Tradisi “Bantai Adat” Sambut Datangnya Idul Fitri di Padang Pariaman

bantai adat

Ilustrasi ternak kerbau (foto: Tempo/Sakti Karuru)

Langgam.id – Berakhirnya bulan suci Ramadan disambut dengan suka cita oleh umat Islam. Dengan berakhirnya Ramadan, maka datanglah Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal. Berbagai cara dilakukan umat Islam menyambut hari yang penuh kegembiraan ini.

Tidak saja dengan pakaian baru, bermacam-macam kue, hidangan makanan, perkakas rumah baru dan sebagainya, akan tetapi tradisi yang tumbuh di tengah umat Islam pun beragam. Di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat (Sumbar) tepatnya di Nagari Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang menggelar tradisi menyembelih kerbau yang disebut “bantai adat”.

Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padang Pariaman, Zeki Aliwardana mengatakan, persiapan tradisi bantai adat telah dilakukan sejak 15 hari puas Ramadan.

“Pada waktu itu setiap masjid atau surau di masing-masing korong mulai mendata siapa saja yang ingin ikut bantai adat. Jemaah dan masyarakat korong mendaftar kepada pengurus,” kata Zeki seperti dilansir dari nu.or.id, Senin (10/5/2021).

Kemudian pada hari ke-27 Ramadan, dilakukan pembayaran uang yang sudah disepakati bersama. Setelah semua pembayaran lunas, dapat dipastikan berapa uang terkumpul untuk membeli ternak kerbau. Pengurus sebelumnya sudah meninjau ternak yang akan dibeli di pasar ternak atau Talaok.

Bantai adat biasanya dilakukan di setiap korong atau surau. Ada korong yang hanya melakukan bantai adat di masjid, ada pula di satu korong terdapat beberapa surau yang juga melakukan bantai adat. Sehingga satu korong ada yang melakukan bantai adat di 3 lokasi, karena ada 3 surau yang melakukannya.

Dilansir dari situs resmi Kabupaten Padang Pariaman, usai salat Idul Fitri, kerbau yang sudah dibeli langsung disembelih di satu lokasi di Nagari Sintuak. Lokasi pembantaian ternak ini sengaja digabungkan agar lebih memudahkan penyelenggaraannya.

Setelah dibantai, daging tersebut dionggok (dilonggokan) sesuai dengan jumlah yang sudah disepakati sebelumnya. Pembagian daging tersebut bukan dengan sistem berat per kilogram, melainkan onggok (longgokan).

Baca juga: Tradisi “Mambantai”, Cara Masyarakat Taram Limapuluh Kota Peringati Nuzulul Quran

Satu orang minimal memesan 1 onggok. Ada pula yang memesan lebih dari satu onggok, misalnya sampai 10 onggok. Semua jenis tubuh kerbau dibagi rata di masing-masing onggok, seperti daging, hati, kulit, usus, tulang dan sebagainya.

Talaok dan Pasar Ternak
Kerbau untuk bantai adat biasanya didapat dari talaok dan pasar ternak. Talaok merupakan lokasi berkumpulnya penjual kerbau sekali setahun menjelang lebaran.
Ternak yang dijual dikhususkan untuk kebutuhan bantai adat. Yang membelinya adalah korong atau surau yang melaksanakan bantai adat, dan kerbau umumnya berbadan besar.

Di Nagari Sintuak sendiri sudah ada pasar ternak yang sekaligus talaok yang terletak beberapa meter di belakang kantor Wali Nagari Sintuak. Kurang lebih 100 meter dari lokasi ini, terdapat lokasi pembantaian bantai adat di hari lebaran.

Pasar ternak Sintuak ini mulai dirintis sejak 2013 lalu. Ada 44 pedagang ternak yang setuju diadakan pasar ternak di Sintuak.

“Alhamdulillah, hingga kini masih bisa jalan. Walaupun masih belum memiliki fasilitas pendukung layaknya pasar ternak,” kata Zulkifli (45) seorang pedagang ternak dilansir dari situs resmi Padang Pariaman.

“Jelang lebaran ini, ada sekitar 150 ekor ternak khususnya kerbau yang terjual di talaok atau pasar ternak Sintuak ini. Di hari biasa, cuma bisa terjual 15-20 ekor saja. Harga ternak yang dijual berkisar Rp 18,5 hingga 37 juta per ekor. Ternak yang berharga Rp 37 juta tersebut bisa memiliki berat 650 kg,” sambungnya.(*/Ela)

Baca Juga

Kondisi monil carry yang rusak parah usai kecelakaan di Jalan Raya Padang–Bukittinggi. (Foto: Polres Padang Pariaman)
Kecelakaan Beruntun di Padang Pariaman, Satu Penumpang Carry Meninggal
Petugas KAI menutup perlintasan liar selebar dua meter di Padang Pariaman. (Foto: Humas KAI Divre II Sumbar)
KAI Divre II Sumbar Tutup Perlintasan Liar di Padang Pariaman
Wakil Ketua DPRD Sumbar, Eviyandri. (Foto: Buliza Rahmat/Langgam.id)
DPRD Sumbar Akan Bentuk Pansus, Usut 371 Buruh Perusahaan Kelapa Dipecat dan Tak Digaji
Direktur LBH Padang, Diki Rafiki, saat diwawancara awak media. (Foto: Buliza Rahmat/Langgam.id)
Nasib Pilu 371 Buruh Perusahaan Kelapa di Padang Pariaman, Dipecat Tanpa Surat dan Gaji
Sejumlah warga menyeberangi sungai Batang Anai mengunakan rakit. (Foto: Camat 2x11 Kayu Tanam)
Jembatan Darurat Rusak Lagi, Putus Akses 3 Nagari di Padang Pariaman hingga Menyeberang Pakai Rakit
Ahli Waris Korban Bencana 2025 di Padang Pariaman Terima Santunan
Ahli Waris Korban Bencana 2025 di Padang Pariaman Terima Santunan