Mesin yang Berpikir, Berpikir Hasil Mesin!

Langgam.id – Ada seorang profesor yang saya bayangkan akan mengernyitkan dahi melihat cara saya menulis artikel belakangan ini. Saya duduk, berpikir, memberi perintah, mengoreksi, menolak, mengubah, menajamkan, lalu dalam waktu relatif singkat sebuah tulisan selesai.

Di hadapan saya ada mesin yang bekerja cepat. Ia membantu mencari bentuk kalimat, mengembangkan gagasan, merapikan struktur, bahkan menawarkan perspektif yang kadang membuat saya berpikir ulang.

Bagi sebagian orang, pemandangan seperti ini mungkin terasa mengkhawatirkan. Bagi saya, justru di sinilah pertanyaan besar tentang manusia dan teknologi dimulai, siapa sebenarnya yang sedang berpikir? Tunggu dulu, untungnya, saya sudah menulis dan disebut penulis, jauh sebelum mesin ini tiba.

Kekhawatiran terhadap teknologi sesungguhnya bukan cerita baru. Ketika mesin cetak berkembang, orang cemas otoritas pengetahuan akan berubah. Ketika televisi masuk ruang keluarga, muncul kekhawatiran manusia akan menjadi penonton pasif.

Ketika internet hadir, orang takut buku kehilangan masa depan. Ketika media sosial tumbuh, masyarakat resah karena informasi bergerak tanpa pagar. Kini Artificial Intelligence menghadirkan kegelisahan baru. Mesin dapat menghasilkan teks, gambar, suara, bahkan membantu menyusun gagasan.

Sebagian orang segera menyimpulkan, manusia akan kehilangan kemampuan berpikir. Saya justru melihat persoalan yang lebih menarik, AI memaksa manusia mendefinisikan kembali apa yang disebut berpikir.

Saya bekerja di wilayah media dan komunikasi. Karena itu, saya memandang teknologi sebagai bagian dari perubahan sosial yang perlu dibaca, bukan sekadar dicemaskan. Media selalu berkembang mengikuti kemampuan manusia mengembangkan teknologi.

Surat kabar mengubah ruang publik. Radio memperluas jangkauan suara. Televisi mengubah budaya visual. Internet mengubah kecepatan distribusi informasi. Platform digital mengubah hubungan antara produsen dan khalayak.

AI kini memasuki lapisan yang lebih dalam, ia ikut membantu manusia memproduksi bahasa dan mengolah informasi. Perubahan ini membawa risiko sekaligus kemungkinan. Di sinilah fungsi literasi media untuk membuat manusia mampu hidup kritis di tengah perubahan tersebut.

Lihat saja skala perubahan itu. Pada April 2026, sekitar 6,12 miliar manusia telah menggunakan internet, setara 73,8 persen populasi dunia. Sekitar 5,83 miliar orang merupakan pengguna unik telepon seluler, sementara jumlah smartphone yang digunakan mencapai sekitar 7,64 miliar perangkat.

Hampir seluruh pengguna internet global, 96,2 persen, mengakses internet melalui telepon seluler setidaknya dalam sebagian aktivitas mereka. Dunia digital telah menjadi ruang hidup manusia dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

AI kemudian masuk ke ruang yang sudah sangat padat itu. Analisis DataReportal pada 2026 memperkirakan platform generative AI seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dan platform sejenis menarik sekitar 2,42 miliar pengguna aktif setiap bulan.

Angka itu setara hampir 30 persen populasi dunia, meskipun angka pengguna lintas platform tersebut tidak dapat dibaca sebagai jumlah individu unik. Data lain dari Statista memperkirakan ChatGPT sendiri digunakan sekitar 1,1 miliar orang per bulan pada Juni 2026. Angka-angka ini menunjukkan, AI sudah bergerak keluar dari laboratorium teknologi dan memasuki kebiasaan sehari-hari manusia.

Namun, ada ekonomi besar yang bekerja di balik semua itu. Herbert A. Simon sejak 1971 sudah mengingatkan, dalam dunia yang kaya informasi, kelimpahan informasi justru menciptakan kelangkaan perhatian.

Dalam esainya, Designing Organizations for an Information-Rich World, Simon melihat perhatian sebagai sumber daya terbatas yang harus dialokasikan secara efisien. Gagasan itu kini menemukan kehidupan baru di era platform. Informasi semakin murah, cepat, dan melimpah; perhatian manusia tetap terbatas. Karena itu, pertarungan sesungguhnya bukan lagi sekadar memperebutkan informasi, tetapi memperebutkan perhatian manusia.

Tim Wu kemudian mengembangkan sejarah persoalan itu melalui bukunya The Attention Merchants: The Epic Scramble to Get Inside Our Heads (2016). Menurut Wu, industri media dan periklanan berkembang melalui kemampuan menangkap perhatian, kemudian menjual perhatian tersebut kepada pengiklan.

Model bisnis itu menemukan bentuk baru dalam platform digital. Apa yang tampak gratis sesungguhnya memiliki ekonomi di belakangnya: waktu pengguna, data pengguna, perilaku pengguna, klik, tontonan, pencarian, interaksi, dan preferensi dapat menjadi bagian dari ekosistem komersial.

Angkanya membuat persoalan itu semakin jelas. IAB melaporkan bahwa pendapatan iklan internet di Amerika Serikat mencapai US$294,6 miliar pada 2025, naik 13,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di dalam ekosistem itu, belanja iklan creator mencapai sekitar US$37 miliar.

Sementara itu, proyeksi Statista yang dikutip DataReportal memperkirakan belanja iklan digital global mencapai 74,4 persen dari seluruh belanja iklan pada 2025. Ekonomi perhatian bukan lagi metafora akademik. Ia telah menjadi mesin ekonomi yang menghasilkan uang dalam skala raksasa.

Di sinilah kita perlu memahami platformisasi. José van Dijck, Thomas Poell, dan Martijn de Waal melalui The Platform Society: Public Values in a Connective World (2018) menjelaskan masyarakat platform sebagai kondisi ketika lalu lintas sosial dan ekonomi semakin disalurkan melalui ekosistem platform global yang digerakkan algoritma dan data.

Mereka menunjukkan tiga mekanisme penting, datafication, commodification, dan selection. Aktivitas manusia diubah menjadi data; data dan aktivitas dapat dikomodifikasi; lalu algoritma ikut menentukan apa yang muncul, siapa yang terlihat, dan apa yang memperoleh perhatian.

Konsep ini melengkapi pembahasan mediatization yang dikembangkan antara lain oleh Stig Hjarvard, Andreas Hepp, dan Knut Lundby. Dalam artikel “Mediatization: Theorizing the Interplay between Media, Culture and Society” (2015), mereka melihat perubahan media dan komunikasi sebagai bagian dari perubahan dalam berbagai bidang kehidupan sosial dan budaya.

Kini platformisasi memperluas medan tersebut. Media masih memediasi kehidupan sosial, tetapi platform ikut menentukan infrastruktur, distribusi, visibilitas, data, dan monetisasi. Jadi, persoalannya bukan mediatization telah selesai; medan mediatization kini semakin kuat dipengaruhi logika platform.

Akibatnya terasa dalam dunia jurnalistik. Dulu sebuah berita mendapatkan perhatian terutama melalui keputusan redaksi, apa yang dianggap penting ditempatkan sebagai headline.

Kini perhatian publik juga bergerak melalui logika platform, apa yang memperoleh klik, komentar, share, watch time, dan interaksi dapat memperoleh distribusi yang jauh lebih luas. Sebuah video pendek dapat melampaui jangkauan berita utama dalam hitungan jam. Headline masih penting, tetapi viralitas mempunyai daya distribusi sendiri.

Dalam ruang platform, sesuatu dapat menjadi besar karena banyak dibicarakan, sementara sesuatu yang sangat penting secara jurnalistik dapat tenggelam karena gagal memenangkan kompetisi perhatian.

Di sinilah terjadi perubahan besar dalam kesadaran manusia. Kita hidup dalam situasi yang mempesona, layar semakin tajam, jaringan semakin cepat, informasi semakin banyak, mesin semakin pintar.

Manusia dapat berbicara dengan siapa saja, mencari apa saja, membeli apa saja, menonton apa saja, dan meminta mesin menyusun sesuatu dalam hitungan detik. Kenyamanan itu nyata. Kemajuan itu nyata. Namun, justru karena begitu mempesona, manusia perlu bertanya: apa yang sedang terjadi pada perhatian kita? Apa yang kita pilih untuk lihat? Apa yang kita abaikan? Siapa yang menentukan pilihan itu?

Saya teringat kalkulator. Tidak ada orang waras yang mengatakan kalkulator membuat manusia berhenti berhitung selamanya. Kalkulator mengambil alih pekerjaan aritmetika tertentu, tetapi manusia tetap menentukan angka apa yang dihitung, mengapa angka itu dihitung, rumus apa yang digunakan, serta apakah hasilnya masuk akal.

AI memiliki kemampuan jauh lebih kompleks, tetapi persoalan dasarnya tetap menarik. Mesin dapat memproses, manusia menentukan arah. Mesin dapat menawarkan jawaban, manusia memeriksa pertanyaan. Mesin dapat menghasilkan kalimat, manusia menentukan makna.

Karena itu, saya kurang tertarik pada pertentangan antara kelompok yang memuja AI dan kelompok yang mencurigai AI. Saya lebih tertarik pada kualitas hubungan manusia dengan mesin.

AI memang mampu menghasilkan teks yang terlihat meyakinkan. Namun, teks yang fasih belum tentu benar. Referensi yang tampak akademik belum tentu ada. Argumen yang terdengar cerdas belum tentu kuat.

Di sinilah manusia tetap memegang pekerjaan paling penting, memverifikasi, menguji, menghubungkan, menafsirkan, dan mengambil tanggung jawab. Semakin cepat mesin menghasilkan informasi, semakin tinggi tuntutan manusia untuk memiliki literasi informasi dan literasi AI.

Dunia pendidikan menghadapi tantangan besar di sini. Melarang mahasiswa menggunakan AI mungkin terlihat sederhana, tetapi persoalan sosialnya jauh lebih besar. Mahasiswa akan hidup di tengah teknologi ini.

Dunia kerja juga akan menggunakannya. Karena itu, tugas pendidikan seharusnya membangun manusia yang mampu menggunakan AI secara kritis. Mahasiswa perlu belajar menyusun pertanyaan, memeriksa sumber, membandingkan informasi, menemukan bias, membaca data, dan membangun argumentasi sendiri.

Dosen tetap penting, bahkan semakin penting, karena fungsi pendidikan bergeser semakin kuat pada pengujian nalar, pembentukan karakter intelektual, dan pendalaman makna.

Saya sendiri merasakan manfaat teknologi itu. Sebuah artikel yang dahulu membutuhkan waktu panjang untuk menemukan struktur kini dapat dikembangkan dengan jauh lebih cepat. Namun, kecepatan itu lahir dari percakapan. Saya memberi gagasan.

Mesin menawarkan kemungkinan. Saya memilih. Mesin merumuskan ulang. Saya mengoreksi. Mesin memperbaiki. Saya menolak bagian yang melenceng. Proses itu berlangsung berulang. Pada akhirnya, tulisan tetap membutuhkan keputusan manusia. AI mempercepat kerja bahasa, manusia tetap menentukan arah pikiran.

Maka, saya kira persoalan paling penting bukan lagi “bolehkah menggunakan AI?” Pertanyaan itu terlalu sederhana. Pertanyaan yang lebih relevan ialah, bagaimana manusia menggunakan AI tanpa kehilangan dirinya sebagai manusia yang berpikir? Kita membutuhkan etika, literasi, disiplin akademik, kemampuan verifikasi, dan kesadaran bahwa teknologi memiliki konsekuensi sosial.

Kita perlu mengembangkan kecakapan baru tanpa membuang kemampuan lama. Membaca tetap penting. Menulis tetap penting. Berdiskusi tetap penting. Mengamati kenyataan tetap penting. Berpikir tetap menjadi pusatnya.

Peradaban memang bergerak karena manusia berpikir. Manusia menciptakan bahasa, tulisan, buku, mesin cetak, kamera, komputer, internet, telepon pintar, platform digital, hingga kecerdasan buatan.

Setiap penemuan memperluas kemampuan manusia sekaligus menciptakan persoalan baru. Karena itu, menyalahkan teknologi setiap kali muncul perubahan sosial terasa seperti menyalahkan kapal karena manusia memilih berlayar. Teknologi lahir dari pikiran manusia. Tantangannya terletak pada bagaimana manusia mengendalikan arah penggunaannya.

Saya tidak terlalu takut pada mesin yang semakin pintar. Saya justru lebih khawatir pada manusia yang berhenti bertanya. Sebab mesin yang canggih tetap membutuhkan arah, sementara manusia yang kehilangan rasa ingin tahu akan mudah menerima apa pun yang disodorkan mesin.

Mesin berpikir mungkin menjadi kenyataan teknologi. Namun masa depan peradaban tetap ditentukan oleh satu pertanyaan yang jauh lebih tua, apakah manusia masih mau berpikir?

Barangkali, inilah paradoks terbesar zaman kita. Manusia menciptakan mesin agar pekerjaan menjadi lebih mudah. Mesin kemudian membuat manusia memiliki lebih banyak waktu. Tetapi waktu yang lebih banyak belum tentu menghasilkan pikiran yang lebih dalam.

Kita dapat memperoleh informasi dalam satu detik, tetapi membutuhkan bertahun-tahun untuk memperoleh kebijaksanaan. Kita dapat membuat tulisan dalam beberapa menit, tetapi membutuhkan pengalaman hidup untuk mengetahui apa yang layak ditulis. Kita dapat membeli hampir segala sesuatu melalui layar, tetapi tetap harus memutuskan apa yang benar-benar kita perlukan.

Mesin boleh semakin pintar. Platform boleh semakin kuat. Algoritma boleh semakin cepat. Perhatian boleh semakin mahal. Tetapi satu yang tak mungkin hilang, manusia harus tetap menjadi pemilik pertanyaan yang sah karena sudah memiliki modal untuk berpikir.

Kini, daya dan level pikir itulah yang perlu ditingkatkan sehingga manusia tidak menyerahkan nasib hidupnya ke mesin. Ini soal daya tahan dalam belajar, yang kalah akan tampak seperti seperti mesin yang berpikir. Sedangkan yang lain, juga tampak macam takut dan membenci kemajuan teknologi.

Suatu saat, saya merasakan AI juga akan udzur seperti teknologi-teknologi sebelum ini, dengan satu syarat, manusia tetap berpikir. Karena manusia terus berpikir dan hadir lagi teknologi baru. Seperti dianjurkan “Pak Ngah” saya, Rene Descartes (1596-1650). Berpikir itu, harus melahirkan pertanyaan yang kritis mendalam dan penuh makna. Maka, aku bertanya maka aku ada. Jadi, jangan cemas dan terlalu cepat apriori, demikian Prof! Hehehe. (*)

Tentang penulis: Pengampu Mata Kuliah Literasi Media
Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang.

Baca Juga

Ketua Fraksi PAN DPRD Sumbar, Muhayatul. (Dok. Pribadi)
Pendidikan Sumbar Butuh Perda yang Bekerja, Bukan Sekadar Pasal
Muhammad Taufik
Saatnya Sekolah dan Kampus Mengajarkan Pembangkangan Sipil?
Kewajiban Sipangka Tol dan Hak Publik untuk Tahu
Kewajiban Sipangka Tol dan Hak Publik untuk Tahu
Muhammad Nur (Pengawas Madrasah di Sumbar).
Kemerdekaan di Ruang Kelas
Rudy Gunawan Syarfi, Dt. Rajo Endah adalah Panghulu Pucuak Bulek Nan Balimo, Kurai Limo Jorong. Menetap di Jakarta, dan bekerja sebagai Senior Specialist Logistics & Material Management di Pertamina Hulu Energi Masela (PHEM).
Yang Keliru Bukan Jalan Tolnya, Melainkan Cara Kita Membangunnya: Ketika Ekonomi Bertemu Adat di Sumatera Barat
Jalan Tol dan Cacat Pikir Prof Elfindri
Jalan Tol dan Cacat Pikir Prof Elfindri