Langgam.id – Pengamat Lingkungan sekaligus Guru Besar Universitas Gunadarma Isril Berd, menyoroti keberadaan lahan kritis di Sumatra Barat (Sumbar) yang dinilai memiliki kaitan dengan tingginya kerentanan wilayah terhadap kebakaran.
Kata Isril, Sumbar diperkirakan memiliki sekitar 314.802 hektare lahan kritis. Sebagian besar lahan tersebut didominasi tutupan vegetasi berupa padang alang-alang (imperata cylindrica).
Lahan kritis itu, umumnya terbentuk akibat pembukaan hutan, perladangan berpindah, hingga kawasan yang ditinggalkan tanpa pengelolaan intensif.
“Pembukaan hutan dengan cara tebas-bakar untuk ladang berpindah, kemudian ditinggalkan karena tanah menjadi miskin hara, menjadi salah satu proses terbentuknya padang alang-alang,” ujar Isril, Jumat (14/8/2026).
Ia menjelaskan, ketika hutan dibuka, tanah kehilangan tutupan vegetasi serta akar pohon yang berfungsi menahan tanah. Air hujan kemudian langsung menghantam permukaan tanah sehingga lapisan tanah paling atas atau topsoil yang kaya unsur hara lebih mudah tererosi.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut menyebabkan unsur hara hilang, struktur tanah rusak, dan tingkat keasaman meningkat. Tanah akhirnya menjadi lebih padat, tandus, serta kurang produktif.
Kemudian, alang-alang justru memiliki kemampuan untuk berkembang dengan cepat. Tanaman tersebut dapat menyebar melalui biji maupun rimpang atau rhizome yang berada di dalam tanah.
“Ketika lahan mulai rusak dan miskin hara, tanaman hutan atau tanaman budidaya biasa tidak bisa hidup, tetapi alang-alang justru tumbuh subur. Akar rimpangnya mampu menghadapi tekanan kerusakan tanah, baik secara fisik maupun kimia,” jelasnya.
Menurut Isril, kondisi tersebut dapat membentuk siklus yang sulit diputus. Saat musim kemarau, alang-alang yang mengering menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.
Kebakaran dapat memusnahkan biji atau tanaman lain di permukaan tanah, sementara rimpang alang-alang yang berada di dalam tanah relatif tetap bertahan dan kembali tumbuh setelah kebakaran.
“Karena rimpang alang-alang tetap bertahan, setelah terbakar alang-alang dapat tumbuh kembali dan menjadi lebih dominan. Ini yang kemudian dapat mengunci status lahan menjadi padang alang-alang,” bebernya.
Isril menilai pengendalian karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah muncul. Pemerintah dan masyarakat perlu melakukan pencegahan dengan memperbaiki tata kelola lahan kritis, mencegah pembukaan hutan secara ilegal, serta mengurangi praktik pembakaran dalam pembukaan lahan.
Ia juga meminta kondisi kualitas udara di Sumbar terus dipantau, khususnya ketika angin membawa asap dari provinsi lain. Menurutnya, kewaspadaan diperlukan agar kebakaran lokal tidak berkembang menjadi karhutla yang lebih luas.
“Sumbar memang belum menghadapi kondisi seperti kebakaran besar di sejumlah wilayah di Pulau Jawa, tetapi potensi lokal tetap harus diamati. Jangan sampai titik api kecil berkembang karena kondisi lahan kering dan vegetasi yang mudah terbakar,” pungkasnya. (WAN)






