Langgam.id – Pengamat Lingkungan Sumatra Barat (Sumbar) Profesor Isril Berd mengungkapkan, keberadaan bangunan hotel dan fasilitas komersial di kawasan Lembah Anai, Kabupaten Tanah Datar, dinilai menghadapi risiko tinggi bencana banjir dan longsor.
Ia mengingatkan risiko itu tidak bisa diabaikan dalam pembangunan di kawasan tersebut. Lembah Anai merupakan kawasan yang secara historis berulang kali dilanda banjir dan longsor dengan catatan kejadian sejak 1889, 1904 hingga 2024.
“Lembah Anai memang terpapar bencana, terutama banjir dan longsor. Siklus alam seperti ini akan terus berulang,” ujar Isril, Selasa (15/9/2026).
Menurut Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Sumbar itu, risiko terhadap bangunan semakin besar karena kapasitas badan sungai di Lembah Anai terbatas dibandingkan debit banjir yang dapat terjadi.
Ia mencontohkan bencana 11 Mei 2024. Curah hujan di sekitar Gunung Marapi saat itu mencapai sekitar 130 milimeter, dan menghasilkan debit banjir sekitar 400,3 meter kubik per detik. Sementara kapasitas badan sungai di Lembah Anai disebut hanya sekitar 114 meter kubik per detik.
“Kalau debit banjir sekitar 400 meter kubik per detik, sementara kapasitas sungai hanya sekitar 114 meter kubik per detik, kelebihan airnya sangat besar. Daya rusaknya juga besar,” jelasnya.
Kata Isril, kondisi tersebut menunjukkan bangunan yang berada di sekitar aliran sungai memiliki potensi terdampak ketika terjadi banjir besar.
Ia mengingatkan, kerusakan fasilitas di kawasan Lembah Anai sebelumnya sudah terjadi, termasuk restoran dan tempat pemandian.
“Ketika debit air meningkat, fasilitas di sekitar sungai bisa rusak. Karena itu, ruang aliran sungai harus tetap dijaga,” katanya.
Isril menolak pandangan bahwa risiko tersebut dapat diselesaikan hanya dengan membangun atau memperlebar tanggul dan badan sungai. Menurutnya, pelebaran sungai di Lembah Anai memiliki konsekuensi terhadap kestabilan lereng.
“Kalau sungai diperlebar dengan memotong kaki bukit, kestabilan lereng bisa terganggu. Kalau terjadi longsor, materialnya bisa menghantam bangunan yang berada di bawahnya,” ungkapnya.
Isril menilai kondisi itu menjadi alasan penting untuk mempertimbangkan kembali kelayakan bangunan komersial di kawasan Lembah Anai dari perspektif kebencanaan.
“Kalau suatu kawasan memiliki risiko tinggi, keselamatan dan keamanan harus menjadi pertimbangan utama sebelum bangunan didirikan,” tuturnya.
Ia juga menyoroti perubahan bentang alam dan berkurangnya tutupan hutan di kawasan hulu DAS. Kondisi itu, dapat memengaruhi kemampuan lingkungan menahan air dan meningkatkan limpasan menuju sungai.
“Jangan hanya melihat apakah bangunannya berdiri atau tidak. Lihat juga kemampuan DAS, kapasitas sungai, perubahan bentang alam, dan risiko bencananya,” ucap Isril.
Ia menegaskan sungai memiliki ruang aliran alami yang terbentuk berdasarkan kondisi lingkungan dan debit air. Gangguan terhadap ruang tersebut dapat meningkatkan risiko ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
“Berikan hak air untuk mengalir, jangan ganggu badan sungai. Kalau ruang air terganggu, yang menanggung risikonya bukan hanya bangunan, tetapi juga kawasan dan masyarakat di sekitarnya,” pungkasnya. (WAN)





