Cerita Warga Batu Busuk saat Rumahnya Hanyut Dibawa Banjir Bandang

Banjir bandang dan longsor yang terjadi pada 26–28 November 2025 menerjang kawasan Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Kota Padang.

Kondisi Batu Busuk, Kota Padang usai terdampak banjir bandang beberapa waktu lalu. [foto: Fajar Hadiansyah]

Langgam.id – Banjir bandang dan longsor yang terjadi pada 26–28 November 2025 menerjang kawasan Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Sebanyak 153 Kepala Keluarga terdampak, dengan kerusakan yang terlihat jelas di sepanjang aliran sungai.

Empat hari setelah hujan mereda, warga masih mengandalkan pengungsian di SMPN 44 di Batu Busuk sebagai tempat berkumpul dan beristirahat pada pagi dan malam hari.

Pada siang hingga sore, sebagian warga kembali ke rumah masing-masing untuk memeriksa kondisi bangunan, menyelamatkan barang yang tersisa, atau sekadar memastikan apa yang masih bisa diselamatkan.

Namun demikian, dampak dari banjir bandang, juga melanda beberapa rumah yang jaraknya hanya sekitar 75 meter dari sungai Batu Busuk itu. Sejumlah rumah yang hanyut tersapu arus menyisakan lahan kosong bercampur puing.

Di lokasi itu, warga hanya bisa memandangi bekas pondasi yang telah hilang, menandai titik di mana rumah mereka dulu berdiri. Rasa kehilangan terlihat jelas, namun mereka tetap mencoba bertahan di tengah keterbatasan itu.

Hal itu turut dirasakan Sonni serta istrinya yang terduduk lesu di atas tanah rumahnya yang tersisa bekas pondasi bangunan. Kedai kecil yang menjadi sumber penghidupan hilang bersama aliran air.

“Habis semuanya. Termasuk kedai yang jadi mata pencarian kami,” ujarnya.

Sonni menceritakan kejadian sebelum rumahnya hanyut. Rumah mereka sempat dimasuki air, Selasa, 25 November 2025. Debit air semakin naik pada malam itu, Sonni serta keluarga mengungsi ke pondok ladangnya, yang berjarak 2 Km dari rumah.

“Di hari Rabu pagi kami kembali ke rumah, untuk membersihkannya. Dan sekalian mengambil baju serta dokumen penting. Setelah itu kami kembali ke pondok untuk mengungsi,” katanya Selasa (2/12/2025).

Istrinya Sonni, Diana mengatakan, Kamis pagi mereka kembali ke bawah. Namun, rumah dan warungnya hilang, dihanyutkan banjir bandang.

“Ketika itu kami telah ngungsi di pondok ladang, cuma pikiran kami tidak sampai akan terbawa arus,” katanya.

Sonni dan keluarga tetap bersyukur bahwa mereka tetap terselamatkan dan keluarganya.

“Alhamdulillah, rumah tidak apa-apa dibawa arus, yang penting kami selamat,” tuturnya. (y)

Baca Juga

Padang masuk dalam 10 besar daerah dengan curah hujan tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data BPS, Padang berada di peringkat delapan dengan
Padang Peringkat 8 Daerah dengan Curah Hujan Tertinggi di Indonesia
Minangkabau Barber Association (MBA), asosiasi tukang cukur rambut di Kota Padang, menggelar aksi kemanusiaan berupa penggalangan dana bagi
Donasi untuk Sumatra, Barber Padang Pindahkan Layanan Cukur ke Gedung Bagindo Aziz Chan
Wawancara Eksklusif dengan Bupati Agam: Nyatakan Status Darurat, Anggaran Penanganan Sudah tak Ada
Wawancara Eksklusif dengan Bupati Agam: Nyatakan Status Darurat, Anggaran Penanganan Sudah tak Ada
Tim gabungan terus melakukan pencarian terhadap dua warga yang masing hilang akibat banjir bandang yang melanda Padang pada 28 November lalu.
Dua Warga Padang Hilang Akibat Banjir Bandang, Pencarian Masih Terus Dilakukan
Relawan Rakyat Bantu Rakyat Tempuh Jalur Ekstrem Salurkan Bantuan ke Kampung Terdampak di Batipuh
Relawan Rakyat Bantu Rakyat Tempuh Jalur Ekstrem Salurkan Bantuan ke Kampung Terdampak di Batipuh
Kemenkes antisipasi kenaikanpenyakit di wilayah terdampak bencana banjir dan longsor di Sumbar dengan operasi kedaruratan kesehatan.
Kemenkes Aktifkan Kedaruratan Kesehatan di Sumbar Antisipasi Penyakit Pascabencana