<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Beruk Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/beruk/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/beruk/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Jun 2021 04:08:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Beruk Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/beruk/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>3 Beruk Berkeliaran Ganggu Tanaman Warga di Agam</title>
		<link>https://langgam.id/3-beruk-berkeliaran-ganggu-tanaman-warga-di-agam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rahmadi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2021 04:08:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Agam]]></category>
		<category><![CDATA[Beruk]]></category>
		<category><![CDATA[BKSDA Agam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=107944</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat (Sumbar) Resort Agam melakukan penanganan konflik antara manusia dan satwa liar jenis beruk (macaca nemestrina) di Jorong Balai I, Nagari Malalak Selatan, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam. Kepala BKSDA Resort Agam Ade Putra mengatakan, pihaknya mendatangi lokasi Senin (7/6/2021). Berdasarkan verifikasi lapangan, menurut keterangan warga setempat, ada tiga ekor beruk yang berkeliaran. &#8220;Beruk yang berkeliaran terdiri dari dua ekor betina dan satu ekor beruk jantan dan telah menggangu tanaman warga,&#8221; katanya, Selasa (8/6/2021). Ade menambahkan, khusus beruk jantan, karena ukurannya yang besar dan agresif, membuat warga resah dan takut. Sebab, tidak</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/3-beruk-berkeliaran-ganggu-tanaman-warga-di-agam/">3 Beruk Berkeliaran Ganggu Tanaman Warga di Agam</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong><a href="http://langgam.id">Langgam.id</a> &#8211;</strong> Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat (Sumbar) Resort Agam melakukan penanganan konflik antara manusia dan satwa liar jenis beruk (macaca nemestrina) di Jorong Balai I, Nagari Malalak Selatan, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam.</p>
<p dir="ltr">Kepala <a href="http://bksdasumbar.org/">BKSDA</a> Resort Agam Ade Putra mengatakan, pihaknya mendatangi lokasi Senin (7/6/2021). Berdasarkan verifikasi lapangan, menurut keterangan warga setempat, ada tiga ekor beruk yang berkeliaran.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Beruk yang berkeliaran terdiri dari dua ekor betina dan satu ekor beruk jantan dan telah menggangu tanaman warga,&#8221; katanya, Selasa (8/6/2021).</p>
<p dir="ltr">Ade menambahkan, khusus beruk jantan, karena ukurannya yang besar dan agresif, membuat warga resah dan takut. Sebab, tidak jarang beruk itu mengejar manusia. Tim yang mendatangi lokasi selanjutnya melakukan wawancara saksi mata dan melaksanakan identifikasi lapangan.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Selanjutnya kepada warga diberikan sosialisasi dan edukasi pencegahan gangguan dari satwa beruk dan apabila masih terjadi kemunculan, maka akan dilakukan penanganan oleh BKSDA,&#8221; katanya.</p>
<p dir="ltr">Menurutnya, beruk jantan itu mengincar beruk betina peliharaan warga disebabkan sedang birahi. Sementara dua ekor bertinanya tidak lagi muncul dalam satu bulan belakangan. Pihaknya akan melakukan penangkapan jika beruk itu kembali muncul.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Sekarang kami masih menangani makhluk misterius di Palembayan, jadi warga kami arahkan utk mengusir dulu. Kemarin beruk itu sempat bertemu dengan petugas, tapi dia kabur. Dari ukurannya lebih besar dari beruk yang mengganggu dan masuk asrama siswi di Lubuk  Basung dulu,&#8221; ujarnya.<strong> (Rahmadi/yki)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/3-beruk-berkeliaran-ganggu-tanaman-warga-di-agam/">3 Beruk Berkeliaran Ganggu Tanaman Warga di Agam</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">107944</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Resahkan Warga dan Serang Siswa Sekolah, Seekor Beruk Ditangkap BKSDA Agam</title>
		<link>https://langgam.id/resahkan-warga-dan-serang-siswa-sekolah-seekor-beruk-ditangkap-bksda-agam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rahmadi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2021 02:33:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Beruk]]></category>
		<category><![CDATA[BKSDA Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=96371</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat (Sumbar) Resor Agam menangkap seekor beruk liar atau macaca nemesterina yang meresahkan warga dan siswa di SMK Plus Perbankan Bugenvil Lubukbasung, Agam, Kamis (26/3/2021). Kepala BKSDA Sumbar Resort Agam Ade Putra menjelaskan, beruk itu berhasil masuk perangkap sekitar pukul 19.30 WIB malam. Beruk itu masuk perangkap setelah dipasang sore hari. &#8220;Beruk liar itu berhasil masuk ke kandang jebak. Beruk itu masuk ke dalam kandang sekitar dua jam setelah dipasang,&#8221; katanya, Jumat (26/3/2021). Ia mengatakan, beruk itu usai ditangkap dievakuasi ke Kantor Resor Konservasi Sumber Daya Alam Agam. Saat evakuasi, tambahnya,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/resahkan-warga-dan-serang-siswa-sekolah-seekor-beruk-ditangkap-bksda-agam/">Resahkan Warga dan Serang Siswa Sekolah, Seekor Beruk Ditangkap BKSDA Agam</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong><a href="http://langgam.id">Langgam.id </a>&#8211;</strong> Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat (Sumbar) Resor Agam menangkap seekor beruk liar atau <em>macaca nemesterina</em> yang meresahkan warga dan siswa di SMK Plus Perbankan Bugenvil Lubukbasung, Agam, Kamis (26/3/2021).</p>
<p dir="ltr">Kepala <a href="http://bksdasumbar.org/">BKSDA</a> Sumbar Resort Agam Ade Putra menjelaskan, beruk itu berhasil masuk perangkap sekitar pukul 19.30 WIB malam. Beruk itu masuk perangkap setelah dipasang sore hari.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Beruk liar itu berhasil masuk ke kandang jebak. Beruk itu masuk ke dalam kandang sekitar dua jam setelah dipasang,&#8221; katanya, Jumat (26/3/2021).</p>
<p dir="ltr">Ia mengatakan, beruk itu usai ditangkap dievakuasi ke Kantor Resor Konservasi Sumber Daya Alam Agam. Saat evakuasi, tambahnya, beruk itu sangat agresif sehingga tim Resor Konservasi Sumber Daya Alam Agam dan warga sekitar kesulitan.</p>
<p dir="ltr"><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://langgam.id/disembunyikan-dalam-kotak-lampu-pelaku-perdagangan-kukang-ditangkap/">Disembunyikan Dalam Kotak Lampu, Pelaku Perdagangan Kukang Ditangkap</a></p>
<p dir="ltr">Ade menjelaskan, beruk yang meresahkan warga semenjak satu bulan terakhir itu, kemudian dilepasliar ke habitatnya di hutan cagar alam. Pelaksanaan lepas liar dilakukan pagi ini. Lepas liar dilakukan karena beruk dalam kondisi sehat.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Beruk itu tidak ada cacat ataupun luka. Kita lepasliarkan pagi ini di kawasan hutan suaka margasatwa Malampah Alahan Panjang, Kabupaten Pasaman,&#8221; katanya.</p>
<p dir="ltr">Sebelumnya, Resor Konservasi Sumber Daya Alam Agam mendapatkan informasi terkait konflik satwa liar dengan manusia dari pihak SMK Plus Perbankan Bugenvil Lubuk Basung.</p>
<p dir="ltr"><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://langgam.id/sempat-dikira-macan-dahan-3-kucing-hutan-diserahkan-warga-payakumbuh-ke-bksda/">Sempat Dikira Macan Dahan, 3 Kucing Hutan Diserahkan Warga Payakumbuh ke BKSDA</a></p>
<p dir="ltr">Mendapat informasi itu, pihaknya menurunkan tim untuk identifikasi lapangan dan memasang kandang jebak.</p>
<p dir="ltr">Beruk itu sempat masuk ke dalam asrama putri, kamar mandi, lingkungan sekolah dan mengejar salah seorang siswa saat hendak pergi salat Subuh. Siswa itu langsung menghindar dari beruk  sambil menuju lokasi teman yang lainnya.</p>
<p dir="ltr">Beruk itu muncul ke lingkungan sekolah setiap sore, malam dan pagi semenjak satu bulan terakhir. Namun pada siang hari, beruk itu bersembunyi ke lokasi lain dan keluar sekitar pukul 17.00 WIB.</p>
<p dir="ltr">Seluruh siswa resah dengan keberadaan beruk tersebut, sehingga pihak sekolah melaporkan ke BKSDA Sumbar Resort Agam.<strong> (Rahmadi/yki)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/resahkan-warga-dan-serang-siswa-sekolah-seekor-beruk-ditangkap-bksda-agam/">Resahkan Warga dan Serang Siswa Sekolah, Seekor Beruk Ditangkap BKSDA Agam</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">96371</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tukang Beruk, Upahnya Bisa Uang Atau Buah Kelapa</title>
		<link>https://langgam.id/tukang-beruk-upahnya-bisa-uang-atau-buah-kelapa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2020 08:57:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Beruk]]></category>
		<category><![CDATA[Kelapa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=71910</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Beruk (Macaca Nemestrina) yang dikendalikan seseorang atau disebut tukang beruk, masih menjadi andalan bagi sebagian masyarakat Pariaman hingga Agam untuk memetik kelapa. Menariknya, upah sang tukang beruk bisa dengan uang atau kelapa saja. Seperti yang dilakukan Basir (58) warga Lubuk Basung, Kabupaten Agam ini misalnya. Dirinya sudah puluhan tahun menjadi tukang beruk atau orang yang berprofesi menawarkan jasa memetik kelapa menggunakan beruk. Menurut Basir, profesi tukang beruk di Lubuk Basung masih terbilang sangat dibutuhkan. Pasalnya, dalam seminggu beruk miliknya bisa 3-4 kali dibawa memanen kelapa. “Hanya orang-orang sekitar sini yang memanggil. Orang-orang yang tahu sama saya saja,” kata</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/tukang-beruk-upahnya-bisa-uang-atau-buah-kelapa/">Tukang Beruk, Upahnya Bisa Uang Atau Buah Kelapa</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Beruk (Macaca Nemestrina) yang dikendalikan seseorang atau disebut tukang beruk, masih menjadi andalan bagi sebagian masyarakat Pariaman hingga Agam untuk memetik kelapa.</p>
<p>Menariknya, upah sang tukang beruk bisa dengan uang atau kelapa saja.</p>
<p>Seperti yang dilakukan Basir (58) warga Lubuk Basung, Kabupaten Agam ini misalnya. Dirinya sudah puluhan tahun menjadi tukang beruk atau orang yang berprofesi menawarkan jasa memetik kelapa menggunakan beruk.</p>
<p>Menurut Basir, profesi tukang beruk di Lubuk Basung masih terbilang sangat dibutuhkan. Pasalnya, dalam seminggu beruk miliknya bisa 3-4 kali dibawa memanen kelapa.</p>
<p>“Hanya orang-orang sekitar sini yang memanggil. Orang-orang yang tahu sama saya saja,” kata Basir, sebagaimana dicuplik dari <em><a href="https://amcnews.co.id/2020/10/25/menengok-jasa-tukang-beruk-bisa-dibayar-uang-dan-buah-kelapa/">AMCNews.co.id</a></em>, Sabtu (24/10).</p>
<p>Diceritakan Basir, beruk yang dibawa memetik kelapa adalah beruk yang sudah terampil. Saat ini, dirinya mengaku memiliki 4 ekor beruk, yang kesemuanya dilatih sendiri.</p>
<p>“Dari kecil sama saya, jadi dia (beruk,red) sudah tahu siapa tuannya serta tahu kelapa mana yang harus diambil, dia paling takut jika saya marahi,” ujarnya.</p>
<p>Dalam sekali memetik kelapa, Basir biasanya mendapat bayaran kisaran Rp70-150 ribu. Jasa yang diterimanya tergantung pada jumlah batang kelapa yang akan dipetik.</p>
<p>Selain dibayar dengan uang, Basir juga menerima bayaran dalam bentuk buah kelapa. Disebutkannya, dalam 10 butir kelapa yang dipetik, dirinya mendapat jatah 3 butir sebagai upah yang diterima.</p>
<p>“Selama ini banyak yang bayar dengan kelapa, nanti kelapanya dijual, baru jadi duit,” ungkapnya.</p>
<p>Tugas tukang beruk, kata Basir, tidak hanya sekadar memetik kelapa saja. Akan tetapi, dirinya juga bertugas mengupas kelapa hingga membawanya ke rumah si pemilik.</p>
<p>“Kadang kalau tidak sempat sendiri, saya bawa tukang kupas, nanti penghasilnya dibagi,” sebut Basir.</p>
<p>Sementara itu, Liyusmarni (64) pemilik kebun kelapa di Lubuk Basung, mengaku sering menggunakan jasa tukang beruk. Dirinya mengaku terbantu dengan keberadaan tukang beruk.</p>
<p>“Paling tidak dalam empat bulan sekali pasti menggunakan jasa tukang beruk,” katanya.</p>
<p>Liyusmarni juga mengaku mempunyai tukang beruk langganan. Bahkan, katanya lagi, tanpa dicari pun mereka sudah tahu kapan jadwal kelapa miliknya dipanen.</p>
<p>“Kadang tidak tahu, terkadang sudah sampai di rumah saja. Namun, karena sudah langganan, saya percaya saja, berapa kelapa yang sampai di rumah yang segitu rezeki kita,” pungkasnya. <strong>(Osh)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/tukang-beruk-upahnya-bisa-uang-atau-buah-kelapa/">Tukang Beruk, Upahnya Bisa Uang Atau Buah Kelapa</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">71910</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menteri Desa PDTT Apresiasi Sekolah Beruk di Pariaman</title>
		<link>https://langgam.id/menteri-desa-pdtt-apresiasi-sekolah-beruk-di-pariaman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2020 09:41:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Beruk]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Pariaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=52546</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Abdul Halim Iskandar mengapresiasi adanya Sekolah Tinggi Ilmu Beruk (STIB) di Desa Apar, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, Sumatra Barat (Sumbar) yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat. &#8220;Sangat bagus itu, saya kira ini merupakan terobosan yang luar biasa,&#8221; ujarnya ketika berkunjung ke Kota Pariaman, Jumat (24/7/2020). Menurut Abdul Halim, untuk mencari pemanjat kelapa saat ini bukanlah hal yang mudah, itu butuh keahlian khusus. Apalagi, katanya, beruk atau kera ekor pendek itu bisa membedakan mana yang harus diperik dan mana yang tidak. &#8220;Saya tahu betul itu, di desa</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/menteri-desa-pdtt-apresiasi-sekolah-beruk-di-pariaman/">Menteri Desa PDTT Apresiasi Sekolah Beruk di Pariaman</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Abdul Halim Iskandar mengapresiasi adanya Sekolah Tinggi Ilmu Beruk (STIB) di Desa Apar, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, Sumatra Barat (Sumbar) yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat.</p>
<p>&#8220;Sangat bagus itu, saya kira ini merupakan terobosan yang luar biasa,&#8221; ujarnya ketika berkunjung ke Kota Pariaman, Jumat (24/7/2020).</p>
<p>Menurut Abdul Halim, untuk mencari pemanjat kelapa saat ini bukanlah hal yang mudah, itu butuh keahlian khusus.</p>
<p>Apalagi, katanya, beruk atau kera ekor pendek itu bisa membedakan mana yang harus diperik dan mana yang tidak. &#8220;Saya tahu betul itu, di desa saya juga ada kelapa,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Lebih lanjut, dikatakan Abdul halim, adanya sekolah beruk itu tidak hanya dapat dijadikan sebagai tempat melatih beruk. tapi, juga bisa dijadikan sebagai objek wisata yang akan menarik kunjungan wisatawan.</p>
<p>Ditegaskan Abdul Halim, dalam penggunaan dana desa, haruslah untuk hal-hal yang produktif, sehingga dana yang dikucurkan dapat digunakan untuk peningkatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa).</p>
<p>Sementara itu, Wali Kota Pariaman, Genius Umar menyebutkan, di sekolah itu, beruk dilatih untuk memetik kelapa dan pengelolaanya dilakukan oleh BUMDes. &#8220;Monyet itu dapat membedakan kelapa yang tua dan yang muda,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Bahkan, karena keunikannya, kata Genius, awal 2020 lalu STIB dikunjungi wisatawan mancangera, yaitu bersal dari China dan masih banyak lagi wisatan lokal yang telah mengunjungi sekolah beruk tersebut. <strong>(*/ZE)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/menteri-desa-pdtt-apresiasi-sekolah-beruk-di-pariaman/">Menteri Desa PDTT Apresiasi Sekolah Beruk di Pariaman</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">52546</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengenal ‘Baruak Gadang’ Penyerang Pengendara di Sitinjau Lauik, Dicurigai Bekas Peliharaan</title>
		<link>https://langgam.id/mengenal-baruak-gadang-penyerang-pengendara-di-sitinjau-lauik-dicurigai-bekas-peliharaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Irwanda Saputra]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Aug 2019 12:47:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Beruk]]></category>
		<category><![CDATA[Beruk Menyerang]]></category>
		<category><![CDATA[BKSDA Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[Sitinjau Lauik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=12290</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Seekor beruk yang menyerang sejumlah pengendara membuncah masyarakat Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) hingga warganet. Penyerangan tersebut dianggap meresahkan dan bahkan memicu kecelakaan. Apalagi, lokasi penyerangan satwa liar ini terjadi jalur pendakian rawan, kawasan Panorama Dua Sitinjau Lauik, Kecamatan Lubuk Kilangan. Aksi penyerangan beruk bernama ilmiah “macaca nemestrina” itu terlihat dari video yang diunggah oleh akun Instagram @picko_channel. Peristiwa dalam video itu direkam pada Sabtu (10/8/2019), pekan lalu. Ahli sekaligus Pengamat Primata Universitas Andalas (Unand) Rizaldi mengatakan, satwa yang beredar dalam video tersebut memang beruk yang biasa disebut beruk ekor babi. “Itu beruk ya, di video cuman satu</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-baruak-gadang-penyerang-pengendara-di-sitinjau-lauik-dicurigai-bekas-peliharaan/">Mengenal ‘Baruak Gadang’ Penyerang Pengendara di Sitinjau Lauik, Dicurigai Bekas Peliharaan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Seekor beruk yang menyerang sejumlah pengendara membuncah masyarakat Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) hingga warganet. Penyerangan tersebut dianggap meresahkan dan bahkan memicu kecelakaan. Apalagi, lokasi penyerangan satwa liar ini terjadi jalur pendakian rawan, kawasan Panorama Dua Sitinjau Lauik, Kecamatan Lubuk Kilangan.</p>
<p>Aksi penyerangan beruk bernama ilmiah “macaca nemestrina” itu terlihat dari video yang diunggah oleh akun Instagram @picko_channel. Peristiwa dalam video itu direkam pada Sabtu (10/8/2019), pekan lalu.</p>
<p>Ahli sekaligus Pengamat Primata Universitas Andalas (Unand) Rizaldi mengatakan, satwa yang beredar dalam video tersebut memang beruk yang biasa disebut beruk ekor babi.</p>
<p>“Itu beruk ya, di video cuman satu ekor. Jelas menyerang, menggapai mobil, mengejar pengendara sepeda motor. Satwa ini yang biasa dipakai orang untuk memetik buah kelapa,” ujar Rizaldi dihubungi <strong>langgam.id</strong>, Jumat (16/8/2019).</p>
<p>Dari tingkah laku yang terekam di video beredar, ia menduga, beruk ekor babi itu berjenis kelamin jantan dan sudah berusia dewasa. Satwa ini, bisa bertahan hidup mencapai usia 30 tahun.</p>
<p>Khusus di Sumbar, kata Rizaldi, beruk ekor babi di Sitinjau Lauik ini tidak sama dengan jenis beruk yang biasa dijumpai di kawasan Bungus Teluk Kabung, Lembah Anai hingga Kelok 44 Kabupaten Agam. Namun, penyebaran satwa ini memang luas sepanjang Pulau Sumatra, Kalimantan hingga semenanjung Malaysia.</p>
<p>“Sebarannya di mana saja. Biasanya lebih suka hidup di dalam hutan. Kalau di tempat lain itu (selain di Sitinjau Lauik), beruk ekor panjang namanya. Nah yang marah-marah di video itu, beruk ekor babi,” katanya.</p>
<p>Beruk ekor babi dikenal sebagai satwa pemakan segalanya (omnivora), mulai buah segar, muda dan termasuk beberapa serangga. Untuk pergerakan, satwa yang satu ini bisa hidup di atas pohon (arboreal) dan di atas tanah (terestrial).</p>
<p>Dari pergerakan yang bebas itulah yang membedakan beruk ekor babi dengan satwa sejeninya, seperti siamang dan lainnya. Dengan dua pergerakan itu, beruk ekor babi bisa disebutkan satwa semi terestrial.</p>
<p>Ada beberapa faktor yang memicu beruk melakukan aksi penyerangan kepada pengendara. Dugaan pertama mungkin karena beruk ekor babi ini tidak biasa hidup di hutan karena pernah dipelihara manusia.</p>
<p>“Beruk satu ini kayaknya sudah terbiasa dengan manusia dan sudah berani. Saya menduga, ini beruk ekor babi sengaja dilepas orang dan mungkin sudah pernah dilatih atau dipelihara untuk memetik kelapa,” jelasnya.</p>
<p>Sebagian besar, lanjutnya, beruk ekor babi sebesar itu memang ganas dan sering marah kepada tuannya. Namun, jika beruk ini terbiasa hidup di hutan dan tidak berinteraksi, akan takut dengan manusia.</p>
<p>&#8220;Untuk faktor kedua, ini namanya beruk tungga kalau bahasa Minang-nya. Beruk tungga yang sudah menyendiri. Jantan besar suka menyendiri bisa diakibatkan karena sudah mundur dari jabatannya sebagai alfamel (pimpinan kelompok). Mungkin sudah tua atau dikalahkan dengan lawannya sejenis&#8221; bebernya.</p>
<p>Hal inilah mungkin yang menyebabkan beruk ekor babi di video itu, tidak bergabung dan terasing dari kelompoknya. Namun biasanya, satwa yang telah terasingkan atau mundur dari sebagai pemimpin kelompok, tidak berbahaya dan melakukan penyerangan.</p>
<p>&#8220;Yang jelas beruk ekor babi ini biasa hidup dalam kelompok besar. Ada betina dan jantan. Sementara yang di video itu soliter (sendiri). Makanya saya curiga ini beruk memang sengaja dilepaskan orang,&#8221; katanya.</p>
<p><strong>Harus Ditangkap</strong></p>
<p>Rizaldi menegaskan, aksi penyerangan beruk ekor babi kepada pengendara di Jalur Sitinjau Lauik ini mesti segera ditindak cepat oleh pihak terkait. Sebab, hal ini sangat berbahaya dan memang bisa menimbulkan kecelakaan.</p>
<p>Menurutnya, satwa satu ini telah menguasai kawasan itu yang dianggap sebagai daerahnya. Sebab ini jugalah yang membuat beruk ekor babi semakin berani melakukan penyerangan kepada pengendara yang melintas di kawasan daerahnya.</p>
<p>“Secepatnya beruk ekor babi ini harus ditangkap, karena sudah merasa berani dan menguasai. Jadi apa yang harus dilakukan, tangkap dan dipindahkan ke tempat jauh ke dalam hutan, kalau dibiarkan bahaya bisa menimbulkan kecelakaan,” tegasnya.</p>
<p>Ia mengatakan, tidak ada tips khusus untuk menghindar atau mengatasi serangan beruk ekor babi tersebut. Sebab, satwa satu ini melakukan penyerangan dengan mendadak kepada pengendara. Namun ia berpesan agar warga yang berada di sekitar lokasi untuk menangkapnya jika terlihat.</p>
<p>“Tips menangkapnya hanya satu, serang secara bersama-sama. Jangan takut, karena beruk ekor babi memahami ekspresi manusia yang ketakutan sehingga satwa ini akan semakin menyerang,” bebernya.</p>
<p>Rizaldi khawatir apabila tidak ditindak tegas dan dibiarkan, penyerangan beruk ekor babi ini nantinya akan menimbulkan korban jiwa. Bahkan apabila satwa ini rabies tentu akan bahaya bagi korban yang terkena gigitannya.</p>
<p>&#8220;Yang jelas taring beruk ekor babi sangat tajam dan panjang ya, bahaya dan beresiko sekali. Meskipun tidak terinfeksi kuman dan lainnya, tapi gigitan beruk ekor babi cukup untuk melukai apalagi yang jantan,&#8221; pungkasnya. <strong>(Irwanda</strong><strong>/RC</strong><strong>)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-baruak-gadang-penyerang-pengendara-di-sitinjau-lauik-dicurigai-bekas-peliharaan/">Mengenal ‘Baruak Gadang’ Penyerang Pengendara di Sitinjau Lauik, Dicurigai Bekas Peliharaan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">12290</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Cerita Pengendara yang Diserang &#8216;Baruak Gadang’ Sitinjau Lauik</title>
		<link>https://langgam.id/cerita-pengendara-yang-diserang-beruk-gadang-sitinjau-lauik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Irwanda Saputra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Aug 2019 07:32:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Beruk]]></category>
		<category><![CDATA[Beruk Menyerang]]></category>
		<category><![CDATA[BKSDA Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[Sitinjau Lauik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=12174</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Seekor beruk yang menyerang pengendara membuncah masyarakat Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) hingga warganet. Aksi beruk liar itu dianggap meresahkan dan bisa memicu kecelakaan. Apalagi, penyerangan ini terjadi di jalur pendakian rawan, tepatnya di Panorama Dua Sitinjau Lauik, Kecamatan Lubuk Kilangan. Aksi penyerangan dilakukan satwa yang memiliki nama ilmiah “macaca nemestrina” itu terlihat dari video yang diunggah akun Instagram @picko_channel. Diketahui, peristiwa dalam video itu direkam pada Sabtu (10/8/2019) kemarin. Usut punya usut, aksi penyerangan satwa ini, bukan kali pertama terjadi. Beruk itu ternyata sudah agresif kepada pengendara sejak beberapa bulan belakangan. Hal ini pernah dialami Desrian, salah</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/cerita-pengendara-yang-diserang-beruk-gadang-sitinjau-lauik/">Cerita Pengendara yang Diserang &#8216;Baruak Gadang’ Sitinjau Lauik</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Seekor beruk yang menyerang pengendara membuncah masyarakat Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) hingga warganet. Aksi beruk liar itu dianggap meresahkan dan bisa memicu kecelakaan. Apalagi, penyerangan ini terjadi di jalur pendakian rawan, tepatnya di Panorama Dua Sitinjau Lauik, Kecamatan Lubuk Kilangan.</p>
<p>Aksi penyerangan dilakukan satwa yang memiliki nama ilmiah “macaca nemestrina” itu terlihat dari video yang diunggah akun Instagram @picko_channel. Diketahui, peristiwa dalam video itu direkam pada Sabtu (10/8/2019) kemarin.</p>
<p>Usut punya usut, aksi penyerangan satwa ini, bukan kali pertama terjadi. Beruk itu ternyata sudah agresif kepada pengendara sejak beberapa bulan belakangan. Hal ini pernah dialami Desrian, salah seorang karyawan swasta di Kota Padang.</p>
<p>Desrian menceritakan, peristiwa penyerangan beruk yang dialaminya terjadi pada Juni 2019 lalu. Saat itu, pria 30 tahun ini melintas di Jalur Sitinjau Lauik dari Sawahlunto menuju Kota Padang dengan mengendarai sepeda motor.</p>
<p>“Waktu itu biasa ya, saya pulang kampung akhir pekan. Sekembalinya dari kampung di Sawahlunto menuju Padang ,arus kendaraan lancar. Namun setelah melewati panorama satu, sebelum tikungan ke kanan dekat pos warga, saya melihat seekor beruk,&#8221; ujar Desrian kepada <strong>langgam.id</strong>, Rabu (14/8/2019).</p>
<p>Ukuran dan bentuk beruk yang dilihatnya persis mirip seperti video yang beredar. Awalnya, satwa itu hanya diam seperti biasa. Namun, ketika kendaraannya melintas, beruk langsung mengejar.</p>
<p>&#8220;Setelah jarak motor yang saya kendarai dekat dengan jarak jangkauan beruk, tiba-tiba hewan ini menerkam bagian kaki saya. Karena memang jangkauan beruk ini hanya sampai kaki. Kaget, saya refleks cepat menghindari,&#8221; katanya.</p>
<p>Ia mengaku sangat beruntung bisa selamat dari cengkraman beruk itu. Kemudian setelah lolos dan berada jauh dari posisi beruk, Desrian memberhentikan kendaraannya.</p>
<p>&#8220;Setelah beberapa meter dari jarak beruk baru saya berhenti. Terus saya lihat kebelakang ternyata pengendara yang melintas lainnya juga mengalami kejadian serupa,&#8221; bebernya.</p>
<p>Penyerangan yang dialami pengendara diyakini hanya dilakukan seekor beruk tersebut. Di sekitar lokasi, ia tidak melihat adanya segerombolan beruk lainnya.</p>
<p>&#8220;Ini tentu sangat berbahaya bagi pengendara, khususnya roda dua. Bisa kecelakaan. Pihak terkait kalau dapat cepat mulai bertindak sebelum jatuh korban, apalagi aksi beruk ini kembali terjadi hingga viral,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Meski meminta segera ditindak, Desrian berharap pihak terkait tidak membunuh satwa tersebut. Ia berharap agar satwa dapat ditangkap hidup-hidup kemudian selanjutnya apakah dibina di penangkaran atau sebagiannya.</p>
<p>&#8220;Beruk yang satu ini memang lain dari yang lain ya, karena sendiri-sendiri saja. Padahal kan beruk hidup berkelompok tapi ini enggak. Enggak tahu juga ya kenapa, mungkin pihak terkait bisa menjelaskan,&#8221; pungkasnya.<strong> (Irwanda</strong><strong>/RC</strong><strong>)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/cerita-pengendara-yang-diserang-beruk-gadang-sitinjau-lauik/">Cerita Pengendara yang Diserang &#8216;Baruak Gadang’ Sitinjau Lauik</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">12174</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ganggu Pengendara, Pemko Padang Buru Beruk di Sitinjau Lauik</title>
		<link>https://langgam.id/pemko-padang-cek-ke-lapangan-beruk-yang-serang-pengendara-di-sitinjau-lauik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Irwanda Saputra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Aug 2019 06:12:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Beruk]]></category>
		<category><![CDATA[Beruk Menyerang]]></category>
		<category><![CDATA[BKSDA Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=12113</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Seekor beruk menyerang para pengendara membuat heboh masyarakat Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) hingga warganet karena dianggap meresahkan dan bisa memicu kecelakaan. Apalagi penyerangan satwa kepada pengendara ini, terjadi di jalur lintas sumatra tepatnya di Panorama Dua Sitinjau Lauik, Kecamatan Lubuk Kilangan. Aksi penyerangan dilakukan satwa yang memiliki nama ilmiah “macaca nemestrina” itu terlihat dari video yang diunggah oleh akun Instagram @picko_channel. Diketahui, peristiwa dalam video itu direkam pada Sabtu (10/8/2019) kemarin. Namun Pemerintah Kota (Pemko) Padang menyebutkan saat ini aksi penyerangan beruk terhadap pengendara yang melintas di Sitinjau Lauik tidak terjadi lagi. Dinas Pertanian Kota Padang yang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pemko-padang-cek-ke-lapangan-beruk-yang-serang-pengendara-di-sitinjau-lauik/">Ganggu Pengendara, Pemko Padang Buru Beruk di Sitinjau Lauik</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Seekor beruk menyerang para pengendara membuat heboh masyarakat Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) hingga warganet karena dianggap meresahkan dan bisa memicu kecelakaan. Apalagi penyerangan satwa kepada pengendara ini, terjadi di jalur lintas sumatra tepatnya di Panorama Dua Sitinjau Lauik, Kecamatan Lubuk Kilangan.</p>
<p>Aksi penyerangan dilakukan satwa yang memiliki nama ilmiah “macaca nemestrina” itu terlihat dari video yang diunggah oleh akun Instagram @picko_channel. Diketahui, peristiwa dalam video itu direkam pada Sabtu (10/8/2019) kemarin.</p>
<p>Namun Pemerintah Kota (Pemko) Padang menyebutkan saat ini aksi penyerangan beruk terhadap pengendara yang melintas di Sitinjau Lauik tidak terjadi lagi. Dinas Pertanian Kota Padang yang berwenang di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) yang menjadi habitat beruk mengaku telah melakukan pengecekan.</p>
<p>&#8220;Kemarin sudah tidak ada itu (beruk) di jalanan. Kalau muncul lagi baru nanti kami koordinasikan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar,&#8221; ujar Kepala Dinas Pertanian, Syaiful Bahri dihubungi <strong>langgam.id</strong>, Rabu (14/8/2019).</p>
<p>Ia mengakui jalur Sitinjau Lauik berada di kawasan yang dikelilingi Tahura. Hal ini wajar kalau beruk turun ke jalan karena berdekatan di habitat satwa. &#8220;Itu masuk tahura semua, komunitas satwa memang di situ, ada beruk, monyet dan harimau. Kalau jalan blok khusus,&#8221; kata dia.</p>
<p>Terkait apakah aksi beruk sudah masuk kategori meresahkan, Syaiful hanya menjawab pihaknya tidak menemukan satwa itu saat pemantauan. Apabila ditemukan, ia dan tim akan kembali turun ke lokasi.</p>
<p>&#8220;Kami sudah lewat di sana (Sitinjau Lauik) tidak ada, sudah kami cek. Jadi kalau memang ada kami ulang lagi. (kalau meresahkan) baru nanti koordinasi dengan BKSDA Sumbar,&#8221; tegasnya.</p>
<p>&#8220;Yang kemarin di gambar (video) itu kan cuman satu. Kemarin sudah cek, tidak ada. Kalau nampak lagi batu standby-kan BKSDA,&#8221; sambung Syaiful.</p>
<p>Sebelumnya, BKSDA Sumbar mengaku tidak bisa bertindak untuk menangkap satwa itu sebelum perintah Pemko Padang. Hal itu disebabkan karena beruk berada di kawasan Tahura di bawah wewenang Pemko.</p>
<p>&#8220;Tahura itu pengawasan dan dalam pengelola di bawah Pemko Padang. Kalau istilah untuk pengamanan satwa itu kita bisa saja melumpuhkan tapi harus menunggu perintah dari Pemko Padang karena berada di wilayah Tahura,&#8221; kata Kasat Polisi Hutan BKSDA Sumbar, Joni Akbar.</p>
<p>Selain menunggu atensi Pemko Padang, Joni mengatakan pihaknya juga tidak bisa bertindak sewenang-wenang kepada satwa di dalam hutan. Meskipun satwa tersebut tidak dilindungi.</p>
<p>&#8220;Kalau satwa di dalam hutan kami tidak bisa bertindak. Kecuali Pemko Padang meminta untuk melumpahkan, apalagi satwa itu tidak dilindungi ya,&#8221; kata dia. <strong>(Irwanda)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pemko-padang-cek-ke-lapangan-beruk-yang-serang-pengendara-di-sitinjau-lauik/">Ganggu Pengendara, Pemko Padang Buru Beruk di Sitinjau Lauik</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">12113</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Beruk Serang Pengendara di Sitinjau Lauik, BKSDA Tunggu Permintaan Pemko Padang</title>
		<link>https://langgam.id/beruk-serang-pengendara-di-sitinjau-lauik-bksda-tunggu-permintaan-pemko-padang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Irwanda Saputra]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Aug 2019 04:12:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Beruk]]></category>
		<category><![CDATA[Beruk Menyerang]]></category>
		<category><![CDATA[BKSDA Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=12027</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Seekor beruk menyerang para pengendara yang hendak melintas di jalur lintas sumatra tepatnya di Panorama Dua Sitinjau Lauik, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar). Penyerangan yang dilakukan satwa dengan nama ilmiah &#8220;Macaca nemestrina&#8221; itu terlihat dari video yang diunggah oleh akun Instagram @picko_channel. Dari video yang berdurasi 59 detik itu, tampak seekor beruk beberapa kali menyerang pengendara yang melintas. Mulai penyerangan kepada pengendara yang mengunakan sepeda motor hingga mobil pribadi. Para pengendara yang takut dan kaget langsung menghindar dari serangan beruk tersebut. Terlihat juga pengendara sepeda motor terpaksa menambah laju kendaraannya agar terhindar dari serangan hewan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/beruk-serang-pengendara-di-sitinjau-lauik-bksda-tunggu-permintaan-pemko-padang/">Beruk Serang Pengendara di Sitinjau Lauik, BKSDA Tunggu Permintaan Pemko Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Seekor beruk menyerang para pengendara yang hendak melintas di jalur lintas sumatra tepatnya di Panorama Dua Sitinjau Lauik, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar). Penyerangan yang dilakukan satwa dengan nama ilmiah &#8220;Macaca nemestrina&#8221; itu terlihat dari video yang diunggah oleh akun Instagram @picko_channel.</p>
<p>Dari video yang berdurasi 59 detik itu, tampak seekor beruk beberapa kali menyerang pengendara yang melintas. Mulai penyerangan kepada pengendara yang mengunakan sepeda motor hingga mobil pribadi.</p>
<p>Para pengendara yang takut dan kaget langsung menghindar dari serangan beruk tersebut. Terlihat juga pengendara sepeda motor terpaksa menambah laju kendaraannya agar terhindar dari serangan hewan berbulu itu.</p>
<p>Selain itu, dari video juga jelas beruk tersebut juga mencoba menggapai jendela mobil yang melintas di dekatnya. Meskipun demikian, mobil yang melaju kencang membuat hewan itu tidak bisa berbuat lebih banyak.</p>
<p>&#8220;<em>Assalamualaikum wr wb.!! Sekedar informasi bagi dunsanak yang akan melewati jalur sitinjau lauik , karna sekarang ada seekor monyet yang suka menyerang pengendara terutama motor!! Monyet tersebut biasanya berada di dua titik yaitunya diatas panorama dua dekat tanjakan tunggua, dan dibawah panorama dua tepatnya di kelok s, maka dari itu admin himbau kepada pengendara sangatlah berhati hati terutama motor.. (cuplikan video singkat , yang lengkap langsung ke youtube picko channel)</em>,&#8221; tulis unggahan video akun Instagram @picko_channel.</p>
<p>Pemilik akun Instagram picko_channel yang dihubungi <strong>Langgam.id</strong>, membenarkan aksi penyerangan yang dilakukan beruk kepada pengendara itu. Dikatakannya, peristiwa di video miliknya terjadi pada Sabtu (10/8/2019).</p>
<p>&#8220;Sampai sekarang beruk itu selalu turun ke jalan, tapi jamnya tidak menentu. Yang sering menyerang pengendara dan mengganas cuman satu ekor itu yang memiliki tanda hidungnya pecah. Kalau beruk memang banyak di kawasan tersebut,&#8221; kata Picko Widiacandra dihubungi <strong>langgam.id</strong>, Selasa (13/8/2019).</p>
<p>Ia mengatakan korban penyerangan yang sering dilakukan beruk sering kepada pengendara sepeda motor. Tindakan itu memang membuat pengendara harus lebih waspada dan berhati-hati. Bukan hanya pengendara sepeda motor, beruk itu terkadang juga berupaya menyerang mobil.</p>
<p>&#8220;Tapi kalau mobil, beruk tidak bisa menjangkau karena tertutup. Kalau sepeda motor kan bisa bahaya jadinya,&#8221; kata dia.</p>
<p>Sementara itu menanggapi serangan beruk yang telah mengawatirkan bagi pengendara, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar mengaku tidak bisa bertindak sebelum ada permintaan dari Pemerintah Kota (Pemko) Padang. Hal itu karena beruk berada di kawasan Tahura (Taman Hutan Raya).</p>
<p>&#8220;Tahura itu pengawasan dan dalam pengelola di bawah Pemko Padang. Kalau istilah untuk pengamanan satwa itu kita bisa saja melumpuhkan tapi harus menunggu perintah dari Pemko Padang karena berada di wilayah Tahura,&#8221; kata Kasat Polisi Hutan BKSDA Sumbar, Joni Akbar dihubungi <strong>langgam.id</strong></p>
<p>Selain menunggu atensi Pemko Padang, Joni mengatakan pihaknya juga tidak bisa bertindak sewenang-wenang kepada satwa di dalam hutan. Meskipun satwa tersebut tidak dilindungi.</p>
<p>&#8220;Kalau satwa di dalam hutan kami tidak bisa bertindak. Kecuali Pemko Padang meminta untuk melumpuhkan, apalagi satwa itu tidak dilindungi ya,&#8221; kata dia.</p>
<p>Ia membeberkan penyerangan beruk kepada pengendara diduga telah minimnya pasokan makanan di habitatnya. Apalagi, kata Joni, kawasan Jalur Sitinjau Lauik masih merupakan kawasan gerombolan beruk tersebut dan banyaknya pedagang berjualan.</p>
<p>&#8220;Beruk yang agresif itu merupakan raja dari gerombolannya. Jadi memang menyerang kayak gitu kalau raja, karena dia berani. Kalau soal mencari makanan dia yang terdepan, setelah dia yang dapat makanan baru pengikutnya. Memang beruk raja itu juga melindungi gerombolannya,&#8221; katanya.<strong> (Irwanda/</strong>HM<strong>)</strong></p>
<p>Terkini:</p>
<p><a href="https://langgam.id/tak-bertemu-di-jalan-pemko-padang-koordinasi-dengan-bksda-bila-beruk-masih-ganggu-pengendara/">Tak Bertemu di Jalan, Pemko Padang Koordinasi dengan BKSDA Bila Beruk Masih Ganggu Pengendara</a></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/beruk-serang-pengendara-di-sitinjau-lauik-bksda-tunggu-permintaan-pemko-padang/">Beruk Serang Pengendara di Sitinjau Lauik, BKSDA Tunggu Permintaan Pemko Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">12027</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 26/58 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-04-08 20:33:01 by W3 Total Cache
-->