Gen-Z Moderat Tangkal Ekstremisme di Ruang Siber

Penulis: Muhammad Fajar*

“Moderasi beragama tidak akan terwujud dengan upaya institusi saja. Kita perlu bergandeng tangan untuk mewujudkan moderasi beragama di NKRI.” (Prof. Dr. Oman Fathurahman, Ketua Pokja Moderasi Beragama Kemenag RI)

Berdasarkan data APJII pengguna internet di Indonesia kini mencapai 202 juta jiwa. Databook Statistika melaporkan, 30,3% di antaranya didominasi generasi Z Realita pun semakin paradoks apabila menengok survei Digital Civility Index yang diinisiasi Microsoft.

Hasilnya, tingkat kesopanan warganet “negeri ramah-tamah” ini terperosok di ranking terbawah Asia Tenggara. Potret di atas menunjukkan betapa nasib generasi muda bangsa kini berada pada titik nadir yang mengkhawatirkan. 

Menyikapi problematika di atas, wacana moderasi beragama yang belakangan lantang disuarakan Kemenag RI sejatinya dapat dijadikan solusi. Oleh karena itu, diperlukan langkah cepat dan berpandangan ke depan untuk mempersiapkan pemimpin yang mampu mempromosikan moderasi agama di dunia digital.

Al-Quran menekankan larangan terhadap ekstremisme agama dan menyerukan umat manusia untuk menjadi moderat dalam praktek keagamaannya. 

Jerat Ekstremisme di Tengah Kecanggihan Ruang Siber 
Teknologi merupakan realitas yang bebas nilai. Filosofi ini barangkali juga senada dengan ungkapan “man behind the gun”. Maknanya, efek dari setiap inovasi mutlak menjadi tanggung jawab manusia selaku pemakainyaGagasan tersebut melahirkan media siber yang sebutannya diambil dari kata cyber (dunia maya) dan medium (perantara). 

Kendati ekstremisme dapat diakibatkan melalui berbagai faktor, isu agama masih menjadi salah satu trigerring factor paling dominan di ruang siber. Akibatnya, generasi muda menjadi terbiasa dengan konten intoleran, termasuk penghinaan terhadap ras dan agama lain, bahkan menggugat ideologi negara.

Melihat penyebaran ekstremisme yang kini merambat melalui peranti modern, generasi Z semula dianggap paling minim resiko. Celakanya, sebagai komunitas paling aktif di jagat internet, ketahanan generasi Z terhadap ideologi ekstrem justru berada dalam posisi rentan. Realita ini mengisyaratkan perlunya upaya mengarusutamakan moderasi beragama di cyberspace. 

Al-Quran, Moderasi Beragama dan Pentingnya Generasi Moderat
Belajar dari sejarah, sebenarnya ada banyak catatan sirah nabawiyah yang mengisyaratkan sikap kontra Nabi SAW terhadap perilaku ekstrem. Atas alasan itu W. Montgomery Watt, seorang tokoh orientalis Barat bahkan menyebut Rasulullah sebagai sosok penengah dan juru damai. Bukti ikonik lainnya juga ditunjukkan lewat terbitnya Konstitusi Madinah. Gagasan yang sangat moderat sangat selaras dengan firman Allah QS. al-Baqarah 143.

Menyikapi penyebaran ekstremisme masa kini, umat Islam tak lagi bisa berpaling dari besarnya pengaruh media siber. Perkembangan teknologi tidak dapat dinafikan, karena itu beradaptasi adalah satu-satunya pilihan. Karenanya diperlukan kontribusi semua pihak untuk membanjiri ranah virtual dengan semangat moderasi beragama.

Dalam konteks budaya, signifikansi peran generasi Z dalam mengobarkan moderasi beragama sebetulnya selaras dengan nilai kearifan lokal. Jika dikaitkan dengan konteks persoalan terkini, maka generasi Z sangat ideal mengambil peran sebagai vital tersebut. Isyarat pentingnya generasi yang menyuarakan kebenaran, terdapat dalam firman Allah QS. Al- A’raf 181.

Jika fokus pada peran generasi muda, konteks ayat ini sejalan dengan QS. Al-Kahfi ayat 13, yang menyatakan: "mereka pemuda yang beriman pada Tuhan mereka, maka kami beri tambahan petunjuk."

Dengan kerangka epistemologi Abid Al-Jabiri, konteks utama kisah tersebut adalah pemuda yang beriman dan berilmu. Berdasarkan elaborasi pesan al-Quran terhadap problem sosial di atas, maka setidaknya ada dua solusi konseptual untuk mewujudkan moderasi beragama di ruang siber. 

Membangun Gen-Z Moderat Tangkal Ekstremisme di Ruang Siber
Teori pembentukan karakter Thomas Lickona menyarankan tiga langkah utama untuk membentuk generasi Z sebagai agen moderasi beragama: pertama, memperkenalkan nilai-nilai moderasi sejak dini; kedua, membiasakan pandangan moderat dalam bermasyarakat; dan ketiga, bertindak dan berkreasi untuk mempromosikan konten moderasi beragama di ruang siber.

Pemerintah harus meluaskan Gerakan Literasi Digital untuk memasukkan moderasi beragama dalam modul "Siberkreasi" dan menggandeng influencer serta content creator untuk kampanye kreatif. Keluarga juga perlu memperkenalkan nilai-nilai moderasi sejak dini dan mengawasi akses gawai anak-anak untuk mencegah paparan konten ekstremisme.

Pendidikan formal, terutama sekolah dan perguruan tinggi, memegang peranan penting dalam tahap "loving" (pembiasaan). Dengan mayoritas generasi Z menempuh pendidikan hingga S1, institusi pendidikan perlu menciptakan lingkungan yang mendukung moderasi. Program seperti 'rumah moderasi PTKIN' dan 'kampus moderat' harus didorong secara lebih luas. Workshop untuk menciptakan konten positif menggunakan media digital.

Hindari melontarkan dark joke yang berpotensi menyinggung kelompok, ras, maupun agama lain. Hal ini karena secara teknis, mekanisme media sosial seperti Youtube maupun Instagram akan semakin meluaskan penyebaran konten jika memiliki banyak penyuka dan pengomentar. 

Sesuai imbauan Kominfo, apabila menemukan konten yang terindikasi intoleransi dan ekstremisme di ruang siber, segera laporkan dengan mengeklik report di platform terkait. 

Peran generasi Z dalam mengatasi ekstremisme di ruang siber saat ini menjadi instrumen vital. Membiarkan mereka terjerumus dalam doktrin ekstrem tak ubahnya menggadaikan nasib Indonesia di hari depan. Generasi Z nusantara tidak boleh tercerabut dari nilai agama begitu pula dengan komitmen bernegara.

Semua kalangan wajib turut berkontribusi menciptakan generasi Z moderat. Upaya tersebut demi mewujudkan masa depan damai di negara yang dibangun dan disatukan oleh tekad perjuangan para pahlawan.

*Alumni SLC 2024 Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Tag:

Baca Juga

Sisi Lain Pemilu 2024 ala Generasi milenial dan Gen Z
Sisi Lain Pemilu 2024 ala Generasi milenial dan Gen Z
Stunting masih menjadi ancaman bagi Indonesia. Hal ini dikarenakan stunting tidak hanya membuat anak bertubuh pendek, tetapi juga menurunkan
Kemenkominfo Ajak Gen Z Ubah Perilaku Guna Cegah Stunting Sejak Dini
Stigma Kulit Putih Sebagai Kriteria Kecantikan di Media Sosial
Stigma Kulit Putih Sebagai Kriteria Kecantikan di Media Sosial
Mengapa Ada Virus Judi Online ?
Mengapa Ada Virus Judi Online ?
Mengurai Streotip Fakta dan Mitos tentang Gaya Bahasa Wanita
Mengurai Streotip Fakta dan Mitos tentang Gaya Bahasa Wanita
Kesantunan Berbahasa dalam Penyelesaian Konflik: Perbedaan Pendekatan antara Pria dan Wanita
Kesantunan Berbahasa dalam Penyelesaian Konflik: Perbedaan Pendekatan antara Pria dan Wanita