Disertasi Muhammad Nasir Melihat Pemaknaan Tuanku dalam Ingatan Kolektif Orang Pariaman

Sidang Promosi Doktor Muhammad Nasir di Program Doktor Studi Islam, Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang, Selasa (23/6/2026).

Sidang Promosi Doktor Program Doktor Studi Islam, Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang, Selasa (23/6/2026).

Langgam.id – Figur Tuanku di Pariaman tidak hanya dipahami sebagai tokoh sejarah yang hidup di masa lalu, tetapi terus hadir dan dimaknai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat hingga saat ini. 

Kesimpulan itu menjadi temuan utama dalam disertasi Muhammad Nasir yang disampaikan saat Sidang Promosi Doktor Program Doktor Studi Islam, Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang, Selasa (23/6/2026).

Disertasi berjudul “Tuanku dalam Ingatan Kolektif Orang Pariaman Kontemporer: Konstruksi Sejarah Sehari-Hari (Alltagsgeschichte)” tersebut berangkat dari kritik terhadap historiografi Minangkabau yang selama ini lebih banyak menyoroti tokoh-tokoh besar dan peristiwa penting, namun belum cukup menjelaskan bagaimana makna ke-Tuanku-an tetap hidup, diwariskan dan direproduksi dalam kehidupan masyarakat masa kini.  

Nasir menjelaskan bahwa sebagian besar kajian sejarah Islam Minangkabau selama ini berfokus pada sejarah tokoh, seperti Syekh Burhanuddin dan Tuanku Imam Bonjol atau pada peristiwa-peristiwa besar seperti Islamisasi dan Perang Padri. 

Akibatnya, masih terdapat kesenjangan dalam memahami bagaimana figur Tuanku tetap hadir dalam kesadaran sosial masyarakat Pariaman yang hidup di era modern. 

Melalui pendekatan sejarah kultural dengan perspektif Alltagsgeschichte atau sejarah kehidupan sehari-hari, penelitian Nasir menggeser fokus dari peristiwa dan tokoh besar ke praktik-praktik sosial masyarakat.

Pertanyaan utama yang diajukan Nasir dalam penelitian ini adalah bagaimana masyarakat Pariaman mengonstruksi, mereproduksi, dan mempertahankan makna Tuanku dalam kehidupan sehari-hari mereka.  

Dalam penelitian tersebut, Nasir mengintegrasikan empat pendekatan teoritis, yakni analisis wacana sosial, teori konstruksi sosial, teori ingatan kolektif dan perspektif sejarah kehidupan sehari-hari. Keempat pendekatan ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana makna Tuanku diproduksi, dilembagakan, diwariskan, dan terus dihidupi melalui praktik sosial masyarakat. 

Hasil penelitian Nasir menunjukkan bahwa makna Tuanku bersifat dinamis dan berubah mengikuti perkembangan zaman. Pada masa awal Islamisasi, Tuanku dipandang sebagai pewaris otoritas spiritual Syekh Burhanuddin.

Pada masa Perang Padri, Tuanku tampil sebagai simbol perjuangan religius dan politik. Sementara pada era kolonial, figur tersebut mengalami proses domestikasi dan depolitisasi. Di masa kontemporer, Tuanku lebih banyak dimaknai sebagai simbol identitas kultural dan religius masyarakat Pariaman. 

Penelitian ini juga menemukan bahwa kesadaran sejarah tidak selalu lahir dari pengetahuan sejarah formal. Sebaliknya, kesadaran tersebut dapat tumbuh melalui pengalaman sosial sehari-hari yang terus berlangsung dalam kehidupan masyarakat. 

Ingatan kolektif tentang Tuanku, menurut temuan penelitian Nasir, dipelihara melalui berbagai praktik sosial seperti tradisi basapa, ziarah, badoa, cerita keluarga, jaringan surau, relasi guru dan murid, hingga aktivitas di media digital. Praktik-praktik tersebut menjadi sarana yang memungkinkan makna Tuanku tetap hidup dan diwariskan lintas generasi. 

Salah satu temuan yang disebut paling penting dalam disertasi Nasir adalah bahwa Tuanku tidak hanya menjadi objek yang diingat oleh masyarakat, tetapi juga berfungsi sebagai alat untuk mengingat. Figur Tuanku menjadi medium yang membantu masyarakat memahami masa lalu, menafsirkan masa kini, sekaligus membangun identitas kolektif mereka. 

Secara metodologis, penelitian Nasir menawarkan model baru yang disebut sebagai historiografi berbasis pengalaman keseharian. Model tersebut menempatkan narasi lisan, ritual, praktik sosial dan pengalaman hidup masyarakat sebagai sumber penting dalam memahami bagaimana sejarah terus hidup di tengah masyarakat.  

Nasir menegaskan bahwa objek utama sejarah keseharian bukanlah masa lalu itu sendiri, melainkan ingatan sosial tentang masa lalu. Karena itu, cerita masyarakat, aktivitas surau, tradisi lokal hingga narasi yang berkembang di media sosial dapat dipahami sebagai arsip hidup yang terus berubah dan direproduksi sesuai kebutuhan zaman. 

Melalui penelitian tersebut, Nasir menjelaskan bahwa keberlanjutan sejarah tidak terutama ditentukan oleh tokoh besar maupun peristiwa besar, melainkan oleh kemampuan suatu masyarakat untuk terus mereproduksi makna masa lalunya melalui memori kolektif, praktik sosial dan pengalaman keseharian. Dengan kata lain, sejarah tetap hidup karena terus diingat, dituturkan, dan dimaknai kembali oleh masyarakat dari generasi ke generasi.

Baca Juga

Cak Imin Singgung Korupsi BGN di Hadapan Mahasiswa UIN IB Padang, Ingatkan Bahaya Abaikan Kaidah Keilmuan
Cak Imin Singgung Korupsi BGN di Hadapan Mahasiswa UIN IB Padang, Ingatkan Bahaya Abaikan Kaidah Keilmuan
Menko Muhaimin Bakal Lepas 2.000 Mahasiswa KKN Berdampak UIN Imam Bonjol Padang
Menko Muhaimin Bakal Lepas 2.000 Mahasiswa KKN Berdampak UIN Imam Bonjol Padang
Kader Muhammadiyah Herman Syahkiki Raih Gelar Doktor Usia 32 Tahun, Angkat Isu Hak Anak Korban Perceraian
Kader Muhammadiyah Herman Syahkiki Raih Gelar Doktor Usia 32 Tahun, Angkat Isu Hak Anak Korban Perceraian
Peminat SPAN-PTKIN 2026, UIN Imam Bonjol Padang Masuk 4 Besar Nasional
Peminat SPAN-PTKIN 2026, UIN Imam Bonjol Padang Masuk 4 Besar Nasional
Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Prof Dr Martin Kustati MPd menghadiri Forum Konsolidasi Strategi Publikasi SPAN PTKIN 2026 di Surabaya
Hadiri Konsolidasi Strategi SPAN PTKIN 2026, Rektor UIN IB Tekankan Transformasi Kehumasan
Perkuat Sinergi Kelembagaan, UIN IB Padang Audiensi dengan Kejaksaan Tinggi Sumbar
Perkuat Sinergi Kelembagaan, UIN IB Padang Audiensi dengan Kejaksaan Tinggi Sumbar