Langgam.id– Dulu, Devi Virhana harus mengubur mimpi kursus bahasa Inggris karena tak ada biaya. Kini, alumnus UIN Imam Bonjol Padang itu justru mengajar Warga Negara Asing (WNA) dari 33 negara berbicara bahasa Indonesia.
Devi adalah lulusan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Imam Bonjol Padang. Melalui gerakan mandiri Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) bernama BIPA Pertiwi, ia telah mengenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada hampir 200 pemelajar asing dari Jepang, Rusia, Yaman, Amerika Serikat, hingga Tanzania.
Kiprah itu sekaligus mematahkan anggapan lama bahwa lulusan UIN hanya berkutat di ruang dakwah konvensional. Bagi Devi, bekal dari kampus keagamaan di Padang itu justru menjadi fondasi utama kariernya di panggung global.
“Bekal yang saya peroleh selama di KPI sangat membentuk kemampuan komunikasi, berpikir kritis, serta cara membangun hubungan dengan masyarakat beragam. Ini menjadi modal utama saya dalam mengajar sekaligus mengenalkan budaya Nusantara,” kata Devi, Minggu (26/7/2026).
Jalan Devi tidak pernah mulus. Saat pertama kali diterima di IAIN yang kini UIN Imam Bonjol Padang, ia sempat kecewa. Kala itu beredar stigma bahwa pilihan karier lulusan kampus agama sangat sempit.
“Dulu sering diistilahkan dengan candaan ‘tersesat di jalan yang benar’. Tapi kondisi itu justru memacu saya untuk belajar bahasa Inggris secara mandiri karena tidak punya biaya kursus,” ungkap lulusan terbaik Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi itu.
Alih-alih menyerah pada olok-olok, Devi memilih bergerak. Ia mendirikan komunitas komunikasi lintas budaya secara daring, “People in the World”, sembari aktif berorganisasi dan membangun jejaring di lingkungan kampus.

Merintis BIPA Pertiwi secara Mandiri
Titik balik datang pada 2016. Devi membantu dosennya, Dr. Nora Zulvianti, menjadi personal manager bagi warga negara Rusia di lembaga bimbingan belajar EXIS. Pengalaman itu, kata Devi, membuka matanya bahwa bahasa adalah jembatan persahabatan sekaligus diplomasi budaya.
Keyakinan itulah yang membuatnya mantap merintis BIPA Pertiwi, meski beberapa kali gagal dalam seleksi resmi pengajar BIPA di luar negeri. Kegagalan tak menghentikannya. Dengan kelas hibrida, jaringan sukarela yang ia bangun kini menjangkau pemelajar lintas benua yang ingin belajar bahasa Indonesia.
Metodenya pun tak biasa. Devi menolak pendekatan yang melulu teoretis.
“Bahasa itu akan jauh lebih mudah dipelajari apabila pemelajar langsung menggunakannya dalam aktivitas komunikasi nyata, bukan sekadar teori. Mereka saya ajarkan public speaking, membuat konten digital, bernyanyi, hingga berpantun,” jelas Devi.
Semangat Devi sejalan dengan tren yang terus tumbuh. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat program BIPA telah menjangkau puluhan negara di berbagai benua, seiring meningkatnya minat dunia terhadap Indonesia apalagi setelah bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi Sidang Umum UNESCO pada 2023, menjadikannya salah satu dari sedikit bahasa Asia yang menyandang status tersebut.

Dakwah Lintas Budaya dari Balik Layar
Dalam proses mengajar, tantangan terbesar Devi ternyata bukan perbedaan budaya antarnegara, melainkan keterbatasan bahasa pengantar bagi siswa yang belum mahir berbahasa Inggris.
Untuk menyiasatinya, ia memadukan bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab, menggunakan kalimat sederhana, gestur tubuh, hingga bantuan Google Translate agar materi dapat dipahami para pemelajar asing.
Di tengah kesibukannya berjejaring dengan warga dunia, Devi tetap memegang teguh akar keilmuannya. Mantan peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional Korpri cabang dakwah ini memandang perannya sebagai medium syiar yang efektif, sebuah dakwah lintas budaya yang tak memerlukan mimbar.
“Saya meyakini bahwa dakwah tidak melulu harus dari atas mimbar. Lewat dialog lintas budaya dan mempromosikan wajah Indonesia yang ramah ke mata dunia, kita sebenarnya juga sedang berdakwah,” tegasnya.
Kini, perempuan yang dulu tak mampu membayar kursus bahasa Inggris itu telah menjadi jembatan bagi ratusan orang dari 33 negara untuk mencintai Indonesia.
Akhirnya, Devi berharap kiprahnya menginspirasi para alumni UIN Imam Bonjol Padang lainnya—bahwa setiap orang, dari latar belakang mana pun, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi duta bahasa dan budaya melalui keahlian yang mereka tekuni. (HER)






