Langgam.id– Pemerintah Kota Padang membuka opsi relokasi bagi warga Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji yang tinggal di kawasan rawan bencana. Relokasi dapat dilakukan menggunakan lahan milik warga maupun lokasi yang telah disiapkan pemerintah.
“Kalau memang ada tanahnya, di tanah itu kita akan bangunkan rumah. Kalau tidak ada tanahnya, kita bangunkan di tiga lokasi yang sudah kita tetapkan,” ujar Wali Kota Padang Fadly Amran, Minggu (9/8/2026).
Fadly juga meminta warga mempertimbangkan keselamatan, apabila tempat tinggal mereka berada di kawasan yang berulang kali terdampak bencana.
“Jangan paksakan tinggal kalau memang daerah tersebut memang daerah yang rawan. Sudah berkali-kali kena,” katanya.
Lanjutnya, warga yang memiliki lahan untuk pembangunan Huntap dapat menyampaikannya kepada pemerintah. Pemko Padang selanjutnya akan berkoordinasi dengan BNPB terkait pembangunan hunian tersebut.
“Untuk siapa pun masyarakat kita di mana pun yang sudah terdampak dan merasa daerahnya rawan, bisa kita relokasi,” ujarnya.
Salah seorang warga Lapau Mangi, Darmalis (52), mengatakan rumahnya telah tiga kali terdampak banjir. Banjir terjadi pada akhir 2025, Mei 2026, dan terakhir pada Senin (03/08/2026).
Meski rumahnya tergolong rusak ringan, Darmalis menilai lokasi tersebut tidak lagi aman untuk ditempati. Rumahnya berjarak sekitar 50 hingga 70 meter dari aliran sungai.
Ia berharap keluarganya dan warga terdampak lainnya dapat dipindahkan ke Huntap di sekitar Lubuk Tampurung. Lokasi yang diharapkannya berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya saat ini. Lahan tersebut merupakan tanah pusako suku Malayu yang direncanakan dapat digunakan untuk pembangunan Huntap bagi warga terdampak.
Sama halnya dengan Novia Safitri (33) mengatakan keluarganya berharap dapat membangun rumah di lahan yang mereka miliki. Karena lokasi tersebut berada di tempat yang lebih tinggi sehingga dinilai lebih aman dari ancaman banjir.
“Kami ada tanah di tempat yang tinggi. Kami sudah sampaikan ke pemerintah kota,,” katanya.
Novia mengatakan kondisi rumahnya saat ini sudah rusak dan tidak lagi layak dihuni. Ia juga mempertimbangkan jarak, apabila keluarganya harus menempati huntara di Lubuk Buaya.
Ia menyebut rumahnya telah tiga kali terdampak banjir bandang. Kondisi tersebut membuat keluarganya berharap dapat segera dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
“Rumah sudah tiga kali dimasuki banjir bandang. Sekarang sebagian rumah sudah hanyut,” katanya.






