BPCB: Temuan Arca “Makara”, Tanda Pasaman Kaya dengan Tinggalan Arkeologi Tua

BPCB: Temuan Arca “Makara”, Tanda Pasaman Kaya dengan Tinggalan Arkeologi Tua

Patung yang ditemukan warga Pasaman, diduga peninggalan hindu abad ke-13 (Foto: Ist)

Langgam.id - Penemuan patung yang diduga peninggalan dari Zaman Hindu-Budha, (Sungai) Batang Sibinail, Jorong III, Padang Nunang, Nagari Lubuk Layang, Kecamatan Rao Selatan, Kabupaten Pasaman, Jumat (27/9/2019) menarik perhatian dunia arkeologi di Sumatra Barat (Sumbar).

“Temuan ini sontak memberikan sinyal masih banyak tinggalan arkeologi di wilayah Pasaman, khususnya tinggalan dari masa Hindu-Buddha,” kata Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar Nurmatias, Sabtu (28/9/2019) dalam keterangan tertulisnya.

Berdasarkan informasi awal, menurutnya, patung ditemukan oleh pemuda setempat bernama Ipal dan Aad di Sungai Sibinail. “Temuan ini bermula saat Ipal dan Aad pergi ke Sungai Sibinail untuk menangkap ikan,” sebut Nurmatias.

Menurtnya, temuan tinggalan dari masa Hindu-Buddha di Kabupaten Pasaman sangat wajar. “Hal ini didasarkan pada temuan-temuan baik berupa candi, arca, prasasti dan temuan lainnya yang berasal dari masa Hindu-Buddha dari abad ke-13-14 Masehi.

Dari zaman itu, ada lima candi yang sudah ditemukan di Pasaman. Yakni, Candi Tanjung Medan, Koto Rao, Pancahan, Patani dan Candi Tanjung Bariang. Prasasti, seperti Ganggo Hilia dan Lubuk Layang (Kubu Sutan).

“Selain itu, dalam Laporan Penelitian Arkeologi di Sumatera oleh Bennet Bronsen (et.al) tahun 1973 oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional serta The University of Pennsyvania Museum dijelaskan bahwa wilayah Pasaman memiliki tinggalan dari masa Hindu-Budha yang cukup banyak.”

Temuan Arca Dwarapala dan Makara yang ditemukan sebelumnya di Sungai Batang Sibanail, menurut Nurmatias, masih belum lengkap. “Masih ada makara yang hilang dan mungkin berada di sungai yang sama. Temuan tersebut menurut informasi masyarakat berasal dari Padang Laweh.

Temuan yang ditemukan di Sungai Sibinail tersebut, ulas Nurmatias, membuat masyarakat sekitar bertanya-tanya berkaitan dengan jenis temuan dan umur. “Ada yang mengatakan patung Hindu, kemudian ada pula yang mengatakan dari masa prasejarah."

Namun, lanjutnya, dalam ilmu arkeologi temuan ini dapat dikatakan sebagai makara. “Dalam buku R. Cecep Eka Permana (2016) Kamus Isitilah Arkelogi-Cagar Budaya, makara diartikan sebagai  hiasan berbentuk ikan berkepala gajah yang dimaksudkan sebagai penolak bala. Sering dijumpai pada bangunan-bangunan candi khususnya pada pipi tangga, gapura, pintu, relung, dan pancuran ari sebagai hiasan,” sebutnya.

Kamus besar Bahasa Indonesia, menurut Nurmatias mengartikan makara sebagai binatang dalam cerita yang bersifat mitologis dengan rupa mengerikan yang dipakai sebagai motif hiasan. Umumnya pada candi atau arca pada zaman dahulu, baik dikombinasi dengan kepala kala maupun tidak.

“Namun secara umum, makara dapat diartikan sebagai salah satu unsur bangunan candi yang biasanya berpasangan dengan kala yang berwujud makhluk mitologi. Merupakan kombinasi dua ekor binatang yaitu kombinasi ikan dengan gajah (gaja-mina) dengan variasi tertentu yang digambarkan dengan mulut terbuka lebar. Makara biasanya dipahatkan bersama-sama dengan kepala kala dan diletakkan pada bagian pintu masuk baik di kanan kiri maupun ambang pintu masuk candi, pada relung candi, dan di ujung pipi tangga candi.”

Berdasarkan data yang telah berhasil dikumpulkan dari berbagai sumber, lanjut Nurmatias, makara yang ditemukan di Sungai Sibanail merupakan makara berbentuk gaja-mina (kombinasi ikan dengan gajah). “Makara ini berukuran tinggi sekitar 95 cm terbuat dari bahan sandstone (batu pasir) yang banyak ditemukan di aliran Sungai Batang Sibinail. Dari morfologi, makara ini berbentuk kepala binatang dengan mulut terbuka lebar.”

Menurutnya, pada bagian samping digambarkan lengkungan belalai (gajah) yang hiasai motif flora, bagian atas  bulat membentuk ukel ke bawah. Penggambaran mata terkesan mata sipit dan telinga melengkung menyerupai kipas. Di atas makhluk yang berada di dalam mulut dipahatkan bentuk bunga dan benangsari.

Pada sisi kiri dan kanan, lanjut Nurmatias, terdapat beberapa motif hias sulur-suluran berbentuk lingkaran menyerupai kipas.  “Pada bagian dalam mulutnya, terlihat pengambaran figur manusia yang sedang memegang senjata di tangan kanan dan perisai di tangan kiri dan posisi berdiri. “

Ia menyebutkan, dari temuan makara tersebut, dapat ditarik kesimpulan awal bahwa temuan makara merupakan tinggalan dari masa Hindu-Buddha yang diperkirakan berasal dari abad ke-13 s.d 14 Masehi. “Hal ini didukung oleh data Prasasti Lubuk Layang (Kubu Sutan) yang ditemukan tahun 1970-an.”

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, isi dari prasasti tersebut adalah penyebutan Bijayawarmma, seorang yauwasuta Jayendrawarmma, moksam, yauwaraja Bijayendrasekhara, pitamahadara dan Śrī Indrakilaparwatapuri. Prasasti ini dibuat untuk memperingati pembinaan kuil pemujaan nenek moyang dari raja yang memerintah, yaitu Bijayawarmma.

Terdapat seorang yuwaraja (Raja muda) yang bernama Jayendrawarnan.  Beliau di gambarkan memiliki sifat selayaknya dewa/buddha.  Menelisik pada temuan sebelumnya, temuan arca dwarapala dan makara menunjukkan adanya keterkaitan. Karena pada umumnya, arca dwarapala dan makara ditempatkan pada bagian depan candi, tepatnya di sisi kanan dan kiri bangunan candi.

“Bangunan candi yang terdapat khususnya di Rao diperkirakan berlatar agama Buddha aliran Tantrayana. Aliran ini adalah salah satu sekte dalam agama Buddha yang berkembang di Sumatera khususnya pada masa Adityawarman. Arca dwarapala ditempatkan di depan bangunan candi sebagai area penjaga. Ini ditunjukkan dengan ciri-ciri peralatan yang dipegang oleh tangan kanannya yaitu sebuah gada. Adapun laksana di tangan kirinya tidak diketahui karena sudah aus.”

Di bahu area tersebut, menurut Nurmatias, juga terdapat upawita (tali kasta) berupa seekor ular. Laksana yang dipakai adalah sesuatu yang menyeramkan mengingat fungsi area tersebut sebagai area penjaga agar bangunan suci terhindar dari unsur-unsur yang tidak dikehendaki. Di bagian atas makara biasanya berasosiasi dengan kala yang diletakkan pada bagian atas pintu masuk bangunan candi. Kala-makara merupakan simbolisasi dari persatuan dari penguasa gunung (kala) dan laut (makara).

“Menelisik lebih jauh bahwa penggambaran figur manusia untuk mulut makara banyak ditemukan pada  makara-makara candi masa Sriwijaya. Tetapi jenisnya berbeda-beda. Ada yang berbentuk figur prajurit (Padang Lawas, Padang Nunang), figur penjaga (candi Solok Sipin) dan da figur resi (makara candi di Bumiayu). Temuan figur prajurit dengan membawa senjata dan perisai ini juga ditemukan di makara-makara di Percandian Padang Lawas, figur penjaga yang memegang gada ditemukan di Candi Solok Sipin,” jelasnya.

Dari data awal itu, menurut Nurmatias, masih perlu dilakukan pelindungan oleh BPCB Sumbar. Penyelamatan cagar budaya, menurutnya perlu untuk mencegah kerusakan karena faktor manusia atau alam. “Juga mencegah pemindahan dan beralihanya kepemilikan dan/atau penguasa Cagar Budaya yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan,” tuturnya. (*/HM)

Baca Juga

Masyarakat Temukan Patung Diduga Arca, Pemkab Pasaman Tinjau ke Lokasi
Masyarakat Temukan Patung Diduga Arca, Pemkab Pasaman Tinjau ke Lokasi
BPCB Ungkap Penilaian Ilmiah Soal Temuan Patung Berkaki Naga di Dharmasraya
BPCB Ungkap Penilaian Ilmiah Soal Temuan Patung Berkaki Naga di Dharmasraya
Warga Dharmasraya Temukan Patung Berkaki Naga di Sungai Batanghari
Warga Dharmasraya Temukan Patung Berkaki Naga di Sungai Batanghari
Persiapan Liga 3 Nasional, PSPP Padang Panjang Gelar Latihan Perdana
Persiapan Liga 3 Nasional, PSPP Padang Panjang Gelar Latihan Perdana
GSNA, menpora gowes
Gowes Siti Nurbaya Adventure Suguhkan 3 Jalur Menantang Bagi Pesepeda
Kinerja 2023, Hutama Karya Raih Laba Bersih Rp1,87 Triliun
Kinerja 2023, Hutama Karya Raih Laba Bersih Rp1,87 Triliun