Pelemahan Momentum Ekonomi

Pelemahan Momentum Ekonomi

Syafruddin Karimi. (Foto: Ist)

Ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 masih tumbuh kuat secara tahunan, tetapi kehilangan akselerasi secara kuartalan. Data terbaru menunjukkan Produk Domestik Bruto tumbuh 5,61 persen y-on-y pada triwulan I-2026, sedangkan secara q-to-q terkontraksi -0,77 persen. Angka tahunan memberi kesan ekonomi tetap solid, tetapi kontraksi kuartalan memberi pesan lebih penting bagi pengambil kebijakan: mesin ekonomi tidak berhenti, tetapi tenaganya melemah. Karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia perlu membaca struktur pertumbuhan secara hati-hati, bukan hanya merayakan angka tahunan.

Struktur data lapangan usaha memperlihatkan pelemahan momentum tidak merata. Beberapa sektor masih tumbuh tinggi secara tahunan. Penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 13,14 persen y-on-y, dengan subsektor makan minum naik 15,20 persen. Transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04 persen, informasi dan komunikasi tumbuh 7,14 persen, jasa kesehatan tumbuh 7,62 persen, dan perdagangan besar-eceran tumbuh 6,26 persen. Angka ini menunjukkan permintaan jasa, mobilitas, konsumsi harian, dan aktivitas digital masih memberi dukungan ke ekonomi.

Akan tetapi, data kuartalan memberi gambar berbeda. Banyak sektor utama melemah secara q-to-q. Pertambangan dan penggalian turun -8,20 persen, konstruksi turun -4,47 persen, pengadaan listrik dan gas turun -5,23 persen, pendidikan turun -6,89 persen, serta jasa kesehatan turun -5,50 persen. Bahkan industri pengolahan, yang menjadi tulang punggung transformasi ekonomi, masih tumbuh 5,04 persen y-on-y, tetapi turun -1,01 persen q-to-q. Ini menandakan permintaan jangka pendek dan aktivitas produksi belum cukup kuat untuk menjaga akselerasi.

Pelemahan industri perlu menjadi perhatian serius. Industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,14 persen y-on-y, tetapi hampir stagnan secara kuartalan dengan kontraksi -0,08 persen q-to-q. Beberapa subsektor memang mencatat pertumbuhan tinggi, seperti industri mesin dan perlengkapan 21,93 persen y-on-y, industri barang logam, komputer, elektronik, optik, dan peralatan listrik 10,35 persen, serta industri makanan dan minuman 7,04 persen. Akan tetapi, sejumlah subsektor strategis melemah: industri alat angkutan turun -5,02 persen y-on-y, industri karet, barang dari karet dan plastik turun -9,01 persen, serta industri pengolahan tembakau turun -4,05 persen. Pola ini menunjukkan pertumbuhan manufaktur belum merata dan masih rentan terhadap tekanan biaya, kurs, permintaan, serta pembiayaan.

Sumber pelemahan momentum juga datang dari daya beli. Pertumbuhan upah Indonesia pada triwulan III-2025 hanya sekitar 1,94 persen, sedangkan inflasi konsumen pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen. Selisih ini menekan upah riil. Rumah tangga harus mengalokasikan pendapatan lebih besar untuk kebutuhan pokok, energi, transportasi, dan cicilan. Akibatnya, konsumsi barang tahan lama serta belanja berbasis kredit tertahan. Pertumbuhan perdagangan besar-eceran sebesar 6,26 persen y-on-y memang masih positif, tetapi subsektor perdagangan mobil, sepeda motor, dan reparasinya hanya tumbuh 1,03 persen y-on-y serta turun -1,65 persen q-to-q. Data ini memperkuat sinyal bahwa konsumsi bernilai besar mulai tertahan.

Suku bunga tinggi memperberat tekanan tersebut. Setelah keputusan 18 Juni 2026, BI Rate berada di 5,75 persen. Pada saat yang sama, yield SBN 10 tahun berada di sekitar 7,14 persen. Biaya modal tinggi menekan kredit investasi, kredit modal kerja, KPR, pembiayaan kendaraan, dan ekspansi usaha. Ketika pembiayaan mahal, perusahaan menunda investasi dan rumah tangga mengurangi konsumsi berbasis cicilan. Ini menjelaskan mengapa ekonomi dapat tumbuh kuat secara tahunan, tetapi tetap melemah secara kuartalan.

Rupiah yang berada sekitar Rp17.835 per dolar AS pada Juni 2026 juga memperbesar tekanan biaya. Depresiasi kurs menaikkan harga bahan baku impor, barang modal, komponen industri, energi, dan kewajiban valas. Perusahaan menghadapi pilihan sulit: menaikkan harga jual atau menerima margin yang lebih tipis. Keduanya dapat melemahkan momentum. Jika harga naik, daya beli makin turun. Jika margin turun, investasi dan produksi tertahan.

Premi risiko Indonesia yang mahal memperburuk situasi. Equity risk premium Indonesia mencapai 7,40, sedangkan CDS 10 tahun sekitar 142,49 pada Juni 2026. Pasar menuntut kompensasi besar karena membaca risiko fiskal, nilai tukar, regulasi, dan kredibilitas kebijakan. Kondisi ini membuat investor lebih defensif dan memperbesar biaya pembiayaan ekonomi. Dalam situasi seperti ini, kenaikan bunga tambahan di atas 5,75 persen sulit dibenarkan sebagai kebijakan dasar, karena estimasi output gap sekitar -2 persen menunjukkan ekonomi belum mengalami overheating.

Pemerintah perlu merespons pelemahan momentum dengan kebijakan yang langsung menyasar akar masalah. Pertama, jaga stabilitas rupiah tanpa menekan sektor riil secara berlebihan. Kedua, turunkan premi risiko melalui disiplin fiskal, kepastian regulasi, dan komunikasi kebijakan yang konsisten. Ketiga, lindungi daya beli kelompok rentan agar konsumsi tidak jatuh lebih dalam. Keempat, perkuat sisi penawaran melalui logistik, energi andal, pembiayaan produktif, dan iklim investasi.

Pertumbuhan 5,61 persen y-on-y pada triwulan I-2026 tetap patut dicatat positif. Akan tetapi, kontraksi -0,77 persen q-to-q memberi peringatan keras. Indonesia tidak sedang kekurangan angka pertumbuhan, tetapi sedang menghadapi pelemahan tenaga dorong. Tanpa perbaikan daya beli, biaya modal, stabilitas rupiah, dan kredibilitas kebijakan, pertumbuhan tinggi hanya akan tampak kuat di permukaan, sementara fondasi momentum terus melemah.

*Penulis: Syafruddin Karimi (Guru Besar Departemen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas)

Baca Juga

Salah Paham tentang Nasionalisme Anak Muda
Salah Paham tentang Nasionalisme Anak Muda
Mahasiswa Didengar, Pemerintah yang Akomodatif dan Korektif
Mahasiswa Didengar, Pemerintah yang Akomodatif dan Korektif
Corporate Finance di Era Keberlanjutan: From Managerial Ability to Market Stability
Corporate Finance di Era Keberlanjutan: From Managerial Ability to Market Stability
Negeri di Persimpangan Jalan
Negeri di Persimpangan Jalan
Pertarungan Realita dan Otorisasi Keotentikan Objek Nyata Tersembunyi
Pertarungan Realita dan Otorisasi Keotentikan Objek Nyata Tersembunyi
Teknologi Digital dan Imajinasi Baru Tentang Multikulturalisme
Teknologi Digital dan Imajinasi Baru Tentang Multikulturalisme