Langgam.id — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Padang (UNP) menghadirkan peta jalur evakuasi dan titik kumpul Gunung Api Talang di Nagari Batu Bajanjang, Kabupaten Solok.
Program tersebut dilakukan untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar Gunung Api Talang terhadap potensi bencana erupsi.
Di Jorong Limau Puruik, Nagari Batu Bajanjang, terdapat Pos Pengamatan Gunung Api Talang yang menjadi salah satu pusat pemantauan aktivitas gunung api tersebut.
Selama ini masyarakat telah hidup berdampingan dengan potensi bahaya Gunung Api Talang. Namun, informasi mengenai jalur evakuasi dan titik kumpul belum tersedia dalam bentuk peta yang mudah dilihat dan dipahami warga.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN UNP menyusun Peta Jalur Evakuasi dan Titik Kumpul Gunung Api Talang sebagai panduan masyarakat ketika terjadi kondisi darurat.
Peta tersebut memuat informasi mengenai arah jalur evakuasi dan lokasi titik kumpul yang dapat digunakan warga untuk melakukan evakuasi mandiri.
Program ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan melalui penguatan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana, serta SDG 13 terkait peningkatan kapasitas dan kesadaran dalam menghadapi perubahan iklim dan risiko bencana.
Dalam penyusunannya, mahasiswa KKN UNP berkolaborasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Talang. Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Talang, Seprius, memberikan arahan dan masukan terkait informasi kebencanaan yang perlu dimuat dalam peta.
Kolaborasi tersebut kemudian ditandai dengan penyerahan sertifikat penghargaan dari mahasiswa KKN UNP kepada Pos Pengamatan Gunung Api Talang sebagai bentuk apresiasi atas dukungan selama proses penyusunan peta.
Kini, satu peta jalur evakuasi dan titik kumpul telah dipasang di depan Pos Pengamatan Gunung Api Talang, tepat di tepi jalan yang mudah terlihat masyarakat.
Kehadiran peta tersebut diharapkan memudahkan warga mengenali arah evakuasi dan lokasi titik kumpul, sekaligus menjadi pengingat pentingnya mempersiapkan diri sebelum bencana terjadi.
Asmintin mengatakan keberadaan peta tersebut menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat Batu Bajanjang.
“Selama ini masyarakat memang sudah mengetahui bahwa wilayah kami berada di sekitar Gunung Api Talang, tetapi belum memiliki gambaran yang jelas mengenai jalur evakuasi dan titik kumpul dalam bentuk peta yang dapat dilihat secara langsung,” ujarnya, dikutip Selasa (25/8/2026)
Menurutnya, peta tersebut akan membantu masyarakat mengetahui jalur yang harus ditempuh dan lokasi yang dapat dituju ketika terjadi keadaan darurat.
Ia mengapresiasi mahasiswa KKN UNP yang telah menghadirkan program tersebut karena berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat.
“Harapannya, peta ini dapat terus dirawat, diperbarui apabila diperlukan, dan dimanfaatkan sebagai media informasi serta edukasi kebencanaan bagi masyarakat Nagari Batu Bajanjang,” katanya.
Sementara itu, Seprius menjelaskan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api memiliki berbagai keuntungan, terutama karena kondisi tanah yang subur untuk pertanian, udara yang sejuk dan panorama alam.
Namun, di balik keuntungan tersebut terdapat risiko bencana yang harus diantisipasi.
“Sebagai masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana letusan gunung api tentunya ada dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah berada di lahan yang subur untuk pertanian, udara yang sejuk, pemandangan yang indah dan yang lain,” ujarnya.
Menurut Seprius, potensi letusan Gunung Api Talang sewaktu-waktu harus diantisipasi melalui berbagai upaya mitigasi.
“Dampak negatifnya adalah sewaktu-waktu Gunung Talang bisa meletus dan tentunya harus ada upaya mitigasi. Jalur evakuasi merupakan salah satu bagian dari upaya mitigasi. Dengan adanya jalur evakuasi yang jelas tentunya akan mempermudah masyarakat dalam melakukan evakuasi mandiri, sehingga risiko bencana akan bisa diminimalisir,” katanya.
Peta tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk arah, tetapi juga menjadi media edukasi agar masyarakat memahami pentingnya kesiapsiagaan.
Mahasiswa KKN UNP berharap peta yang telah dipasang dapat terus dirawat dan dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber informasi mengenai jalur evakuasi dan titik kumpul.
Upaya sederhana tersebut menjadi bagian dari membangun budaya siaga di Nagari Batu Bajanjang. Kesiapsiagaan bencana membutuhkan kolaborasi pemerintah nagari, masyarakat, Pos Pengamatan Gunung Api Talang, mahasiswa dan generasi muda.
Sebab, keselamatan menghadapi bencana bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama.
“Lebih baik kita mengetahui jalur keselamatan sebelum bencana terjadi, daripada mencari jalan keselamatan ketika bencana sudah datang.” (HER)






