Cerita Warga Guo Baru 2 Minggu Perbaiki Rumah, Kini Diterjang Banjir Lagi

Langgam.id- Banjir kembali merusak rumah dan menghanyutkan kedai milik Itra Yoni (40) di Kampung Guo, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sabtu (10/10/2026). Padahal, rumah dan kedainya baru selesai diperbaiki dua minggu sebelumnya, setelah rusak diterjang banjir pada akhir 2025.

Berdasarkan pantauan Langgam.id, bagian bawah rumah Itra tampak sudah dibersihkan dari lumpur. Bekas pondasi kayu terlihat di depan rumahnya, sementara atap kedai yang baru dibeli hanyut dan terpajang di dinding rumah tetangganya.

Itra mengatakan, rumahnya sudah empat kali terdampak banjir. Namun, dua kejadian menyebabkan kerusakan paling parah, yakni pada akhir 2025 dan Sabtu lalu.

“Sudah empat kali banjir. Namun, yang parah dua kali, akhir tahun 2025 dan Sabtu kemarin,” kata Itra.

Ia menceritakan, banjir pada akhir 2025 membawa tanah dan lumpur hingga masuk ke dalam rumah. Setelah air surut, ia harus membersihkan sisa lumpur sekaligus memperbaiki sejumlah bagian bangunan.

Dinding dapurnya berlubang, lantai teras depan roboh, dan tiang pondasi rumah miring. Bagian depan rumahnya juga rusak akibat terjangan arus,”

“Dinding dapur bolong, lantai teras depan roboh, dan tiang pondasi miring. Rumah juga ikut miring,” ujarnya.

Banjir pada akhir tahun itu, juga merusak sejumlah peralatan rumah tangga Itra. Kulkas mengalami korsleting, sedangkan mesin cuci dan perlengkapan memasak ikut terdampak.

Untuk memperbaiki rumah, Itra menerima bantuan sekitar Rp 2,5 juta. Namun, jumlah tersebut belum mencukupi seluruh biaya perbaikan sehingga ia harus menggunakan uang sendiri.

“Bantuan itu saya gunakan untuk memperbaiki dinding dan teras. Saya masih mengeluarkan sekitar Rp 6 juta lagi untuk perbaikan dan membeli barang yang rusak,” tuturnya.

Setelah perbaikan selesai, Itra kembali menata kedai di depan rumahnya. Ia juga membeli etalase untuk berjualan. Namun, kedai yang baru dibangun sekitar dua minggu itu kembali hanyut ketika banjir menerjang.

“Kedai baru dua minggu selesai dibangun kembali. Sekarang sudah hanyut lagi. Etalase yang baru dibeli untuk berjualan juga hancur,” kata Itra.

Kerusakan tersebut membuat Itra kembali harus memikirkan biaya perbaikan. Selain rumah, ia juga perlu mengganti peralatan rumah tangga dan perlengkapan usaha yang rusak.

Meski begitu, Itra bersyukur dirinya dan keluarga selamat dari banjir. Ia tinggal bersama suami dan anaknya. Untuk kebutuhan makan sehari-hari, mereka masih berusaha memenuhinya sendiri.

“Alhamdulillah, saya dan keluarga selamat. Untuk makan sehari-hari masih bisa diusahakan, tetapi memperbaiki rumah dan membeli barang yang rusak tidak mudah,” ujarnya.

Kerusakan serupa dialami Ernita (56), warga yang rumahnya berada di saming kanan rumah Itra, dan kedua rumh mereka sekitar 10 meter dari aliran Sungai Batang Guo.

Rumahnya kembali rusak setelah banjir menerjang kawasan tersebut pada Sabtu lalu.

Saat banjir akhir 2025, teras rumah Ernita retak dan miring. Mesin cuci serta sepeda motornya juga sempat terendam. Pondasi rumahnya ikut mengalami kerusakan.

“Akhir tahun 2025, teras dan pondasi rumqh miring dan motor jugq terbenam sampqi sekarang masih belum bisa diperbaiki,” katanya.

Ernita kemudian menerima bantuan untuk memperbaiki rumah. Perbaikan dilakukan dengan membangun kembali teras, meninggikan lantai agar sejajar dengan pintu masuk, serta membuat pagar tembok di sekitar teras.

“Baru sekitar tiga bulan diperbaiki setelah banjir akhir tahun lalu. Sekarang diterjang lagi, bahkan bagian teras dan pondasinya rusak,” kata Ernita.

Menurut Ernita, biaya perbaikan rumah sebelumnya mencapai sekitar Rp 15 juta. Bantuan yang diterimanya digunakan untuk menyediakan bahan bangunan dan membayar upah tukang.

“Perbqikqn dari dana bantuan 15 juta. Dan uang itu digunakan untuk pembangunan,” katanya.

Namun, banjir terbaru kembali mengikis bagian depan rumahnya. Pondasi bagian atas dan bawah rusak, sementara lumpur kembali masuk ke dalam bangunan.

Kini, permukaan teras rumah Ernita jauh lebih rendah daripada pintu masuk. Jarak antara pintu rumah dan permukaan teras yang tersisa mencapai sekitar satu meter.

Kerusakan berulang membuat Itra dan Ernita harus kembali menghadapi biaya perbaikan. Rumah yang sebelumnya dipulihkan dengan biaya jutaan rupiah kembali rusak saat banjir menerjang permukiman mereka.

“Alhamdulilah untuk perbaikan skearang sudah dapat bantuan,” katanya. (HER)

Baca Juga

Banjir Berulang di Kota Padang, Pemko Siapkan Opsi Relokasi Warga
Banjir Berulang di Kota Padang, Pemko Siapkan Opsi Relokasi Warga
Banjir Padang dan Pessel, BPBD: 672 Warga Mengungsi, Jalan Nasional Putus
Banjir Padang dan Pessel, BPBD: 672 Warga Mengungsi, Jalan Nasional Putus
Banjir Berulang di Kota Padang, Warga: Kami Lelah Harus Kembali Membersihkan Rumah
Banjir Berulang di Kota Padang, Warga: Kami Lelah Harus Kembali Membersihkan Rumah
Posko Kesehatan Polda Sumbar, Korban Banjir Padang Keluhkan Gangguan Kesehatan
Posko Kesehatan Polda Sumbar, Korban Banjir Padang Keluhkan Gangguan Kesehatan
Guru dan Siswa SMPN 41 Padang Berjibaku Bersihkan Lumpur Sisa Banjir, Minta Pemko Sediakan Eskavator
Guru dan Siswa SMPN 41 Padang Berjibaku Bersihkan Lumpur Sisa Banjir, Minta Pemko Sediakan Eskavator
Kebakaran di Limau Manis, 22 Warga Kehilangan Tempat Tinggal
Kebakaran di Limau Manis, 22 Warga Kehilangan Tempat Tinggal