Langgam.id — Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di Sumatera Barat menunjukkan pertumbuhan positif sepanjang 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah debitur eksisting LKM tumbuh 23,03 persen secara tahunan menjadi 919 debitur pada Juni 2026.
Pertumbuhan jumlah debitur tersebut berjalan seiring dengan peningkatan aset dan penyaluran pembiayaan LKM di Sumatera Barat.
Kepala OJK Sumatera Barat, Roni Nazra, mengatakan berdasarkan data Juni 2026, total aset LKM di Sumbar mencapai Rp7,06 miliar atau tumbuh 8,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Pada posisi Juni 2026, total aset LKM sebesar Rp7,06 miliar atau tumbuh 8,71 persen secara tahunan. Total penyaluran pembiayaan mencapai Rp2,80 miliar atau tumbuh 11,62 persen,” kata Roni, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, pertumbuhan juga terlihat dari jumlah debitur. Pada Juni 2026 tercatat sebanyak 919 debitur eksisting, meningkat 23,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Jumlah debitur eksisting sebanyak 919 debitur atau tumbuh 23,03 persen secara tahunan,” ujarnya.
Roni menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan keberadaan LKM masih memiliki peran dalam menyediakan akses pembiayaan bagi masyarakat, terutama kelompok yang membutuhkan layanan keuangan dengan skala relatif kecil.
Ia mengatakan perkembangan LKM menjadi bagian dari dinamika sektor jasa keuangan nonbank di Sumatera Barat yang secara umum masih menunjukkan kinerja positif.
Selain LKM, OJK juga mencatat sejumlah indikator positif pada industri keuangan nonbank lainnya. Perusahaan pembiayaan, misalnya, mencatat total pembiayaan sebesar Rp6,03 triliun pada Mei 2026 atau tumbuh 8,92 persen secara tahunan.
Sementara itu, outstanding pinjaman daring atau fintech lending pada April 2026 mencapai Rp1,49 triliun atau tumbuh 8,72 persen secara tahunan. Risiko kredit fintech lending masih terjaga dengan tingkat 2,53 persen.
“Perkembangan sektor jasa keuangan terus kami pantau, termasuk dari sisi pertumbuhan maupun risiko. Hal ini penting agar pertumbuhan sektor keuangan tetap diikuti dengan perlindungan konsumen dan pengelolaan risiko yang baik,” kata Roni.
Ia menambahkan, pertumbuhan sektor jasa keuangan tersebut sejalan dengan kondisi perekonomian Sumatera Barat yang masih tumbuh. PDRB Sumbar pada triwulan II 2026 tercatat tumbuh 4,54 persen secara tahunan.
OJK Sumbar, lanjut Roni, akan terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan sekaligus memastikan industri jasa keuangan menjalankan kegiatan usahanya secara sehat dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Pertumbuhan sektor jasa keuangan diharapkan dapat terus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat dan perekonomian daerah,” pungkasnya. (HER)




