Mencari Solusi Atasi Antrean Biosolar di SPBU Padang 

Mencari Solusi Atasi Antrean Biosolar di SPBU Padang 

Antrean kendaraan yang mengisi biosolar di SPBU Ampang menutupi toko-toko pedagang. (Fajar Hadiansyah/Langgam.id)

Langgam.id – Sejumlah SPBU di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), dipenuhi dengan antrean kendaraan yang bakal mengisi BBM jenis biosolar. Antrean ini tak terbendung, mengular memakan badan jalan. 

Dampak kondisi itu cukup signifikan, mulai kecelakaan, kemacetan hingga pemilik usaha menjerit toko mereka terhalang kendaraan. 

“Biasanya pagi bisa 10 orang yang membeli santan, sekarang paling banyak enam orang,” kata Rahmad, penjual santan yang tokonya terhalang kendaraan, Jumat (22/5/2026). 

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Padang, mengaku bakal melakukan pengawasan dan sedang mencari solusi  untuk mengatasi persoalan antrean kendaraan biosolar tersebut. Koordinasi lintas instansi sangat diperlukan.  

“Kami sudah berbicara dengan pihak kepolisian, SPBU dan pihak terkait lainnya untuk mencari solusi antrean ini,” ujar Kepala Dishub Kota Padang, Yudi Indra Syani. 

Ia mengaku akan membantu pengaturan arus lalu lintas di sejumlah titik SPBU. Terutama yang mengalami antrean panjang kendaraan. Apalagi yang didominasi angkutan barang dan bus.

“Kami menyarankan pihak SPBU mencari lokasi parkir untuk pegangannya. Ketika antrean kosong baru kendaraan masuk ke SPBU,” imbuhnya. 

Yudi menilai persoalan antrean solar tidak bisa diselesaikan hanya dari sisi pengaturan lalu lintas saja. Akar persoalan tetap berada pada ketersediaan pasokan Biosolar tersebut.  

“Akar masalahnya keberadaan solar tidak ada atau tidak mencukupi,” ucapnya sembari menegaskan masalah ini harus diselesaikan bersama. 

Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) mengungkap, lonjakan konsumsi biosolar disebabkan salah satu adanya potensi peralihan penggunaan BBM nonsubsidi ke BBM subsidi.

Bahkan, sejumlah mobil pribadi mewah berbahan bakar diesel seperti Pajero, Fortuner hingga Innova Reborn terpaksa beralih ke biosolar dari dexlite lantaran selisih harga yang terlalu tinggi.  

“Biosolar murah. Kalau dexlite mahal,” kata seorang pengendara mobil diesel, Zulfan  

Ia tak menampik kendaraannya sebenarnya lebih cocok menggunakan dexlite. Tetapi, untuk menghemat kantongnya, pilihan satu-satunya yakni ikut rela antre berebut bisolar.  

Hal senada juga diutarakan pengendara mobil diesel lainya, Doni. Ia mengaku hanya membeli dexlite apabila terburu-buru. Jika tidak, ikut bertarung memburu biosolar dalam antrean.  

“Kalau tidak terburu-buru biarlah saja memilih antre. Baru minggu lalu saya beli dexlite sekitar 15 liter di Lubuk Alung hanya saat pulang kampung,” imbuhnya. (WAN) 

Baca Juga

Manajemen RSUD Sungai Dareh, Kabupaten Dharmasraya, menyampaikan klarifikasi resmi terkait tidak beroperasinya sementara Poli Jantung
RSUD Sungai Dareh Akui Uang Jasa Nakes Belum Dibayar 6 Bulan, Ini Alasannya
Berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Anggota DPRD Sumbar dari Fraksi Demokrat meminta tim percepatan Sumbar Madani segera dibubarkan.
Anggota DPRD Sumbar: 2.002 Kendaraan Dinas Pemprov Menunggak Pajak
Beberapa pekan belakangan ini, Kota Padang diselimuti kabut asap. Akan tetapi pada Selasa, terjadi perbaikan kualias udara di Kota Padang
Pagi Ini, Kualitas Udara Padang Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat
Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani mengungkapkan bahwa penguasaan Bahasa Inggris menjadi salah satu kunci agar generasi muda daerah
Mengingat Kembali Pernyataan Bupati Dharmasraya Annisa yang Tidak Bakal Beli Mobil Dinas
Mahasiswa UNP Dilaporkan Hilang, Ternyata Sudah 3 Semester Tidak Masuk Kuliah
Mahasiswa UNP Dilaporkan Hilang, Ternyata Sudah 3 Semester Tidak Masuk Kuliah
Tak Hanya Puluhan Siswa, Ibu Hamil Diduga Turut Keracunan di Padang
Total Korban Dugaan Keracunan MBG di Agam Jadi 334 Orang