Langgam.id – Nilai ekspor asal Sumatera Barat pada Mei 2026 tercatat sebesar 146,46 juta US Dolar. Angka ini turun 34,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 222,89 juta US Dolar.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat, Nurul Hasanudin, mengatakan penurunan ekspor juga terjadi dibandingkan bulan sebelumnya. Dibanding April 2026, nilai ekspor Sumbar turun 40,68 persen dari 246,87 juta US Dolar menjadi 146,46 juta US Dolar.
“Nilai ekspor asal Provinsi Sumatera Barat pada Mei 2026 sebesar 146,46 juta US Dolar atau turun 34,29 persen dibandingkan Mei 2025,” kata Nurul Hasanudin dalam Berita Resmi Statistik (BRS), Rabu (1/7/2026).
Meski mengalami penurunan secara bulanan dan tahunan pada Mei, kinerja ekspor Sumbar secara kumulatif masih menunjukkan pertumbuhan positif. Selama Januari hingga Mei 2026, nilai ekspor mencapai 1,18 miliar US Dolar atau naik 16,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 1,02 miliar US Dolar.
Menurut Nurul, komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati masih menjadi penyumbang terbesar ekspor Sumbar. Selama Januari–Mei 2026, nilai ekspor komoditas tersebut mencapai 989,60 juta US Dolar atau menyumbang 83,75 persen dari total ekspor Sumbar.
Sementara itu, komoditas yang mencatat peningkatan terbesar adalah ampas atau sisa industri makanan yang naik 50,55 persen menjadi 15,76 juta US Dolar. Sebaliknya, minyak atsiri, kosmetik, dan wangi-wangian mengalami penurunan terdalam sebesar 42 persen menjadi 6,92 juta US Dolar.
Dari sisi negara tujuan, India masih menjadi pasar ekspor terbesar Sumbar dengan nilai 271,30 juta US Dolar. Posisi berikutnya ditempati Pakistan sebesar 195,53 juta US Dolar dan Myanmar sebesar 130,97 juta US Dolar. Ketiga negara tersebut memberikan kontribusi 50,59 persen terhadap total ekspor Sumbar selama lima bulan pertama 2026.
BPS juga mencatat sektor industri pengolahan masih mendominasi ekspor Sumbar dengan kontribusi 96,45 persen atau senilai 1,14 miliar US Dolar selama Januari–Mei 2026. Secara kumulatif, ekspor sektor industri pengolahan meningkat 17,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. (HER)




