Terpilihnya Zigo Rolanda sebagai Ketua Umum DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) periode 2026-2031 dalam Munas X di Hotel Grand Sahid Jakarta pada 29 September kemarin, merupakan momentum politik penting bagi anak muda Minang dalam kancah nasional.
Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) lahir dari kebulatan tekad ratusan pemuda dari berbagai daerah di Pandaan, Jawa Timur, pada 28 Juni 1978, sehingga dikenal dengan “Kebulatan Tekad Pandaan”. Organisasi ini terdiri dari Angkatan Muda Siliwangi (AMS), Angkatan Muda Brawijaya (AMUBRA), Angkatan Muda Diponegoro (AMD), Angkatan Muda Sriwijaya (AMSRI), Generasi Muda SOKSI, Generasi Muda KASGORO, dan Generasi Muda MKGR. Semangat tersebut didasari nilai-nilai perjuangan Sumpah Pemuda dengan orientasi kekaryaan.
Zigo Rolanda harus mampu menjawab tantangan zaman sebagai salah satu anak muda Minangkabau yang hadir di pentas politik nasional. Representasi pemuda Minangkabau di panggung politik nasional secara historis tidak terlepas dari identitas masyarakat Minangkabau yang lekat dengan tradisi intelektual, merantau, dan artikulasi politik di ruang publik (mambangkik batang tarandam).
Kehadiran Zigo Rolanda, politisi muda Sumatera Barat yang meniti karier dari Ketua DPRD Solok Selatan hingga menjadi Anggota DPR RI Fraksi Golkar dan kini berada di pucuk pimpinan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) tingkat nasional, membuktikan keberlanjutan tradisi kepemimpinan tersebut.
Pencapaian ini sekaligus mengikis anggapan bahwa kepemimpinan OKP nasional selalu didominasi figur yang berbasis di pusat (Jakarta centric), sekaligus menegaskan bahwa kaderisasi politik yang berakar dari daerah memiliki daya tawar tinggi di panggung nasional. Hal ini juga membuktikan bahwa seluruh organisasi kekaryaan Partai Golkar menjalankan kaderisasi yang sangat baik di semua tingkatan.
Sebagai salah satu organisasi kepemudaan yang menjadi laboratorium kaderisasi Partai Golkar, AMPI di bawah kepemimpinan Zigo menghadapi sejumlah tantangan internal dan eksternal. Dalam hal inklusivitas dan merangkul berbagai faksi, AMPI diisi oleh dinamika latar belakang kader yang beragam.
Tugas utama Zigo adalah memastikan AMPI menjadi meeting room sekaligus wadah terbuka yang akomodatif bagi seluruh faksi kader, bukan sekadar ruang eksklusif bagi kelompok tertentu. Dengan demikian, tidak ada lagi konflik seperti yang terjadi pada kepengurusan sebelumnya, yang menyebabkan beberapa kali pergantian Sekjen dan pengurus hingga berujung pada dualisme di tubuh DPP AMPI.
Di tengah apatisme Gen Z dan Milenial, tantangan generasi muda saat ini bukan lagi sekadar retorika politik formal, melainkan isu konkret seperti lapangan kerja, ekonomi kreatif, digitalisasi, dan advokasi kebijakan publik.
AMPI perlu bertransformasi dari mesin politik elektoral menjadi inkubator ide dan solusi nyata dalam mempersiapkan generasi baru menuju 2029. Menjelang kontestasi politik 2029, AMPI harus berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan aspirasi pemuda pemilih pemula dengan agenda strategis Partai Golkar. Terutama, harus mampu memberikan dampak yang lebih nyata di daerah asalnya sendiri, Sumatera Barat.
Puncak kepemimpinan Zigo di tingkat nasional membawa implikasi strategis bagi ekosistem kepemudaan di Sumatera Barat. Efek role model (Inspirational Effect) dari keberhasilan Zigo menjadi pembuktian bagi anak muda Minang bahwa jalur politik dan keorganisasian lokal dapat membawa mereka ke panggung pengambil keputusan tingkat nasional, sekaligus menjadi jembatan aspirasi antara daerah dan pusat.
Latar belakang Zigo yang memahami dinamika daerah dapat membuka akses yang lebih luas bagi pemuda Sumatera Barat, baik dalam jaringan kepemimpinan, program pemberdayaan ekonomi kreatif, maupun penguatan ruang partisipasi politik pemuda daerah di tingkat pusat. Momentum ini juga berpotensi menjadi pendorong kaderisasi lokal, menggairahkan kembali iklim berorganisasi di Sumatera Barat, serta mendorong generasi muda daerah untuk lebih percaya diri dan aktif mengambil peran dalam kepemimpinan publik.
Sebagai ketua umum yang terpilih secara aklamasi, Zigo sudah pasti memiliki daya jual dan koneksi yang sangat baik di tingkat nasional. Hal ini sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi karier politiknya ke depan.
Seharusnya, posisi tersebut dapat mengantarkannya ke posisi politik yang lebih mentereng, karena dari sejarah yang ada, ketua umum AMPI memiliki jabatan di pemerintahan, salah satunya sebagai menteri maupun wakil menteri.
Terpilihnya Zigo Rolanda bukan sekadar simbol pergantian tampuk kepemimpinan di tubuh AMPI, melainkan ujian nyata tentang bagaimana figur muda berlatar daerah mampu mengonsolidasikan kekuatan politik pemuda nasional secara inklusif, sekaligus memberikan dampak balik yang positif bagi pengembangan potensi pemuda di daerah asalnya. (**)
Penulis: (Yogi Nofrizal, Kader Muda Golkar)






