tidak menampung,” paparnya.

Meski demikian, Ade menegaskan ancaman banjir bandang di kawasan tersebut bukan berarti Kompleks Perkantoran Pemkab Solok harus dipindahkan.

Ia menambahkan, risiko bencana masih dapat dikelola melalui langkah mitigasi yang tepat, termasuk dengan memperhatikan kondisi hulu, aliran sungai, tata guna lahan, serta rekomendasi dalam kajian kebencanaan.

“Ancaman itu bisa dimitigasi. Bukan berarti kantor bupati harus pindah,” tegasnya. (WAN)

Baca Juga

Tak Sempat Bawa Barang, Korban Galodo Solok Kini Butuh Perlengkapan Bayi
Tak Sempat Bawa Barang, Korban Galodo Solok Kini Butuh Perlengkapan Bayi
Tim SAR Brimob Perluas Pencarian Korban Galodo Solok, Sepeda Motor Ditemukan
Tim SAR Brimob Perluas Pencarian Korban Galodo Solok, Sepeda Motor Ditemukan
Langgam.id-hujan di sumbar
Pascagalodo Solok, BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Sumbar
6 Ekskavator Bersihkan Lumpur dan Batu Galodo Solok
6 Ekskavator Bersihkan Lumpur dan Batu Galodo Solok
Korban Galodo Solok Alami Cedera Dada-Perut dan Patah Tulang Terbuka
Korban Galodo Solok Alami Cedera Dada-Perut dan Patah Tulang Terbuka
Korban Galodo Solok Bertambah, 1 Meninggal dan 8 Luka
Korban Galodo Solok Bertambah, 1 Meninggal dan 8 Luka