10 Fakta Mencemaskan Kekerasan Anak di Sumbar yang Naik Drastis, Korban Dilecehkan hingga Disiksa Ayah Kandung

Ilustrasi kekerasan anak. (Dok. Istimewa)

Ilustrasi kekerasan anak. (Dok. Istimewa)

Langgam.id – Kasus kekerasan terhadap anak di Sumatera Barat (Sumbar) terus meningkat dan memicu kekhawatiran serius. Berikut 10 fakta mencemaskan dari maraknya kasus kekerasan anak di Ranah Minang yang dirangkum dari ulasan Langgam.id hari ini, Selasa (19/5/2026).

  1. Naik Drastis dalam Lima Tahun

Data DP3AP2KB Sumbar mencatat, sepanjang 2025 terdapat 760 kasus kekerasan anak yang dilaporkan. Angka itu melonjak jauh dibandingkan tahun 2020 yang hanya 426 kasus.

Pada 2021 jumlah kasus naik menjadi 548 kasus, lalu 567 kasus pada 2022. Puncaknya terjadi pada 2023 dengan 783 kasus, sebelum turun sedikit menjadi 721 kasus pada 2024.

“Kalau dilihat grafiknya memang naik terus. Tahun tertinggi itu 2023 dengan 783 kasus yang melapor,” kata Kabid PHPA DP3AP2KB Sumbar, Desrina Elena.

  1. Kasus Anak Tiga Kali Lipat Lebih Banyak dari Kekerasan Perempuan

DP3AP2KB Sumbar menyebut jumlah kasus kekerasan terhadap anak jauh lebih tinggi dibanding kekerasan terhadap perempuan.

“Kasus anak ini jauh lebih tinggi dibanding perempuan. Karena itu penanganannya menjadi sangat penting,” ujar Desrina.

  1. Korban Diduga Diam karena Takut

Data yang tercatat diyakini belum menggambarkan kondisi sebenarnya. Banyak korban diduga tidak melapor karena takut, tertekan, atau tidak punya tempat aman untuk mengadu.

“Anak-anak yang menjadi korban kekerasan membutuhkan lingkungan yang aman dan dukungan keluarga agar berani melapor. Tanpa dukungan tersebut, banyak kasus dikhawatirkan tidak pernah terungkap,” tuturnya.

  1. Kekerasan Psikis, Fisik, dan Seksual Jadi Kasus Paling Dominan

Kasus yang paling banyak dilaporkan di Sumbar adalah kekerasan psikis, fisik, dan seksual.

“Yang paling dominan itu kekerasan psikis, fisik dan seksual,” kata Desrina.

  1. Pelecehan Seksual hingga Sodomi Menimpa Anak-anak

DP3AP2KB Sumbar menyebut kekerasan seksual terhadap anak masih menjadi ancaman serius.

“Bentuk kasusnya mulai dari pelecehan seksual sampai sodomi terhadap anak,” ujarnya.

  1. Mayoritas Korban Berusia 13 hingga 17 Tahun

Korban kekerasan didominasi anak usia sekolah. Banyak dari mereka mengalami tekanan mental akibat persoalan keluarga maupun kekerasan dari lingkungan terdekat.

“Anak-anak ini rentan mengalami tekanan psikologis karena kondisi di rumah ataupun lingkungan sekitar,” ujarnya.

  1. Dharmasraya, Pasaman, dan Padang Pariaman Jadi Daerah dengan Laporan Tertinggi

Dari 19 kabupaten dan kota di Sumbar, laporan kasus terbanyak berasal dari Dharmasraya, Pasaman, dan Padang Pariaman.

“Laporan yang masuk banyak dari Dharmasraya, Pasaman dan Padang Pariaman,” ucap Desrina.

Meski begitu, ia menyebut tingginya laporan juga bisa menjadi tanda masyarakat mulai berani melapor.

“Kita apresiasi daerah yang banyak melapor, artinya partisipasi masyarakat untuk melindungi anak mulai tinggi,” ujarnya.

  1. Bayi Dua Tahun Disiksa Ayah Kandung

Kasus yang menyita perhatian publik terjadi di Kota Padang. Seorang bayi berusia dua tahun diduga menjadi korban kekerasan ayah kandungnya sendiri.

Korban disebut disundut rokok, digigit, hingga disiram air panas.

  1. Mayoritas Pelaku Orang Terdekat Korban

Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra mengungkap fakta paling memilukan, yakni mayoritas pelaku berasal dari lingkungan dekat korban sendiri.

“Mayoritas pelaku kekerasan terhadap anak merupakan orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan korban, mulai dari orang tua kandung, anggota keluarga, hingga orang yang telah dikenal anak sebelumnya,” kata Jasra.

“Ketika pelaku berasal dari lingkungan terdekat, anak sering kali tidak memiliki keberanian untuk melapor karena takut, terancam, atau tidak memahami bahwa dirinya adalah korban,” ujarnya.

  1. Sumbar Siapkan Skrining Psikologis untuk Siswa Baru

Pemprov Sumbar mulai menyiapkan langkah deteksi dini kekerasan terhadap anak melalui skrining psikologis di sekolah.

Program itu dilakukan bersama Dinas Pendidikan Sumbar dan Fakultas Kedokteran Unand. Nantinya siswa baru akan menjalani asesmen psikologis untuk mendeteksi trauma maupun indikasi kekerasan.

“Jadi nanti ada assessment yang ditanyakan kepada anak. Dari situ akan terpetakan apakah anak pernah mengalami kekerasan, masih tahap awal trauma atau sudah membutuhkan pendampingan psikologis,” kata Desrina.

“Anak-anak ini sebenarnya banyak yang punya masalah, tetapi tidak tahu harus bercerita ke siapa. Karena itu komunikasi dengan anak sangat penting,” imbuhnya. (ICA)

Baca Juga

Syarat Madrasah dan Pesantren Tatap Muka | 9 Ribu Siswa SMP di Pasaman Barat Mulai Sekolah
Sumbar Mulai Deteksi Trauma Kekerasan Anak Sejak Hari Pertama Sekolah
ilustrasi pelecehan seksual
Alasan Bungkamnya Anak Korban Kekerasan, Masyarakat Harus Peduli
Kekerasan Seksual dan Psikis Bayangi Anak-anak Sumbar, Dharmasraya hingga Padang Pariaman Tertinggi
Kekerasan Seksual dan Psikis Bayangi Anak-anak Sumbar, Dharmasraya hingga Padang Pariaman Tertinggi
Ilustrasi kekerasan anak. (Dok. Istimewa)
KPAI Soroti Lonjakan Kekerasan Anak di Sumbar, Lingkungan Terdekat Jadi Ancaman
Darurat Kekerasan Anak di Sumbar, Kasus Terus Naik dalam 5 Tahun Terakhir
Darurat Kekerasan Anak di Sumbar, Kasus Terus Naik dalam 5 Tahun Terakhir
Video Penggerebekan Viral dan Jadi Bukti, UNP Drop Out Mahasiswa Diduga Gay 
Video Penggerebekan Viral dan Jadi Bukti, UNP Drop Out Mahasiswa Diduga Gay