Langgam.id – Kinerja ekspor Provinsi Sumatera Barat menunjukkan tren positif sepanjang semester I 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar mencatat nilai ekspor Januari–Juni 2026 mencapai US$1,568 miliar atau tumbuh 22,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, nilai ekspor pada Juni 2026 tercatat sebesar US$386,41 juta atau meningkat 47,85 persen dibandingkan Juni 2025. Capaian tersebut menjadi nilai ekspor bulanan tertinggi sepanjang semester pertama tahun ini.
Kepala BPS Sumatera Barat, Nurul Hasanudin mengatakan, peningkatan ekspor ditopang oleh membaiknya kinerja sejumlah komoditas unggulan, terutama kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati yang masih mendominasi struktur ekspor daerah.
“Secara kumulatif, nilai ekspor Sumatera Barat selama Januari hingga Juni 2026 mengalami pertumbuhan 22,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh ekspor komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati yang masih menjadi penyumbang terbesar,” kata Nurul Hasanudin, dikutip Rabu (5/8/2026).
Data BPS menunjukkan kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati berkontribusi 85,39 persen terhadap total ekspor Sumbar dengan nilai mencapai US$1,338 miliar atau naik 25,05 persen dibandingkan semester I 2025.
Selain itu, ekspor berbagai produk kimia dan karet juga mengalami peningkatan. Sebaliknya, ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah mengalami penurunan 44 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi negara tujuan, India masih menjadi pasar utama ekspor Sumatera Barat dengan nilai US$385,12 juta, disusul Pakistan sebesar US$239,84 juta dan Tiongkok US$201,09 juta. Ketiga negara tersebut menyumbang lebih dari separuh total ekspor Sumbar pada semester I 2026.
Nurul menjelaskan, berdasarkan sektor usaha, industri pengolahan tetap menjadi penopang utama ekspor Sumatera Barat dengan kontribusi mencapai 96,81 persen. Nilai ekspor sektor ini tumbuh 26,23 persen dibandingkan semester I tahun lalu.
Sementara ekspor sektor pertambangan meningkat signifikan, sedangkan sektor pertanian masih mengalami kontraksi akibat menurunnya ekspor komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah.
Menurut Nurul, capaian tersebut menunjukkan daya saing produk ekspor Sumatera Barat masih terjaga, terutama untuk komoditas berbasis industri pengolahan sawit. Meski demikian, diversifikasi komoditas dan perluasan pasar ekspor tetap menjadi tantangan agar pertumbuhan ekspor dapat lebih berkelanjutan. (HER)






