Menguji Kesabaran Berskala Baik

Dr. Abdullah Khusairi, MA : Menguji Kesabaran Berskala Baik

Dr. Abdullah Khusairi, MA, Dosen Komunikasi Pemikiran Islam Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang. (IST)

"Sejarah negeri sedang melewati tikungan patah dan mendaki. Bersabarlah!" Ini kalimat yang ditulis di lini masa, beberapa hari lalu. Sebuah bentuk ungkapan untuk menghibur diri dan menyatakan kesabaran yang tengah diuji dalam bentuk wabah.

Telah satu bulan lebih membatasi diri untuk beraktivitas di luar rumah memang merasakan jenuh yang luar biasa. Kini tiba pula kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Semua harus patuh jika ingin cepat berlalu wabah ini. Jangan pernah menganggap enteng persoalan yang tak pernah engkau mengerti apa sesungguhnya sedang terjadi.

Memang, kepatuhan publik itu harus memiliki alasan yang masuk akal. Begitu mudah orang menolak karena kebutuhan hidup. Seberapa cukup isi kulkas untuk dimakan? Seberapa cukup isi rekening untuk memenuhi kebutuhan hingga hari-hari ke depan. Kabar menakutkan itu datang terus menerus tanpa jeda. Ada yang mengungkapkan bisa sampai Desember. Sepertinya ada segelintir yang bahagia terjadinya PSBB. Mungkin.

Semua orang terdampak tanpa terkecuali. Bedanya, skala dampaknya saja. Ada yang gawat, setengah gawat, sangat gawat, lebih gawat, dst. Siapa yang bisa membantu? Mengharapkan pemerintah? Itu bukan harapan, itu memang tugas yang telah diamanatkan dalam sistem demokrasi kita. Pemerintah harus memenuhi hajat hidup rakyat. Di sinilah masalahnya, ketika harapan begitu besar, senyatanya aparatur pemerintah juga gagap dalam menjalankan amanat di tengah wabah. Mereka juga terdampak.

Siang malam rapat ke rapat saja. Keputusan belum juga diambil. Salah mengambil keputusan dihujat, dihukum, dicaci, dimaki, di media sosial. Publik kita luar biasa hebat dalam hal itu di dunia maya. Ketika berhadapan dengan aparat baru ciut nyali. Emosi publik memang lepas di media sosial. Begitu pula, di bilik-bilik percakapan beradu argumen sok hebat. Macam putus saja persoalan di tangannya.

Hingga kini, bantuan belum juga datang. Entah siapa yang ingin mengantarkan ke depan pintu masyarakat. Belum jelas bayangannya. Ada yang jelas, masih terbatas. Itu jauh, di Jawa sana. Kebutuhan dasar tak bisa dielak. Kini bertambah pula dengan paket data untuk anak-anak mengikuti pendidikan online. Belum merata bantuan untuk itu. Baru satu provider.

Sedangkan korban wabah kian hari kian banyak saja. Ada yang tambah takut, ada yang tak mau tahu. Entah ketika PSBB ini, apakah ibu-ibu di pasar yang melengking melawan aparat itu akan dapat bantuan. Apa masih melawan juga. Semoga ia juga dapat. Selalu ada alasan kenapa ia harus melawan keadaan ketika kesempatan hidupnya dibatasi. Ini kalangan yang perlu sekali untuk segera mendapatkan bantuan. Sekarang. Tidak minggu depan, apalagi bulan depan. Tagihan kredit motor, tagihan PDAM, tagihan SPP anak sekolah, kontrakan, dan seterusnya. Apakah mereka dapat keringanan, menurut pemimpin kota, pemimpin daerah, pemimpin pusat, memang begitu. Saya selalu ragu dalam realisasi di negeri ini. Selalu saja ada yang bermain di air keruh.

Kesabaran dalam bentuk apakah yang perlu hadir di sanubari kita sebagai warga bangsa yang berpikir? Sabar level tertinggi. Puncak kesabaran. Apa puncak kesabaran, berserahlah kepada Ilahi. Akui selama ini, mungkin jauh dari-Nya. Akui kepada-Nya. Bukan kepada publik, bukan di media sosial.

Setelah semua usaha dijalani, mematuhi semua peraturan, lalu berserahlah. Inilah sandaran teologis paling mendasar yang diperlukan dalam hidup ini. Keterlenaan telah membuat sandaran ini terlupakan, hanya diingat di masa-masa sulit. Sekalipun beribadah saban hari, sandaran teologi kesabaran ini memang tak serta merta terungkit karena kehidupan bisa diselesaikan dengan pikiran, logika, tenaga, usaha. Ini waktunya menggunakan sandaran agar berada di rumah bukanlah sebuah kurungan tetapi sebuah kebajikan untuk diri, keluarga, juga orang banyak.

Kesabaran berhubungkait dengan kepatuhan, yang selama ini diabaikan. Tidak patuh itu dibanggakan, sedangkan bersikap patuh dianggap kalah. Di hari-hari kita banyak di jalan, betapa banyak yang melanggar peraturan lalu lintas. Entah tidak patuh, entah pula tidak tahu, tetapi telah mengambil jalur hak orang lain. Knalpot memekak telinga, dentum musik, semua itu sebenarnya tanda sikap berlebihan dan tak ingin patuh. Sikap protes yang salah arah dengan keadaan individu.

Apakah semua itu urusan pemerintah? Bisa jadi begitu tetapi tidak bisa keseluruhan. Pemerintah selama ini memang terlalu birokratif dan administratif dalam membangun jiwa masyarakat. Mungkin tidak ada fokus ke situ, kecuali dunia pendidikan. Pemerintah sibuk "membangun raga" dari pada "membangun jiwa" sehingga kehidupan sosial tidak terkendali dan dikendalikan oleh perkembangan pasar. Industri lebih kuat membangun watak publik dari pada pemerintah.

Kini ujian berat kepada siapapun, dengan kadar masing-masing, harus mampu menjalaninya. Apapun jabatan, status sosial, harus merasakan dampak dari wabah Covid-19 ini. Menguji kesabaran yang selama ini ---akui sajalah--- begitu buruk dijalankan. Selama ini, agaknya kita abaikan dalam hidup ini. Membiarkan hawa nafsu berkuasa, tak sabar, marah, kemaruk, jalang, rakus, iri, dengki, benci, dalam skala yang mungkin saja melewati ukuran seharusnya tetapi tidak tampak ke permukaan.

Seiring Bulan Suci Ramadhan tiba, ujian kesabaran itu beriringan pula dengan ujian kejujuran, berbasis ibadah yang menjadi titik perang terhadap hawa nafsu. Inilah ibadah yang menguji kesabaran. Bila lulus, insya allah menjadi baik. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga kita selamat dari ancaman wabah ini. Amin ya Rabb. []

Dr. Abdullah Khusairi. MA, Dosen Komunikasi Pemikiran Islam, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang

Baca Juga

Anggota Dewan Pembina DPP Partai Gerindra,Andre Rosiade mengucapkan selamat kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran
Anggap sebagai Kampung Halaman, Prabowo Berkomitmen Bangun Sumbar
KY Fokuskan Pemantauan Sidang Perempuan Berhadapan dengan Hukum
KY Fokuskan Pemantauan Sidang Perempuan Berhadapan dengan Hukum
Prabowo Terbang dari Abu Dhabi ke BIM Serahkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang, Andre: Bukti Cinta Sumbar
Prabowo Terbang dari Abu Dhabi ke BIM Serahkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang, Andre: Bukti Cinta Sumbar
Banjir Bandang di Sumbar, Korban Meninggal Dunia Jadi 37 Orang 
Banjir Bandang di Sumbar, Korban Meninggal Dunia Jadi 37 Orang 
Korban Banjir Bandang di Sumbar, BPBD: 34 Orang Meninggal Dunia 
Korban Banjir Bandang di Sumbar, BPBD: 34 Orang Meninggal Dunia 
Cerita Tukang Sablon yang Dibantu Andre Rosiade Lunasi Tunggakan Biaya Sekolah Anak
Cerita Tukang Sablon yang Dibantu Andre Rosiade Lunasi Tunggakan Biaya Sekolah Anak