Di balik prosesi sakral seremonial dan gegap gempita gebyar wisuda berbagai kampus, terbersit kecemasan intelektual yang mendalam tentang kualitas akademik sebahagian wisudawan. Latar historis pendidikan mereka umumnya tidak baik-baik saja.
Selain banyak dari mereka produk sekolah menengah di era Covid 19 dengan edukasi yang sangat problematis dan terbatas, mereka juga Gen Z digital native yang tumbuh dan berkembang dalam dunia algoritma dengan seribu satu tantangan individual dan sosial.
Tidak saja kecanduan internet, kelelahan mental, FOMO, sulit bersosialisasi, tetapi juga rentan penyalahgunaan teknologi informasi dalam tugas perkuliahan. AI sebagai mesin simulasi kecerdasan yang sejatinya hanya alat bantu semata, justru telah menggantikan peran akal dalam berfikir. Akibatnya, banyak dari mereka nyaris tidak bisa apa-apa tanpa ChatGPT dan sejenisnya. Dengan mutu yang seperti itu, toga wisuda simbol keagungan ilmu pun dikenakan.
Ironi Studi Gen Z di Era AI
Gen Z yang lahir, tumbuh, dan berkembang di tengah era kemajuan teknologi komunikasi informasi, memang tidak bisa berpisah dari dunia digital. Lantaran sejak dini terbiasa dengan laptop, tablet, dan smartphone, maka ketergantungan mereka pada perangkat itu sangat tinggi. Tidak saja untuk interaksi dan kebutuhan hiburan, aktivitas belajar pun tidak bisa tanpa internet sebagai infrastruktur baru.
Survei APJII 2025 mengungkap generasi ini menempati urutan teratas pemakai AI sebesar 43,7% (ugm.ac.id/5/11/25). Bahkan, dalam catatan goodstats.id (6/10/25) berdasar riset Global Student Survey 2025, terbukti empat dari lima mahasiswa global telah memakai GenAI untuk studi. Menariknya, dari 15 negara pengguna AI tertinggi, Indonesia ternyata berada di posisi puncak hingga mencapai 95%.
Data di atas sangat ambivalen dan paradoks, menggembirakan sekaligus juga mencemaskan. Di mata guru besar dan pakar AI UGM, Ridi Ferdiana, peningkatan penggunaan AI di kalangan anak muda adalah keniscayaan. Sisi positif menurutnya dapat merubah cara belajar dan mengembangkan kreativitas, terlebih teknologi generative AI yang dapat menjadi teman belajar dalam memahami konsep.
Meski begitu, penggunaan berlebih tanpa verifikasi beresiko ketergantungan, bahkan muncul underload dengan resiko menurunnya kemampuan critical thinking, daya ingat, serta efek brain rot karena malas berfikir lantaran otak jarang diasah.
Tragisnya, jika bagi generasi X dan baby boomers teknologi AI dipandang sebatas alat bantu kerja, tetapi bagi Gen Z, menurut Ridi justru bagian integral dan menjadi disruption yang mengubah kehidupan mereka (ugm.ac.id/5/11/25).
Penyalahgunaan AI di dunia akademik ternyata amat mengkhawatirkan. Riset Jack Brazel, petinggi Turnitin untuk Asia Tenggara, mengungkap 95% responden meyakini adanya praktek itu di institusi pendidikan (perpus.uinjkt.ac.id/24/4/25). Kadek Ayu Sumastri, seorang mahasiswa menggambarkan penyalahgunaan AI di dunia kampus lewat tulisannya “Gen Z dan Jebakan AI: Ketika Kecerdasan Buatan Jadi Teman Curang” (ukm-visi.undiksha.ac.id).
Menurutnya, aplikasi dan platform berbasis AI di dunia pendidikan, dapat menjadi solusi instan banyak masalah yang dihadapi Gen Z, semisal asisten virtual yang bisa menjawab pertanyaan hingga menulis esai. Namun, banyak pula yang tidak menyadari kecanggihan ini potensial disalahgunakan, salah satunya untuk “curang”.
ChatGPT atau aplikas lain misalnya, telah digunakan mahasiswa untuk menjawab pertanyaan atau tugas. Dengan hanya memberi instruksi tertentu, secara cepat dihasilkan jawaban yang jelas dan ringkas. Bahkan ironisnya menurut Kadek, jawaban pun hampir 90% sesuai dengan materi.
Antisipasi Kampus dan Dunia Kerja
Meski tidak bisa digeneralisisr, tetapi gambaran kualitas akademik sebagian wisudawan Gen Z di atas, bisa jadi belum mewakili realita sesungguhnya yang lebih memprihatinkan lagi. Tidak saja makalah, PPT presentasi, jawaban UTS dan UAS, tetapi juga proposal hingga skripsi utuh dibuat tanpa proses dan jerih payah berfikir, tetapi diselesaikan AI dengan berbagai jenis dan fitur aplikasi.
Tragedi akademik intelektual ini masih terus berlanjut dengan akan hadirnya sejumlah jenis AI yang jauh lebih “cerdas”. Ke depan, diprediksi AI akan berubah dari sekedar alat menjadi agen yang mampu menulis laporan, menganalisis data, membuat keputusan sederhana, bahkan mengelola proyek kecil.
AI akan lebih personal, dari peran “asisten” menjadi “rekan kerja” bahkan memiliki kesadaran mandiri, penalaran logis, hingga bisa membaca emosi dan memahami konteks sosial.
Apa yang harus dilakukan kampus dan dunia kerja menyikapi kondisi ini? Tentu saja respon yang diberikan tidak bisa insidental dan parsial. Kampus harus berani menegaskan ulang standar integritas akademik, termasuk pengaturan penggunaan AI secara transparan dan bertanggung jawab.
Evaluasi perlu bergeser dari sekadar produk tertulis menuju proses berpikir melalui dialog, ujian lisan, dan argumentasi gagasan langsung. Dosen perlu meningkatkan peran, dari sekadar transformer pengetahuan menjadi pembimbing intelektual yang berproses. Jika kecepatan AI telah menggantikan kedalaman ilmu, dan efisiensi mengorbankan pergulatan nalar, maka pendidikan kehilangan kemampuan rasional reflektif yang justru sebagai fondasi utamanya.
Meski lulus memenuhi standar formal, tetapi secara substantif di antara mereka belum memiliki kedalaman berpikir. Skripsi pun bisa berubah menjadi produk administratif, yang meski rapi tetapi miskin refleksi.
Dalam konteks seperti ini kampus mesti tidak cukup sekedar membacanya sebagai gejala krisis intelektual, tetapi juga dekadensi nilai, adab, moral, bahkan spritual. Harus diingat bahwa pendidikan bukan sekadar memproduk manusia cerdas, tetapi berintegritas agar tidak potensial melahirkan kerusakan.
Fenomena oknum mahasiswa yang terbiasa mengandalkan kecerdasan buatan dalam proses akademik, tidak berhenti di kampus, tetapi ikut terbawa ke ruang profesi. Karena itu, dunia kerja tidak bisa lagi hanya mengandalkan ijazah sebagai indikator kompetensi.
Seleksi harus lebih menekankan kemampuan berfikir, merespon, berargumen, menganalisis, serta uji integritas dan resiliensi menghadapi realitas. Dunia kerja perlu melakukan pergeseran mendasar dari degree-based hiring menuju skills-based hiring.
Rekrutmen pun tidak lagi cukup bertumpu pada ijazah sebagai kualifikasi akademik formal, tetapi harus menguji kemampuan praktis. Model studi kasus, simulasi kerja, dan problem solving langsung menjadi jauh lebih relevan dibanding hanya sekedar melihat transkrip nilai.
Dengan begitu, setidaknya kualitas wisudawan bisa diuji, apakah sudah sebanding dengan toga atau hanya sekedar produk algoritma. Wallahua’lam
Penulis: Dr. Faisal Zaini Dahlan, M.Ag. | Dosen UIN Imam Bonjol Padang






