Langgam.id – Kasus kekerasan anak di Sumatera Barat (Sumbar) masih didominasi kekerasan psikis, fisik, dan seksual dalam lima tahun terakhir. Mirisnya, mayoritas korban merupakan anak usia sekolah antara 13 hingga 17 tahun.
Kabid Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Anak (PHPA) DP3AP2KB Sumbar, Desrina Elena mengatakan, kekerasan psikis dan seksual menjadi kasus yang paling sering dilaporkan masyarakat.
“Yang paling dominan itu kekerasan psikis, fisik dan seksual,” kata Desrina kepada Langgam.id, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, kekerasan seksual anak masih menjadi ancaman serius di Sumbar. Dalam sejumlah kasus, satu pelaku bahkan bisa memiliki banyak korban.
“Bentuk kasusnya mulai dari pelecehan seksual sampai sodomi terhadap anak,” ujarnya.
Desrina menyebut sebagian besar korban berasal dari lingkungan usia sekolah. Banyak anak mengalami tekanan mental akibat persoalan keluarga maupun kekerasan yang dilakukan orang terdekat.
“Anak-anak ini rentan mengalami tekanan psikologis karena kondisi di rumah ataupun lingkungan sekitar,” ujarnya.
Selain jenis kekerasan, DP3AP2KB Sumbar juga mencatat sejumlah daerah dengan angka laporan kasus cukup tinggi. Dari 19 kabupaten dan kota, laporan terbanyak berasal dari Dharmasraya, Pasaman, dan Padang Pariaman.
“Laporan yang masuk banyak dari Dharmasraya, Pasaman dan Padang Pariaman,” ucapnya.
Meski begitu, Desrina menilai tingginya angka laporan tidak selalu menandakan kondisi daerah paling buruk. Menurut dia, meningkatnya laporan justru bisa menjadi tanda masyarakat mulai berani melapor ketika terjadi kekerasan terhadap anak.
“Kita apresiasi daerah yang banyak melapor, artinya partisipasi masyarakat untuk melindungi anak mulai tinggi,” ujarnya.
Ia menjelaskan seluruh data tersebut berasal dari laporan kabupaten dan kota di Sumbar yang masuk ke sistem Simfoni PPA milik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
DP3AP2KB Sumbar pun mendorong keluarga dan sekolah lebih aktif membangun komunikasi dengan anak agar tanda-tanda kekerasan bisa lebih cepat diketahui.
“Kami mendorong keluarga dan lingkungan sekolah lebih aktif membangun komunikasi dengan anak agar kasus kekerasan bisa lebih cepat terdeteksi,” pungkasnya. (WAN)






