Langgam.id – Kinerja ekspor Sumatera Barat pada semester I 2026 menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar mencatat nilai ekspor Januari–Juni 2026 mencapai US$1,568 miliar atau naik 22,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, di tengah peningkatan tersebut, ekspor sektor pertanian justru mengalami penurunan tajam.
Kepala BPS Sumatera Barat, Nurul Hasanudin mengatakan, pertumbuhan ekspor Sumbar terutama ditopang sektor industri pengolahan, khususnya produk berbasis kelapa sawit. Sementara sejumlah komoditas pertanian mengalami pelemahan.
“Ekspor industri pengolahan masih menjadi penopang utama, sedangkan ekspor sektor pertanian mengalami penurunan, terutama pada komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah,” kata Nurul Hasanudin, dalam siaran resmi, dikutip Rabu (5/8/2026).
Data BPS menunjukkan ekspor sektor pertanian selama Januari–Juni 2026 hanya mencapai US$48,02 juta atau turun 39,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kontribusi sektor pertanian terhadap total ekspor Sumbar juga tinggal 3,06 persen. Sebaliknya, sektor industri pengolahan menyumbang 96,81 persen total ekspor dan tumbuh 26,23 persen.
Penurunan terdalam terjadi pada kelompok kopi, teh, dan rempah-rempah yang nilainya merosot 44 persen, dari US$29,96 juta pada semester I 2025 menjadi US$16,78 juta pada periode yang sama tahun ini. Ekspor buah-buahan juga turun 25,02 persen, sedangkan bahan-bahan nabati menurun 15,50 persen.
Di sisi lain, kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati yang didominasi crude palm oil (CPO) dan produk turunannya masih menjadi penggerak utama ekspor Sumbar. Nilai ekspor komoditas ini mencapai US$1,338 miliar atau berkontribusi 85,39 persen terhadap total ekspor daerah selama Januari–Juni 2026.
Secara bulanan, nilai ekspor Sumatera Barat pada Juni 2026 mencapai US$386,41 juta atau naik 47,85 persen dibandingkan Juni 2025. India, Pakistan, dan Tiongkok masih menjadi tiga negara tujuan utama ekspor Sumbar dengan kontribusi gabungan mencapai lebih dari 52 persen dari total ekspor daerah.
Kondisi ini menunjukkan struktur ekspor Sumatera Barat masih sangat bergantung pada komoditas berbasis industri pengolahan, terutama sawit. Sementara itu, sektor pertanian yang selama ini menjadi salah satu identitas ekonomi daerah masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan daya saing di pasar ekspor. (HER)




