Langgam.id – Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Mahyeldi memberikan tanggapan terkait dua kasus dugaan keracunan setelah konsumsi Makan Bergizi Gratis atau MBG di Kabupaten Agam dan Kota Pariaman.
Mahyeldi mengatakan bahwa dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus ditutup sementara. Penutupan dilakukan untuk memastikan seluruh proses penyediaan makanan diperiksa dan dibenahi sebelum kembali beroperasi.
“Kita lakukan penutupan sementara, kemudian kita benahi dan perbaiki, sampai nanti layak dioperasikan lagi,” kata Mahyeldi, Rabu (16/9/2026).
Menurut Mahyeldi, pengawasan terhadap proses penyediaan MBG perlu diperkuat, terutama terkait rentang waktu antara makanan selesai diolah hingga dikonsumsi siswa.
Ia menyebut, kondisi makanan dapat berubah apabila terlalu lama berada dalam rentang waktu tersebut. Karena itu, ketentuan mengenai batas waktu aman makanan yang telah ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN) perlu benar-benar diterapkan di lapangan.
“Kalau kita lihat penyebabnya, ada zat-zat yang hadir dari makanan tadi, karena lamanya pembuatan hingga mengonsumsinya. Akibat lama dikonsumsi makanya berpengaruh,” ujarnya.
Mahyeldi meminta organisasi perangkat daerah khususnya Dinas Kesehatan di daerah, lebih aktif melakukan pengawasan terhadap pelayanan SPPG.
“Pengawasan itu juga harus dibarengi edukasi kepada pengelola agar standar keamanan pangan dipenuhi,” katanya.
Ia menegaskan petugas SPPG memiliki tanggung jawab memastikan makanan yang disajikan kepada siswa aman untuk dikonsumsi.
“Ini perlu diawasi di lapangan, melalui OPD terkait di daerah terdampak,” katanya.
Mahyeldi berharap pembenahan dan pengawasan tersebut dapat mencegah terulangnya kasus dugaan keracunan dalam pelaksanaan program MBG di Sumatera Barat.
“Kita harapkan tidak terjadi lagi hal serupa ke depannya di Sumbar,” tuturnya.
Sebelumnya Pemerintah Kota Pariaman menutup sementara operasional SPPG Pasir Pauh buntut 123 siswa MTsN 1 Kota Pariaman diduga mengalami keracunan usai menyatap MBG.
Ratusan siswa ini mengalami gejala mual, muntah, dan pusing. Hingga Selasa (15/9/2026), dari 123 korban, lima siswa masih dirawat di Rumah Sakit Sadikin dan Rumah Sakit Yamin Kota Pariaman.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman Rudi Repenaldi mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional terkait penghentian sementara operasional dapur SPPG tersebut.
Ia mengungkapkan, penghentian sementara dapur SPPG dilakukan agar penanganan terhadap siswa yang mengalami gangguan kesehatan dapat berjalan maksimal.
“Sebagai bentuk tindak lanjut untuk mengevaluasi dugaan penyebab gangguan kesehatan terhadap siswa,” ujarnya. (FIX)





