Adang Pelaku Kerusuhan, Warga Minang di Pasar Baru Wamena Selamat

Adang Pelaku Kerusuhan, Warga Minang di Pasar Baru Wamena Selamat

Firman (38) salah satu perantau Minang yang menghadang pelaku kerusuhan di Pasar Baru Wamena (Foto: Zulfikar/Langgam.id)

Langgam.id - Sebanyak 203 warga Sumatra Barat korban terdampak kerusuhan Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua sampai di Ranah Minang. Beragam cerita selamat dari peristiwa itu dibawa ke kampung halaman.

Ada duka dan lara menyelimuti mereka, menyisakan kesan yang berbeda-beda.

Salah satu cerita yang dibawa pulang Firman (38) warga asal Pesisir Selatan yang sudah merantau ke tanah Cendrawasih itu sejak 2007 silam, menghadang pelaku kerusuhan, demi menyelamatkan keluarga dan harta benda.

Menurut Firman, Pasar Baru merupakan salah satu pasar yang cukup besar di Wamena, ketika pelaku kerusuhan datang, warga di pasar itu menghadang, sehingga lokasi tempatnya berjualan tak tersentuh oleh pelaku kerusuhan.

“Saya berjualan di Pasar Baru Wamena, saat kami mendengar ada yang menyerang, kami bersama-sama menghadang, sehingga pelaku kerusuhan tidak masuk ke tempat kami,” ujarnya saat sampai di Bandara Intrenasional Minangkabau (BIM), Jumat (4/10/2019) sekira pukul 01.50 WIB dini hari.

Diceritakan Firman, ketika warga Pasar Baru menghadang, pelaku kerusuhan yang sudah membakar beberapa pasar yang ada di sekitar mundur dan tidak menyerang. “Kalau di Pasar Baru, kami semua aman, tidak ada yang terbakar, seluruh pedagang di sana (Pasar Baru) juga aman,” jelasnya.

Penghadangan itu, kata Firman, dilakukan secara bersama-sama. “Kami (warga Pasar) berkumpul di bagian depan pasar, kami hadang pelaku kerusuhan itu dengan senjata seadanya, hingga akhirnya mereka mudur,” ungkap Firman.

Lalu, setelah para pelaku kerusuhan mundur, perantau Minang yang ada di Pasar Baru langsung menjemput anak-anak mereka yang ada di sekolah. "Kami datang ke sekolah bersama-sama, menjemput anak-anak kami, dan kami pulang ke rumah," ujarnya.

Lampiran Gambar

132 perantau Minang korban kerusuhan Wamena sampai di BIM. Kepulangan mereka dibiayai ACT Sumbar (Foto: Zulfikar/Langgam.id)

Tidak lama setelah itu, bantuan dari TNI datang ke lokasi, dan membawa warga yang ada di Pasar Baru ke pengungsian. “Kami dibantu anggota Makodim 1702 Jayawijaya, lalu kami dibawa ke pengungsian sementara di Makodim tersebut menggunakan truk, jaraknya sekira satu kilometer dari Pasar Baru,” katanya.

Setelah dievakuasi ke pengungsian sementara, Firman bersama istri dan tiga orang anaknya dibernagkatkan ke Jayapura, tempat pengungisian sebelum pulang ke Padang.

“Selama sepekan kami di pengungsian (Jayapura), lalu dapat bantuan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sumbar untuk pulang kampung,” ucapnya.

Sementara itu, dikatakan Firman, bahwa ia akan kembali ke Wamena, setelah keadaan benar-benar aman dan kondusif. “Saya akan kembali ke sana, setelah keadaan kondusif. Saya akan melanjutkan pekerjaan di sana sebagai pedagang sembako. Jika memungkinkan, anak dan istri juga akan dibawa,” ujarnya.

Menurut Firman, masyarakat di Wamena merupakan orang-orang yang ramah dan mudah untuk diajak bersosialisasi. Namun, peristiwa kemarin, sangat mengejutkan. “Masyarakat di sana itu tergantung pembawaan kita juga, kalau kita baik, mereka juga baik. Peristiwa kemarin itu di luar dugaan kita,” jelasnya.

Firman yang sudah sejak 2007 silam merantau ke Wamena, megaku baru kali ini kerusuhan yang terjadi begitu besar di sana. “Sejak saya menginjakkan kaki di sana, belum ada seperti itu. Kalau isu-isu (perkelahian) kecil, itu sudah biasa. Kita juga tidak tahu apa penyebab sebenarnya,” kata Firman.

Diketahui, hingga saat ini sebanyak 203 orang perantau Minang korban terdampak kerusuhan Wamena sampai di kampung halaman. Sebagian mereka, ada yang menyatakan akan kembali ke Wamena da nada juga yang akan menetap di kampung halaman. (Zulfikar)

Baca Juga

Peduli Bencana Tanah Datar, BM 3 Sumut Salurkan Bantuan dan Santunan
Peduli Bencana Tanah Datar, BM 3 Sumut Salurkan Bantuan dan Santunan
Kadisnakertrans Sumbar, Nizam Ul Muluk mengatakan bahwa saat ini perantau Minang tidak lagi didominasi oleh laki-laki, namun perempuan.
Kadisnakertrans Sumbar: 94 Persen Pekerja Migran Minang Adalah Perempuan
IKPS Riau Dirikan Posko Kemanusian Galang Bantuan ke Warga Terdampak Banjir dan Longsor di Pesisir Selatan
IKPS Riau Dirikan Posko Kemanusian Galang Bantuan ke Warga Terdampak Banjir dan Longsor di Pesisir Selatan
Militer indonesia terkuat asean
3 Putra Minang Kini Pegang Pangdam
Masyarakat Minang di Singapura
Masyarakat Minang di Singapura
Aroma Nasi Kapau Autentik Menguar di Jakarta Selatan
Aroma Nasi Kapau Autentik Menguar di Jakarta Selatan