Ember dan Tedmon Jadi Pemandangan Sehari-hari, 8 Bulan Warga Lambung Bukit Menunggu Air

Ember dan Tedmon Jadi Pemandangan Sehari-hari, 8 Bulan Warga Lambung Bukit Menunggu Air

Ember, jirigen hingga tedmon berukuran besar berjejer di depan rumah warga yang menanti air bersih. (Foto: Fajar Hadiansyah/Langgam.id)

Langgam.id – Pemandangan berbeda terlihat di RT 01, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Hampir di setiap rumah warga berjajar ember, jirigen hingga tedmon berukuran besar. 

Benda-benda yang biasanya disimpan di belakang rumah itu, kini sengaja dipindahkan ke halaman depan, menanti kedatangan mobil tangki pembawa air bersih.

Dari tedmon tersebut, selang-selang plastik menjulur masuk ke dalam rumah. Itulah cara warga menyambungkan pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari. Sudah delapan bulan terakhir, warga menggantungkan hidup pada bantuan air bersih.

Ketua RT 01 Lambung Bukit, Zamriadi, mengatakan sebanyak 82 kepala keluarga (KK) di wilayahnya terdampak krisis air bersih. Kondisi itu terjadi sejak bencana yang melanda Kota Padang pada akhir 2025.

“Sejak pascabencana itu, Sungai Batang Kuranji mengecil. Setelah irigasi Gunung Nago jebol, sumur-sumur warga tidak lagi mendapat serapan air,” kata Zamriadi kepada Langgam.id, Kamis (16/7/2026). 

Menurutnya, warga kini hanya berharap hujan turun atau pasokan air dari sistem Pamsimas kembali mengalir lancar ke bak penampungan masing-masing. Namun, aliran air Pamsimas tidak selalu tersedia. 

Karena itu, hampir setiap hari warga menunggu bantuan air bersih yang dikirim menggunakan mobil tangki.

“Kalau mobil tangki datang, semua wadah penampungan yang ada langsung diisi. Makanya tedmon dan ember sekarang diletakkan di depan rumah supaya mudah dijangkau,” ujarnya.

Pasokan air bersih selama ini berasal dari berbagai instansi, seperti BPBD Kota Padang, Dinas Pemadam Kebakaran, PMI Kota Padang, hingga berbagai pihak lainnya.

Sementara itu, seorang warga bernama Anton (42), mengatakan bantuan tangki air itu menjadi satu-satunya harapan keluarganya.

Selama delapan bulan terakhir, ia harus menghemat setiap tetes air yang diterima. Air hanya digunakan untuk kebutuhan yang benar-benar penting.

“Kalau air habis dan bantuan belum datang, saya terpaksa mandi dan mengambil air dari Sungai Batang Kuranji untuk keperluan menyuci dan BAB pada malam hari,” ceritanya.  

Jarak yang harus ditempuh tidak dekat. Anton berjalan sekitar 300 hingga 500 meter sambil membawa wadah air menuju rumahnya.

Air sungai yang dulu mengalir deras melalui bandar irigasi kini berubah menjadi aliran dangkal. Warnanya menguning dan berbau sehingga tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Kalau air bandar tidak bisa digunakan untuk mandi, kalau cuci  piring bisa, selain itu tidak, karena berbau,” kata dia.  

Anton mengaku mulai pasrah dengan berbagai janji yang disampaikan saat pejabat datang meninjau lokasi. Menurutnya, hingga kini belum ada solusi permanen yang benar-benar dirasakan warga.

“Kami tidak berharap banyak. Setidaknya ada tindakan nyata. Setiap ada pejabat datang ke sini, selalu bilang, ‘ini segera kita perbaiki’. Tapi sampai sekarang belum ada upaya yang benar-benar menyelesaikan masalah air di sini,” tuturnya.  

Ia berharap pemerintah segera memperbaiki irigasi Gunung Nago yang rusak pascabencana sehingga sumber air kembali mengalir ke sumur-sumur warga.

“Kami tidak ingin terus bergantung pada mobil tangki. Yang kami inginkan air kembali mengalir seperti dulu, supaya kehidupan kami bisa normal lagi,” harapnya.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengatakan bantuan air bersih terus disalurkan ke warga Lambung Bukit sejak Desember 2025.

“Setiap hari kami menyuplai sekitar 80 ribu hingga 100 ribu liter air bersih menggunakan mobil tangki. Total yang sudah disalurkan sejak Desember hingga sekarang mencapai lebih kurang 20 juta liter,” ungkapnya. (WAN) 

Baca Juga

Dinsos Padang Siapkan Dapur Umum Bantu Korban Banjir
Dinsos Padang Siapkan Dapur Umum Bantu Korban Banjir
Kondisi banjir di kawasan Lumin Park Lubuk Minturun, Koto Tangah, Padang. (Dok. Istimewa)
Lumin Park Padang Berulang Dihantam Banjir, Walhi Sumbar Desak Evaluasi Penataan Ruang Daerah Rawan Bencana
Dua Kecamatan di Padang Terparah Terdampak Banjir, 100 Warga Limau Manis Dievakuasi
Dua Kecamatan di Padang Terparah Terdampak Banjir, 100 Warga Limau Manis Dievakuasi
Tim SAR Gabungan Evakuasi Puluhan Warga di Tengah Banjir Padang
Tim SAR Gabungan Evakuasi Puluhan Warga di Tengah Banjir Padang
Kondisi terkini banjir kanal kota Padang tempat penyelenggaraan cabor dayung di Porprov Sumbar 2026.(Panitia Porprov Sumbar)
Dua Cabor Porprov Sumbar 2026 Terganggu Hujan Deras, Dayung Terancam Tertunda
Kondisi banjir di kawasan Lumin Park Lubuk Minturun, Koto Tangah, Padang. (Dok. Istimewa)
Hujan Deras Picu Banjir di Kota Padang, Lubuk Minturun dan Guo Kembali Terendam