Langgam.id- Ilismawarti (49) duduk di pondasi rumah tetangganya di Lapau Munggu, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Tangannya menunjuk ke arah hamparan di depan rumah, yang itu dulunya sawah, dan kini tidak ada lagi.
“Sawah sudah hilang akibat air besar, dan sudah tertimbun pasir dan kayu,” katanya.
Hamparan itu berwarna kelabu. Pasir menutupi permukaan tanah, batu berserakan, kayu gelondongan tergeletak. Pematang yang dulu membatasi petak sawah kini rata dengan tanah. Tidak ada lagi garis pembatas. Tidak ada lagi petak kotak-kotak. Semua menyatu menjadi satu bidang.
Di beberapa titik, tumpukan pasir setinggi 30 hingga 50 sentimeter, batu kerikil dan batu sungai berserakan. Tanah yang dulu gembur kini terkubur di bawah lapisan material yang padat. Air tidak lagi menggenangi petak sawah. Yang tersisa hanya genangan kecil di sela-sela pasir dan batu.
“Sawah sudah hilang bentuk tanahnya. Sudah banyak tumpukan pasir batu di sana,” ujarnya.
Banjir bandang melanda Lapau Munggu pada Sabtu (10/10/2026). Air membawa pasir, dan batu itu menimbun sawah. Sawah Ilismawarti adalah satu-satunya lahan yang ia miliki. Kini sawah itu tak bisa digarap.
“Ini sawah satu-satunya, dari pemberian orang tua saya dulunya. Kalau diperbaiki, mahal biayanya,” katanya.
Sebelum banjir, sawah itu memberi 35 hingga 40 karung padi setiap panen.
“Kalau isi sawah biasanya 40 karung berisi 35 kilogram padi sekali panen. Kurang dari itu juga ada, kadang dapat 35 karung,” ujarnya.
Harga gabah kering bisa terjual berkisar Rp7000 hingga Rp9,500 per kilogram. Hasil itu cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari keluarga.
“Sawah itu yang bisa saya harapkan untuk kebutuhan makan sehari-hari. Sekali panen bisa dapat hasilkan 1 juta,” katanya.
Bencana datang berulang menghampiri rumah dan sawah dari ibu dari dua anak itu. Seperti banjir akhir 2025, juga merusak sawahnya.
Dari kerusakan tersebut, pemerintah Kota Padang membantu perbaikan. Sawah kembali berproduksi.
“Ada bantuan perbaikan sawah dari Dinas Pertanian. Baru sekali panen sawah itu kembali dibanjiri,” katanya.
Pada 3 Agustus 2026, banjir kembali menghancurkan sawahnya. Dan kembali diterjang banjir 10 Oktober 2026 sehingga material banjir itu sudah padat di lahan sawahnya.
“Sejak banjir 3 Agustus itulah, kondisi sawah sudah hilang bentuk tanah sawahnya. Ditambah kejadian tanggal 10 Oktober kemarin, sudah banyak tumpukan pasir batu di sana,” ujarnya.
Ilismawarti tidak lagi bisa mengandalkan sawah. Ia mendaki Bukit Lubuk Tempurung. Jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumah. Jalan menuju bukit itu putus akibat banjir Sabtu kemaren. Ia tidak bisa memakai sepeda motor. Ia berjalan kaki.
Di tanah miliknya di bukit itu, ia menanam cabai dan kacang panjang. Sesekali ia mencari kayu bakar, sesekali ia memancing ikan. Semua dikerjakan sejak bencana 3 Agustus lalu.
“Untuk mata pencarian tidak ada lagi. Biasanya dari sawah itu bisa mencukupi kebutuhan. Sekarang hanya bisa berharap mencari kayu bakar ke bukit, mancing ikan, atau batanam cabai dan kacang panjang,” katanya.
Suaminya bekerja di bidang kesenian. Penghasilannya tidak menentu. Dalam sepekan, ia mendapat panggilan kerja sekitar tiga kali.
“Suami kerja sebagai bidang kesenian. Tidak setiap hari kerjanya, apabila ada yang ngajak pergi, dalam seminggu 3 kali,” ujarnya.
Dua anak mereka masih kuliah. Anak pertama mendapat beasiswa. Anak kedua membayar biaya kuliah Rp4,5 juta per semester.
“Berat dan lelah pikiran saya melihat kondisi sekarang. Banyak yang dipikirkan, mulai kebutuahn sehari hari, uang kuliah anak,” katanya.
Ilismawarti ingin sawahnya kembali digarap. Ia ingin menjadi petani lagi.
“Saya berharap untuk perbaikan sungai, sekaligus perbaikan lahan pertanian warga. Kami bisa kembali sebagai petani lagi. Kami di sini semuanya petani,” ujarnya sambil menunjuk sawahnya yang kini tertimbun material banjir
Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yuliani, menyatakan 34,5 hektare lahan pertanian di kawasan Guo terdampak banjir bandang. Lahan itu sebelumnya telah direhabilitasi melalui bantuan APBN. Lahan itu sudah berproduksi dan panen.
“Seluas 102 hektare telah direhab dan sudah berproduksi serta panen. Pada 3 Agustus kemarin, karena air besar, tertimbun sekitar 30 hektare dan banjir kemarin juga kembali menimbun kawasan yang sama,” ungkapnya. (HER)






