Menjajaki Transisi Energi Swadaya Warga di Kaki Bukit Barisan

PLMTH di Jorong Muaro Busuak, Kabupaten Solok, Sumbar sebagai sumber energi listrik swadaya warga

PLMTH di Jorong Muaro Busuak, Kabupaten Solok, Sumbar sebagai sumber energi listrik swadaya warga

“Gabak di hulu tando ka hujan, cewang di langik tando ka paneh.” adalah falsafah lokal Minangkabau sebagai penanda cuaca. Maknanya, awan gelap di hulu menandakan akan turun hujan, dan awan tipis di langit menandakan cerah akan datang. 

Di Jorong Muaro Busuak, Nagari Koto Hilalang Kabupaten Solok, Sumatera Barat pepatah itu kini bukan lagi sekadar kearifan lisan. Saban kali langit di arah hulu menghitam, aktivitas masyarakat di sawah dan ladang mendadak senyap.

Para petani bergegas pulang lebih awal, menyandang cangkul seperti beberapa hari terakhir hujan kerap turun di Jorong Muaro Busuak dengan intensitas cukup tinggi. Bahkan air hujan yang turun menyebabkan aliran Sungai Batang Gawan Kaciak yang membentang di nagari tersebut meluap hingga pemukiman warga.

Naas, hujan ekstrem akibat siklon tropis di wilayah Sumatra memicu banjir bandang di Sumatra Barat, termasuk di Muaro Busuak Kabupaten Solok. 

Bencana ini meluluhlantakan daerah setempat, sejumlah rumah dan infrastruktur publik rusak. Salah satunya, bendungan air untuk menggerakkan turbin PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) yang ada di Jorong Muaro Busuak.

PLTMH merupakan sumber energi listrik  Jorong Muaro Busuak. Kurun waktu 17 tahun terakhir, desa tersebut sudah mandiri secara energi tanpa harus bergantung ke PLN.

Namun, akibat banjir, PLTMH sempat tidak bisa beroperasional lantaran arus air yang melimpah setelah bendungan rusak.

“Ketika itu terlihat pasir menumpuk di dalam pipa turbin, batang kayu dan daun pohon menutupi bak,” kata Ivan, operator PLTMH Jorong Muaro Busuak Senin, 5 Januari 2026.

Sejak curah hujan kian meningkat, Ivan bersama warga lainnya rutin berjaga di PLTMH untuk mewaspadai luapan air sungai yang akan berdampak pada operasional PLTMH.

Walakin, saat galodo atau banjir bandang melintas di Sungai Batang Gawan Kaciak warga tidak bisa mendekati rumah turbin PLTMH. Hari itu, listrik dari PLTMH padam setelah diterjang banjir bandang.

Setelah air sungai mulai surut, Ivan bersama pengurus PLTMH membersihkan material banjir seperti kayu dan lumpur yang tersisa di sekitar bak penampung. Warga juga segera membuat bendungan darurat agar PLTMH bisa kembali mengaliri listrik ke rumah masyarakat. 

Ivan menyebutkan mesin PLTMH tidak mengalami kerusakan yang cukup parah sehingga masih bisa berfungsi setelah bagian dalam pipa pada turbin dibersihkan.

“Mesin sempat mati sekitar enam jam, dan setelah dibersihkan bagian dalam pipa, mesin kembali hidup,” katanya.

Energi Mandiri Ala Swadaya Warga

Sebelum sore berganti gelap, rumah Emi, warga Jorong Muaro Busuak mulai diterangi bolam putih. Di beranda, Emi bersama eteknya sibuk mengumpulkan nasi basi untuk pakan ternak. 

Lampu di rumah Emi dan warga di Jorong Muaro Busuak menyala tidak datang dari listrik negara, melainkan melalui turbin Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang berdiri kokoh di aliran sungai Batang Gawan Kaciak, sejak tahun 2009. Mesin ini bersembunyi sekitar 1,5 Kilometer dari Kantor Wali Nagari Koto Hilalang.

Sudah belasan tahun, warga Jorong Muaro Busuak tidak lagi mencetak rekening PLN setiap bulan. Namun, warga cukup menunggu pengurus PLTMH datang ke rumah untuk meminta iuran wajib sebesar Rp45.000 per bulan sebagai biaya perawatan dan operasional PLTMH. 

“Walaupun lampu siang malam hidup, bayarnya tetap 45 ribu rupiah per bulan,” ujar Emi sambil menunjuk lampu di ruang tamunya. 

Saat ini tercatat, PLTMH telah menjadi sumber energi listrik untuk puluhan rumah warga yang terdiri dari 65 kepala keluarga. Sejak PLTMH itu beroperasi, suara gesekan gundar gilas pakaian ibu-ibu di pinggir sungai kini digantikan oleh deru mesin cuci di kamar mandi. Bahkan, jasa jasa laundry mulai bermunculan sebagai sumber pendapatan baru masyarakat.

Lampiran Gambar

“Manfaatnya banyak, kalau mau mencuci kain, sudah bisa pakai mesin cuci tidak lagi harus ke sungai,” kata Emi. 

Gerakan Akar Rumput Membangun Sumber Energi

Ketimpangan energi  antar jorong di Nagari Koto Hilalang masih menggeruti masyarakat. Sebelum 2009 Jorong Muaro Busuak masih terisolasi dari akses listrik, penyebabnya karena jorong itu terletak di ujung wilayah administrasi pemerintah yang langsung berbatasan dengan Bukit Barisan.

“Dulu sebelum adanya PLTMH, kami pakai lampu togok sebagai penerangan di malam hari. Sedangkan jorong yang lain telah pakai listrik dari PLN,” kata Emi.

Pada 2009 warga Muaro Busuak mulai musyawarah untuk mengusulkan pengadaan listrik. Warga berencana akan membangunan Pembangkit Listrik Mikro Hidro dengan memanfaatkan aliran Sungai Batang Gawan Kaciak.

Lampiran Gambar

Pembangunan PLTMH ini bisa terwujud lewat program PNPM atau Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri pada 2009.

Ivan mengingat betul proses pengerjaan itu dilakukan secara bersama-sama di tengah keterbatasan fasilitas yang ada. Bahkan pipa-pipa besi untuk turbin PLTMH diangkut ke dalam Jorong Muaro Busuak diangkut dengan bantuan tenaga kerbau lantaran alat berat tidak bisa masuk ke daerah itu. 

 “Pembangunan pipa saluran airnya dikerjakan dengan gotong royong. Pipa itu dibawa dengan bantuan kerbau ke tempat pembangunan turbin di tepi sungai,” ujar Ivan. 

Masyarakat secara gotong royong berjibaku membangun bak penampung dan rumah turbin. Warga Jorong Muaro Busuak berbagi tenaga, sebagian mengangkut material, sebagian lagi menggali saluran air dengan cangkul dan tenaga manual.

Para kaum perempuan juga turut ikut serta dalam pembangunan PLTMH dengan membawa pasir sejauh 50 meter untuk pembangunan PLTMH. 

Kurang lebih 40 hari proses pembangunan PLTMH rampung. Listrik yang berkapasitas 12 kva mulai dinikmati warga Jorong Muaro Busuak yang selama ini belum dialiri listrik negara.

65 kepala keluarga merasakan kehadiran PLTMH itu. Rata-rata setiap rumah menerima 150 watt. Pada awalnya listrik dari PLTMH hanya menyala selama 12 jam sehari, mulai dari sore hingga esok pagi.

Kondisi dialami oleh masyarakat lebih dari 10 tahun yang hanya bisa menikmati aliran listrik setengah hari. Baru pada 2021 kemarin, masyarakat bisa mendapatkan aliran listrik 24 jam sehari setelah masyarakat mengganti kapasitas mesin turbin menjadi 42 KVA. 

Sementara itu, untuk biaya perawatan mesin serta operasional pengurus PLTMH meminta iuran kepada kepala keluarga. Awalnya, dulu Rp20.000 per bulan, namun seiring berjalannya waktu, iuran naik Rp35.000 hingga Rp45.000 per bulannya. 

“Iuran ini untuk perawatan mengganti lahar turbin, yang paling sering tali pambel. Itu bisa lima kali dalam setahun ganti,” sebutnya.

Rumah pembangkit PLTMH berada di pinggiran Sungai Batang Gawan Kaciak di sela lereng Bukit Barisan sehingga harus berhadap dengan risiko alam seperti banjir dari sungai yang meluap.

Lampiran Gambar

Dilema Warga Beralih ke Listrik Negara

Beberapa waktu terakhir warga Jorong Muaro Busuak mendengar isu PLN sebagai perusahaan listrik negara akan masuk ke desa tersebut untuk menggantikan PLTMH. 

Isu itu semakin santer terdengar, sejak PLTMH mulai mengalami kerusakan, terutama setelah diterjang banjir bandang November 2025 lalu.

“Kondisi sekarang bak penampungan airnya sudah mulai retak dan bendungan hancur akibat dampak banjir kemarin. Pemerintah Kabupaten Solok sudah turun ke lapangan,” kata Wali Nagari Koto Hilalang, Yuli Hendra.

Yuli Hendra mengakui muncul pro kontra di tengah masyarakat terkait rencana PLN masuk ke Jorong Muaro Busuak. Murahnya biaya iuran PLTMH menjadi alasan utama bagi masyarakat enggan beralih sepenuhnya ke layanan PLN.

“Sebagian masyarakat menerima tawaran PLN tersebut, tapi sebagian lagi masih bertahan karena biaya PLTMH ini sangat murah dan terjangkau oleh mereka. Dengan tarif listrik PLN sekarang, keberadaan PLTMH masih sangat diinginkan oleh masyarakat,” tambahnya.

Emi warga Jorong Muaro Busuak mengaku masih ingin bertahan menggunakan PLTMH. Tapi disisi lain, ia dihantui kekhawatiran akan umur mesin PLTMH apa bisa tetap bertahan. “Kami tidak pernah tahu kapan mesinnya akan hancur atau rusak total di kemudian hari,” kata perempuan 60 tahun ini.

Warga lainnya, Azmi warga Jorong Muaro Busuak mengaku ingin beralih ke listrik PLN, lantaran listrik PLTMH kini tak lagi sanggup mengejar kebutuhan listrik di  rumahnya.

“Pemakaian kami sangat terbatas, arusnya sering tidak stabil, dan itu taruhannya barang elektronik, banyak yang rusak karena tegangan yang naik turun,” ungkap ibu dari 3 anak itu.

Menurut Wali Nagari Koto Hilalang Yuli Hendra memilih PLTMH bukan sekadar ingin mempertahankan mesin penghasil listrik yang memanfaatkan arus Sungai Batang Kaciak di nagarinya.

“PLTMH di Jorong Muaro Busuak adalah bukti keberhasilan pemberdayaan masyarakat sejak program PNPM Mandiri tahun 2009 silam,” kata Yuli Hendra.

Upaya merawat pembangkit listrik mandiri  milik jorong itu menurutnya  juga punya kendala pada biaya perawatan dan harga suku cadang yang mahal.

“Kami memohon bantuan kepada pemerintah atau pihak terkait untuk membantu kami merawat PLTMH ini, selain itu kami ingin sumber daya, keahlian, dan kearifan lokal yang ada di masyarakat ini tetap terjaga,” katanya.

Wali Nagari berharap ada sinergi yang membuat keberlangsungan energi listrik bersih dari PLTMH di Muaro Busuak tetap terjamin. Ia mendambakan dukungan tenaga dan biaya agar aset swadaya ini tidak mati begitu saja.

“Harapan kami masyarakat tetap memberdayakan dan memelihara PLTMH ini sehingga dapat selalu kita gunakan secara berkelanjutan,” ujarnya. (fx)

*Liputan ini didukung oleh program Fellowship Transisi Energi Bersih AJI Padang dan Purpose

Baca Juga

Ketua DPD KSPSI Sumbar, Ruli Eka Putra. (Foto: Buliza Rahmat/Langgam.id)
Gelombang Protes Buruh Sumbar: Upah Dipotong, Anggaran BPJS Diduga Digelapkan Perusahaan
Sejumlah warga menyeberangi sungai Batang Anai mengunakan rakit. (Foto: Camat 2x11 Kayu Tanam)
Jembatan Darurat Rusak Lagi, Putus Akses 3 Nagari di Padang Pariaman hingga Menyeberang Pakai Rakit
Puluhan massa buruh menggelar aksi damai di Kantor Gubernur Sumbar, Senin (4/5/2026). Foto: Buliza Rahmat/Langgam.id
Gubernur Sumbar Tak Muncul, Buruh Ancam Gelombang Demo Besar!
Berita Pessel - berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Seorang tukang ojek ditangkap diduga melakukan pencabulan anak di bawah umur
Paman di Tanah Datar Cabuli dan Perkosa Keponakan: Tangan Diikat, Mulut Dibekap
Nini Mushani, calon jemaah haji melayani suaminya Syafei Nawa’an. Foto Humas Kemenhaj.
Penantian 14 Tahun Berbuah Haru, Pasutri Asal Padang Akhirnya Berangkat Haji
Petugas Damkar Padang evakuasi jari tangan karyawan yang terjepit mesin giling. Foto: Dok. Damkar Padang
Jari Karyawan Warung Kopi di Padang Terjepit Mesin Giling Daging, Tiba-tiba Pusing Saat Bekerja