Langgam.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Barat mencatat penyaluran kredit perbankan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencapai Rp31,17 triliun pada Semester I 2026. Nilai tersebut setara dengan 40,11 persen dari total kredit yang disalurkan perbankan di Sumatera Barat.
Kepala OJK Sumatera Barat Roni Nazra mengatakan, total penyaluran kredit dan pembiayaan perbankan di Sumbar hingga Juni 2026 mencapai Rp77,70 triliun. Angka itu tumbuh 5,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Dari total penyaluran kredit Rp77,70 triliun, sebesar Rp31,17 triliun disalurkan kepada UMKM. Artinya, sekitar 40,11 persen kredit perbankan di Sumatera Barat mengalir ke sektor UMKM,” kata Roni, dikutip Senin (10/8/2026).
Meski porsinya masih mencapai 40,11 persen dari total kredit, Roni mengatakan penyaluran kredit UMKM tersebut secara tahunan mengalami kontraksi 1,44 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian dalam pengembangan sektor UMKM di Sumatera Barat. Akses pembiayaan bagi UMKM perlu terus diperkuat agar pelaku usaha dapat meningkatkan kapasitas produksi, mengembangkan usaha, dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah.
“Pembiayaan kepada UMKM harus terus didorong karena sektor ini memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian daerah dan membuka lapangan kerja,” ujarnya.
Di sisi lain, secara umum kinerja perbankan Sumatera Barat masih menunjukkan pertumbuhan positif. Total aset perbankan pada Juni 2026 tercatat Rp88,20 triliun, tumbuh 4,72 persen secara tahunan.
Sementara penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp65,55 triliun atau tumbuh 13,02 persen secara tahunan. Pertumbuhan DPK tersebut menunjukkan meningkatnya penghimpunan dana masyarakat di sektor perbankan.
Risiko kredit juga masih terjaga dengan rasio non-performing loan (NPL) sebesar 2,87 persen. Meski meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,65 persen, rasio tersebut masih menunjukkan kondisi risiko kredit yang terkendali.
Roni mengatakan OJK akan terus mendorong industri perbankan meningkatkan penyaluran pembiayaan secara sehat, termasuk kepada sektor UMKM. Penyaluran kredit tetap harus memperhatikan prinsip kehati-hatian agar pertumbuhan pembiayaan berjalan beriringan dengan kualitas kredit.
Selain perbankan konvensional, pembiayaan kepada UMKM juga dilakukan melalui perbankan syariah dan Bank Perekonomian Rakyat (BPR).
Perbankan syariah Sumbar hingga Juni 2026 mencatat total pembiayaan Rp13,27 triliun atau tumbuh 16,22 persen secara tahunan. Sementara BPR mencatat penyaluran kredit dan pembiayaan sebesar Rp2,27 triliun, dengan 71,15 persen di antaranya disalurkan kepada UMKM.
“Ini menunjukkan bahwa akses pembiayaan UMKM tidak hanya berasal dari perbankan umum, tetapi juga dari perbankan syariah dan BPR,” kata Roni.
OJK Sumbar menilai penguatan akses pembiayaan UMKM perlu dibarengi dengan peningkatan literasi dan kapasitas pelaku usaha. Dengan demikian, kredit yang diterima tidak hanya mampu meningkatkan skala usaha, tetapi juga dapat dikelola secara sehat dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, kondisi sektor jasa keuangan Sumatera Barat hingga Semester I 2026 masih terjaga dan turut menopang pertumbuhan ekonomi daerah. Perekonomian Sumbar pada triwulan II 2026 tumbuh 4,54 persen secara tahunan. (HER)






