99 Tahun Gedung De Javasche Bank Padang (2)

99 Tahun Gedung De Javasche Bank Padang (2)

De Javasche Bank Padang pada 1925. [Foto: Wereldmuseum]

Langgam.id - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat membuka eks-kantornya di Jalan Batang Arau untuk pengunjung selama pagelaran Festival Muaro Tempo Doeloe pada akhir pekan lalu, Jumat-Minggu (19-21 April 2024). Di situ, dipamerkan sejumlah koleksi numismatik dari BI dan pigura foto Padang lampau yang dihimpun Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Padang.

Bangunan yang disulap menjadi museum itu merupakan peninggalan De Javasche Bank (DJB, cikal bakal BI) pada masa Hindia Belanda. Mulai didirikan pada 31 Maret 1921, butuh hampir empat tahun menyelesaikannya sebelum diresmikan pada 12 Januari 1925. Jika ditilik dari tanggal peresmian tersebut, maka gedung DJB Padang saat ini sudah berusia 99 tahun.

Tampilan Sederhana, Konstruksi Tahan Gempa

Lampiran Gambar
Pintu utama yang terhubung langsung dengan tangga naik. [Foto: Rahmat Irfan Denas]

Gedung DJB Padang dirancang menyesuaikan iklim tropis lewat penggunaan atap yang tinggi dan lebar terbuat dari genteng untuk mengisolasi hawa panas. Arsitekturnya tergolong sederhana. Bangunannya simetris, bersih dari ragam hias atau ukiran. Meski demikian, bangunan DJB Padang besar cukup mencolok di kawasan komersial Batang Harau.

Denah bangunan berukuran 22.75 meter x 19.5 meter dan terdiri dari dua lantai. Lantai dasar berupa semi-basement. Adapun lantai utama di atasnya terhubung dengan tangga di pintu masuk yang ternaung oleh kanopi datar tanpa atap.

Sumatra-Bode saat peresmian DJB Padang pada 1925 menguraikan spesifikasi teknis bangunan, mulai dari pemeriksaan lahan, uji daya dukung tanah, hingga pembangunan pondasi.

Diketahui lahan DJB Padang mengandung tanah liat sampai sedalam 5 meter. Untuk menopang berat keseluruhan bangunan sebesar 2.700 ton, dibentangkan konstruksi plat beton. Adapun kluis (ruang khazanah) yang mempunyai beban 400 ton ditopang oleh pondasi sumuran yang terdiri dari empat titik dengan diameter masing-masing sebanyak 2,5 meter.

“Pondasi sumuran ditanam dengan bor setebal 3 meter sampai pada kedalaman 5 meter dan, untuk keamanan tambahan guna mencegah kemungkinan penurunan, diuji dengan beban lebih besar sebesar 20%,” tulis Sumatra-Bode.

Selama pengeboran, ternyata beberapa penyangga di beberapa tempat sangat lemah dan tidak meyakinkan. Hanya pondasi sampai kedalaman tertentu saja yang mampu menopang bangunan, sehingga diputuskan untuk menerapkan pondasi sumuran untuk keseluruhan bangunan.

Total, ada 30 pondasi sumuran, yang masing-masing terbukti mampu menahan beban 120 ton, sementara biasanya hanya mampu menahan beban 100 ton. “(Pondasi) tersebut menciptakan keseluruhan yang kokoh sehingga membuat bangunan tersebut tahan terhadap gempa bumi,” sambung Sumatra-Bode.

Gedung DJB Padang memiliki dinding rongga yang berfungsi sebagai lapisan isolasi yang menyejukkan hawa panas. Di beberapa bagian, ada ceruk yang dimanfaatkan sebagai lemari yang menempel pada dinding; dengan demikian tidak perlu diperlukan lemari terpisah yang ukurannya bermacam-macam.

Atap bangunan terbuat dari genteng yang dilapisi glazur. Genteng ini dipesan dari Belanda, begitu pula tembaga pada dormer, kaca patri, tegel sejenis granit untuk lantai, serta marmer dan keramik untuk tangga dan ruang pertemuan untuk umum. Adapun bahan lainnya berasal dari Indonesia, seperti  2.600 drum semen portland yang disuplai oleh pabrik Semen Padang.

Pada puncak atapnya, diberi semacam kubah kecil (semacam dormer) yang diangkat sehingga terdapat ruang untuk saluran udara. Kubah ini berbentuk mirip seperti topi ember (bucket hat). Selain alasan fungsional, keberadaannya menambah estetik bangunan.

Pintu masuk bangunan terdapat di bagian tengah yang diberi kanopi rendah sehingga membentuk porch. Kanopi ditopang oleh empat tiang berpelipit keramik hijau dengan motif sulur melingkari bulatan. Inskripsi asli bangunan dulunya terdapat di kiri dan kanan tangga di pintu masuk, tetapi sekarang sudah hilang dan diganti baru.

Lampiran Gambar
Sisi samping Gedung DJB Padang. [Foto: Rahmat Irfan Denas]

Jendela menjadi elemen yang dominan pada gedung DJB Padang secara visual, meskipun memiliki ukuran ramping. Bentuknya sederhana yakni persegi empat dengan bingkai terbuat kayu. Jendela ditaruh pada dinding yang diceruk ke dalam dan di dalamnya diberi jeruji besi. Setiap ceruk dipasang dua bingkai jendela kayu berorientasi vertikal (kecuali di bagian atas kanopi yang hanya berupa jendela lepas).

Jendela ceruk terdapat di sekeliling dinding. Di bagian fasad, terdapat sembilan: masing-masing terdiri dari tiga rangkaian di kiri, tengah, dan kanan. Selebihnya di bagian samping dan belakang, masing-masing terdapat sepuluh dengan rangkaian 2-4-4-2.

Selain jendela dan dormer, ada lubang-lubang ventilasi yang memungkinkan terjadinya sirkulasi udara. Lubang ventilasi terdapat pada bagian bawah dan atas di antara jendela ceruk (kecuali di bagian atas kanopi). Pada bagian bawah, bentuknya segi enam pipih. Adapun bagian atas berbentuk seolah pita berdiri. Keseluruhan lubang ventilasi memiliki dimensi kecil demi alasan keamanan.

Upacara Peresmian

Peresmian gedung DJB Padang dirayakan dengan upacara yang meriah dihadiri 150 undangan pada 12 Januari 1925, sebagaimana dilaporkan Atena hari yang sama. Mereka berkumpul di ruang aula yang dipenuhi dengan karangan bunga.

Sejumlah pejabat dan tokoh penting hadir saat itu, di antaranya Kepala Cabang DJB F.H. Westerling, Presiden Kamar Dagang Winkelman, Arthur Fermont dari biro arsitek, Asisten Residen W.A.​​​​C. Whitlau,  Sekretaris Daerah Berhitoe, dan Ketua Persatuan Dagang Padang Veth.

Westerling dalam sambutanya menyebut gedung DJB Padang sebagai salah satu kantor cabang DJB yang paling megah. Dengan perasaan terharu, ia mengenang orang yang telah banyak terlibat dalam pekerjaan membangun bangunan ini tanpa pernah melihat hasilnya, yakni P.A. De Graaf.

“Dengan selesainya kantor DJB di Padang, maka untuk sementara seluruh pembangunan kantor DJB tuntas sudah, dengan pengecualian di Batavia,” ujar Westerling.

Sementara itu, Winkelman memberi tinjauan historis tentang perbankan di Hindia Belanda. Ia mengatakan, Pantai Barat Sumatra masih membutuhkan banyak uang sehingga mengandalkan keberadaan DJB.

Selanjutnya, maju ke depan Arthur Fermont yang menjelaskan sekilas tentang konstruksi. Ia menyampaikan apresiasi kepada Roestenburg yang melanjutkan kerja De Graaf untuk memastikan konstruksi dan pondasi dikerjakan dengan sempurna.

“(Kami) berharap mereka yang kelak bekerja di gedung ini di masa depan akan merasa nyaman,” tutur Fermont.

Ketua Persatuan Dagang Padang Veth menyampaikan harapannya bahwa gedung DJB Padang yang modern akan memicu perusahaan perdagangan lain untuk membangun gedung perkantoran baru di Handelskade.

Usai sambutan, Westerling mengajak undangan untuk berkeliling gedung baru. Setelah berkeliling, para tamu berkumpul lagi di aula, menikmati alunan musik dan prasmanan. “Itu adalah sebuah pesta yang luar biasa, yang akan selalu dikenang oleh banyak orang,” tutup warta dari Sumatra-Bode.

Dengan kepindahan operasional ke gedung baru, seperti yang dilaporkan dalam Sumatera Bode edisi 24 Januari 1928, gedung lama DJB dialihkan peruntukannya sebagai Kantor Perbendaharaan Negara Padang.

Tata Ruang dan Keamanan Berlapis

Lampiran Gambar
Suasana lantai utama DJB Padang saat pameran Festival Muaro Tempoe Doeloe pada 19-21 April 2024. [Foto: Rahmat Irfan Denas]

Lantai utama DJB Padang terdiri dari beberapa ruang. Menyambut ujung tangga masuk, terdapat aula yang langsung terhubung dengan ruang kasir (atau kassierderij) untuk melayani para nasabah.

Ruang kepala cabang terdapat di sisi kiri aula. Sebanyak 11 orang pimpinan DJB berkebangsaan Belanda pernah berkantor di sini.  Di sisi kanan, terdapat ruang pertemuan tempat penerimaan tamu istimewa.

Setiap ruang dibatasi oleh partisi kayu. Partisi tersebut memiliki pintu berdaun ganda di tengah dan dihiasi dengan kaca patri yang memberikan estetika pada interior bangunan.

Lantai dasar dapat dicapai dari lantai utama melalui tangga beton bertulang dengan railing tiang-tiang kayu atau melalui sebuah pintu darurat. Di sini, terdapat ruang ekspedisi dan kluis yang terisolasi dan tertutup bagi siapapun, kecuali para kasir.

Ruang ekspedisi digunakan sebagai tempat mempersiapkan dan mencatat barang yang akan dikirim keluar, sekaligus menerima dan mencatat barang yang akan masuk untuk disortir dan didistribusikan kepada masing-masing bagian.

Lampiran Gambar
Pintu besi tebal buatan Jerman di ruang khazanah DJB Padang. [Foto: Rahmat Irfan Denas]

Adapun kluis atau ruang khazanah merupakan tempat penyimpanan barang-barang berharga. Ruang ini memiliki lorong di sekelilingnya. Akses masuk satu-satunya melalui pintu besi yang merupakan buatan Jerman, sebagaimana tertulis di daun pintunya, Panzer Aktiengesellschaft Berlin 51649.

Kluis merupakan ruang kedap udara tanpa ventilasi. Siapapun yang terjebak di dalam akan mati lemas karena kekurangan oksigen. .

Untuk menambah keamanan kluis, tepat di bawahnya dibuat suatu ruangan bawah tanah yang difungsikan sebagai kolam air sehingga siapapun akan berpikir dua kali jika ingin mencuri dengan menggali dari bawah.

Ketika DJB beralih menjadi BI tahun 1953, fungsi khazanah masih tetap dipertahankan yakni menyimpan uang kiriman dari Kantor Pusat maupun uang setoran dari bank-bank di sekitar Padang.

Mengingat fungsi vitalnya, lantai dasar gedung DJB Padang memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Hal itu bisa diketahui dari ketebalan dinding yang mencapai 60 cm dan setiap lubang ventilasi dipasangi teralis. Penerapan keamanan berlapis tentunya untuk menjamin keamanan aset bank.

Pasca-Kemerdekaan dan Menjadi Museum

Lampiran Gambar
Pengunjung melihat foto pimpinan BI dari masa ke masa di Gedung DJB Padang. [Foto: Rahmat Irfan Denas]

Pada 1 Juli 1953, menyusul kemerdekaan Indonesia, fungsi dan operasi DJB di seluruh Indonesia diambil alih oleh BI. Pada saat itu, terdapat 15 kantor cabang BI eks-DJB, yakni Semarang, Surabaya, Padang, Makassar, Cirebon, Solo, Yogyakarta, Pontianak, Medan, Banjarmasin, Badung, Palembang, Manado, Malang, dan Kediri.

Pimpinan Kantor Perwakilan BI Sumatera Barat pertama setelah nasionalisasi masih berkebangsaan Belanda, yaitu D.B. Buys. Barulah pada 1958, BI Sumatera Barat dipimpin oleh anak bangsa, diawali oleh Z.J. Sahusilawane.

BI Sumatera Barat menggunakan eks-DJB Batang Arau untuk operasionalnya selama 50 tahun sampai tahun 1977 ketika gedung baru di Jalan Sudirman selesai dibangun oleh PT Gumarna. Gedung tersebut memiliki luas bangunan 4.300 meter dan berdiri di atas lahan yang dulunya berdiri rumah tua dan kolam renang (zwembad) era kolonial.

Gedung BI Sumatera Barat terdiri dari dua lantai dan dibangun dengan perpaduan antara arsitektur tradisional Minangkabau dan modern. Seniman seni rupa seperti Sunaryo dan Abdul Djalil Pirous yang tergabung dalam Decenta Bandung ikut menggarap dekorasi dan ornamen-ornamen di gedung ini.

Kepindahan BI sejalan dengan perkembangan kota ke arah utara dan kebijakan Gubernur Sumatera Barat Harun Zain yang memusatkan kantor pemerintahan Sumatera Barat di Jalan Sudirman yang mudah diakses dari berbagai arah.

Pada 1998, Pemerintah Kota Padang pada masa kepemimpinan Zuiyen Rais menetapkan gedung lama BI di Batang Arau sebagai cagar budaya lewat SK Wali Kota No. 3 Tahun 1998. Menyusul penetapan tersebut, BI memulai rencana alih fungsi bagunan dengan pekerjaan konservasi.

Konservasi bangunan secara intensif dilakukan sejak tahun 2006 dengan maksud sedapat mungkin mengembalikan bangunan ke kondisi asli saat digunakan. Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dalam laporannya pada 2006 menulis, gedung DJB Padang sudah mengalami beberapa perubahan dari bentuk asli. Di antaranya, pergantian penempatan partisi, perubahan bahan lantai menjadi keramik warna terang, dan kaca patri yang diganti baru. Selain itu, terjadi rembesan air di lantai basement.

Pekerjaan konservasi selesai dilakukan pada 2011 dan sebagai tanda dibuat plakat yang ditandatangani oleh Deputi Gubernur BI Ardhayadi Mitroatmodjo.

Pada 24 Februari 2024, BI Sumatera Barat meresmikan keberadaan gedung eks-DJB Batang Arau sebagai Gedung Memorabilia yang berfungsi museum edukasi seputar sejarah uang, perbankan, dan moneter. Di dalamnya, dipamerkan koleksi numismatik dari masa ke masa, peralatan kantor yang pernah digunakan, foto pimpinan BI sejak era DJB hingga sekarang, dan replika duplikasi emas cadangan devisa.

Baca Juga

HKI Kebut Perbaikan Jalan Lembah Anai, Target Rampung Akhir Juli 2024
HKI Kebut Perbaikan Jalan Lembah Anai, Target Rampung Akhir Juli 2024
Gempa Bumi M3.7 Guncang Bukittinggi
Gempa Bumi M3.7 Guncang Bukittinggi
BNPB Bakal Ledakkan Batuan Material Erupsi Marapi
BNPB Bakal Ledakkan Batuan Material Erupsi Marapi
BNPB Lakukan Survei Udara untuk Mitigasi Bencana Galodo
BNPB Lakukan Survei Udara untuk Mitigasi Bencana Galodo
Masa Tanggap Darurat Bencana Tanah Datar Bakal Diperpanjang
Masa Tanggap Darurat Bencana Tanah Datar Bakal Diperpanjang
Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah meninjau progres pekerjaan di kawasan Lembah Anai pada Kamis (23/5/2024).
Pengerjaan Jalan di Lembah Anai Ditargetkan Tuntas dan Bisa Dilewati 21 Juli 2024