Langgam.id- Sebanyak tujuh titik panas atau hotspot terdeteksi di Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat. Namun, titik panas itu dinilai belum berpotensi besar untuk memicu kebakaran lahan dan hutan atau Karhutla.
Sekretaris BPBD Sumbar, Ilham Wahab, mengatakan tujuh hotspot tersebut tetap menjadi perhatian meski belum menunjukkan indikasi kebakaran.
“Kecil kemungkinan untuk jadi api, karena tingkatnya masih kategori medium,” kata Ilham kepada Langga.id Minggu (23/8/2026).
Keberadaan tujuh titik panas tersebut, berada du kawasan hutan dan jauh dari area yang banyak beraktivitas.
“Titik hotspot muncul di area hutan, jauh dari ladang dan permukiman,” ujarnya.
BPBD Sumbar tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik panas tersebut. Pemantauan dilakukan sebagai langkah awal untuk mengetahui jika terjadi perubahan kondisi di lokasi.
“Jika ditemukan indikasi kebakaran, BPBD akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait. Penanganan akan dilakukan sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan,” katanya.
Sebelumnya, Prakirawan BMKG Minangkabau, Jeni Adrian melaporkan ada tujuh titik panas itu terdeteksi melalui pemantauan satelit. Titik tersebut masuk kategori kuning dalam sistem pemantauan.
Ia menambahkan, titik panas mulai terdeteksi pada dini hari. Data BMKG menunjukkan hotspot muncul sekitar pukul 01.51 WIB.
Meski begitu, BMKG belum bisa memastikan apakah lokasi titik panas itu kawasan hutan atau ladang masyarakat.
“Kepastian mengenai kondisi di lapangan membutuhkan pengecekan lebih lanjut,” katanya.
Menurutnya, keberadaan titik panas tidak secara otomatis menunjukkan telah terjadi kebakaran. Titik panas merupakan hasil deteksi anomali suhu dari pemantauan satelit.
Karena itu, BMKG terus memantau perkembangan titik panas di wilayah Sumbar. Masyarakat juga diminta tidak langsung panik dengan adanya informasi tersebut.
“Tidak perlu panik atau cemas, tetap pantau informasi resmi dari BMKG,” tuturnya





