Langgam.id – Higgs Games Island (HGI) dan Polda Sumatera Barat (Sumbar), menggelar seminar edukatif bertajuk “terjebak di balik layar: psikologi dan dampak sosial aktivitas digital berisiko bagi generasi muda” di Ballroom Hotel Santika Padang, Rabu (12/5/2026). Seminar ini diikuti peserta berbagai kalangan, termasuk mahasiswa dari berbagai kampus.
Perwakilan HGI sekaligus Ahli Hukum ITE, Ryan Abdisa Sukmadja mengatakan, peningkatan literasi digital menjadi langkah penting dalam membangun kesadaran masyarakat di era digital.
Ia menjelaskan bahwa generasi muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh sistem digital yang bersifat manipulatif maupun merugikan.
“Literasi digital menjadi benteng utama agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam sistem digital yang manipulatif dan merugikan,” katanya.
Menurutnya, tantangan digital saat ini tidak bisa diselesaikan hanya melalui pendekatan teknologi, tetapi juga membutuhkan penguatan edukasi dan kolaborasi lintas sektor secara berkelanjutan.
Perkembangan teknologi harus diimbangi dengan peningkatan kesadaran digital masyarakat, khususnya generasi muda yang menjadi kelompok paling aktif di ruang digital.
‘Di era platform online saat ini, literasi digital bukan lagi sekadar tambahan pengetahuan, tetapi sudah menjadi kemampuan penting yang harus dimiliki generasi muda,” jelasnya.
Ray menambahkan bahwa HGI bersama Polda Sumbar ingin mendorong terbentuknya budaya digital yang lebih sehat agar generasi muda dapat memanfaatkan teknologi secara lebih positif dan produktif.
Berdasarkan data PPATK, nilai transaksi aktivitas digital ilegal di Indonesia terus meningkat dalam tiga tahun terakhir dan pada 2024 tercatat mencapai ratusan triliun rupiah. Tingginya penggunaan internet, budaya instan, serta rendahnya kesadaran digital membuat generasi muda menjadi salah satu kelompok paling rentan terhadap risiko aktivitas digital yang merugikan.
Aktivitas digital di Indonesia berkembang sangat pesat, khususnya di kalangan generasi muda yang semakin aktif menggunakan platform online dan layanan hiburan digital dalam kehidupan sehari-hari.
Namun di balik perkembangan tersebut, berbagai aktivitas digital manipulatif dan pola penggunaan platform yang tidak sehat juga semakin mudah diakses, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap dampak sosial dan psikologis bagi masyarakat usia produktif.
Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sumbar, Kombes Pol Andry Kurniawan mengungkapkan, pencegahan aktivitas digital manipulatif dan pola penggunaan platform yang tidak sehat tidak bisa dilakukan aparat penegak hukum saja.
“Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, komunitas, dan pelaku industri digital,” kata dia.
Andry menambahkan, edukasi dan pendekatan preventif menjadi langkah penting untuk membantu generasi muda lebih bijak dalam menghadapi perkembangan platform digital yang semakin kompleks.






