Kekeringan Melanda Sejumlah Daerah Sumbar, BMKG: Akibat Kemarau Panjang

BPBD Kabupaten Agam membagikan air bersih untuk 200 kk yang terdampak kekeringan di Nagari Biaro Gadang, Kecamatan Ampek Angkek.

BPBD Kabupaten Agam membagikan air bersih untuk 200 kk yang terdampak kekeringan di Nagari Biaro Gadang, Kecamatan Ampek Angkek.

LANGGAM.ID– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mengungkapkan musim kemarau panjang memicu kekeringan di sejumlah daerah Sumatera Barat. Meski, awal September diprediksi sudah mulai memasuki masa transisi ke musim hujan, namun intensitas hujan masih belum merata.

JFT PMG Madya, Stasiun Klimatologi Sumbar, Rizky A. Saputra mengatakan kekeringan yang melanda sejumlah daerah di Sumbar dampak dari kemarau panjang saat ini. Hal ini tidak lepas dari frekuensi beserta intensitas hujan yang tidak merata.

Rizky menjelaskan, hasil pantauan BMKG menunjukan aktivitas angin monsun Australia masih menguat hingga berdampak ke wilayah Samudra Hindia. Akibatnya, volume uap air pembentukan awan hujan dari arah Samudra Hindia pun semakin sedikit, sehingga mempengaruhi pada curah hujan di pesisir Sumbar. 

“Penyebab durasi musim kemarau saat ini terbilang panjang karena angin Australia ini mempengaruhi pembentukan uap air di Samudra Hindia, sehingga terjadi penurunan curah hujan,” ujar Rizky.

Ia menambahkan, dampak dari kejadian tersebut memicu kemarau yang kian meluas. Biasanya, kemarau panjang melanda kawasan Dharmasraya, Sawahlunto atau pun Lima Puluh Kota. Namun yang terjadi saat ini, kemarau panjang juga mulai dirasakan di wilayah pesisir pantai Sumbar.

Termasuk, sambung Rezky di wilayah Kabupaten Agam yang kini dilanda kekeringan air bersih akibat kemarau panjang. “Daerah yang biasanya dilanda kemarau panjang biasanya di wilayah timur, seperti Solok, Dharmasraya dan Lima Puluh Kota, karena jarang hujan. Tapi sekarang kemarau panjang juga melanda di kawasan pesisir pantai,” ujarnya.

Ia menyebutkan, dampak dari kemarau panjang ini juga memicu sejumlah bencana seperti kebakaran hutan dan lahan, serta kekeringan. “Ini memang dampak dari perubahan iklim, durasi musim menjadi tidak menentu,” katanya.

Rizky menambahkan, September ini sudah mulai memasuki masa transisi dari musim kemarau. Namun, frekuensi dan intensitas hujan masih belum merata di wilayah Sumbar. 

“Pantauan di 10 hari pertama September ini hujan masih belum merata. Kadang dalam tiga hari hujan sekali. Kadang di wilayah tertentu seperti Solok kemarin hujan dengan intensitas ekstrim, sedangkan di wilayah lain tidak hujan,” ujarnya. (fx)

Baca Juga

Kajari Padang Koswara (tengah)
Kejari Padang Tetapkan Anggota DPRD Sumbar Tersangka Dugaan Korupsi Agunan Fiktif
Aktivitas gempa bumi di Sumatra Barat meningkat dalam sepekan terakhir. BMKG mencatat, pada periode 10-16 Oktober 2025 terdapat 57 kali
Gempa M4,7 Guncang Bonjol Pasaman
Kondisi jembatan kereta api Lembah Anai pascabanjir akhir November lalu. IST
Kementerian Kebudayaan Catat 89 Cagar Budaya Sumbar Terdampak Bencana
Kondisi jembatan kereta api Lembah Anai pascabanjir akhir November lalu. IST
Respon Menteri Kebudayaan Soal Rencana Pembongkaran Jembatan Kereta Api Lembah Anai
Personil kepolisian membawa jenazah korban galodo di Nagari Salareh Aia Timur.
Pemerintah Agam Setop Pencarian Korban Galodo
Jembatan kembar Silaing Padang Panjang usai diterjang banjir bandang dan longsor 27 November 2025. Foto: Kementerian PU
Kementerian PU Cek Struktur Jembatan Kembar Usai Dilanda Banjir