Bekas Lumpur di Dinding Rumah Warga Jadi Saksi Tingginya Banjir Padang

Bekas Lumpur di Dinding Rumah Warga Jadi Saksi Tingginya Banjir Padang

Banjir belum surut di di RW 09 Parak Jambu, Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. (Foto: Fajar hadiansyah/Langgam.id)

Langgam.id – Bekas air yang menempel di dinding rumah warga menjadi penanda tingginya banjir yang menerjang permukiman warga di RW 09 Parak Jambu, Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. 

Berdasarkan pantauan Langgam.id pada Selasa (4/8/2026), warga mulai membersihkan isi dalam rumah masing-masing setelah banjir berangsur surut. Ada yang menyapu lumpur di lantai rumah, menguras air yang tersisa, serta menyelamatkan perabotan yang sempat terendam.

Di beberapa rumah, bekas genangan masih terlihat jelas membentuk garis kecokelatan di dinding. Hal itu menunjukkan air sempat merendam rumah hingga lebih dari satu meter.

Seorang warga setempat, Dasrial, tampak mengambil genangan air di depan rumahnya menggunakan ember untuk membersihkan lumpur yang berada di dalam rumahnya.

Kondisi rumahnya masih berantakan. Kasur dan sejumlah barang rumah tangga diletakkan di atas meja, tetapi tetap terkena air.

Ia mengatakan dirinya bersama istri memilih bertahan di rumah saat banjir melanda. Keduanya bergantian berjaga sepanjang malam karena khawatir debit air terus bertambah.

“Kami bergantian tidur. Saya tidur di atas meja yang ditinggikan. Air tinggal sekitar 10 sentimeter lagi menyentuh tempat tidur,” ujar Dasrial ditemui Langgam.id, Senin (4/8/2026). 

Kata Dasrial, air yang masuk ke dalam rumah mencapai setinggi dagu orang dewasa. Sementara genangan di halaman dan jalan depan rumah bahkan melebihi tinggi orang dewasa.

Ia menuturkan banjir datang dari beberapa arah. Selain luapan Sungai Dadok, air juga berasal dari kawasan Air Pacah yang mengalir ke permukiman warga.

Selama sekitar 10 tahun tinggal di kawasan itu, Dasrial mengaku sudah beberapa kali mengalami banjir. Namun, banjir yang terjadi kali ini merupakan yang paling tinggi.

“Ini yang paling parah sejak saya tinggal di sini. Sudah sering banjir, tetapi tidak pernah setinggi ini,” ungkapnya. 

Ia berharap pemerintah segera melakukan pembenahan sistem drainase dan saluran pembuangan menuju sungai. Menurutnya, kapasitas saluran yang ada saat ini belum mampu menampung debit air, saat hujan berintensitas tinggi.

“Harapan kami saluran air dan irigasi diperbaiki. Kalau tidak dibenahi, banjir seperti ini akan terus berulang setiap hujan deras,” titurnya. (WAN)

Baca Juga

Banjir merendam SMP Negeri 41 Gunung Sarik, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang Senin (3/8/2026).
Cerita Kepsek SMPN 41 Pantau CCTV Saat Banjir Rendam Gedung Sekolah
SMP Negeri 41 Gunung Sarik, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang usai terdampak banjir, Selasa (4/8/2026).
Viral Banjir Rendam SMPN 41, Kepsek: Seluruh Pekarangan Dipenuhi Lumpur
Kondisi Dadok Tunggul Hitam usai diterjang banjir pada Selasa pagi (3/8/2026).
Puluhan Warga di Dadok Tunggul Hitam Terdampak Banjir, Sempat Dievakuasi ke Musala
Kondisi Dadok Tunggul Hitam usai diterjang banjir pada Selasa pagi (3/8/2026).
Begini Kondisi Dadok Tunggul Hitam Usai Diterjang Banjir
Berjibaku Bersihkan Banjir Lumpur di SMPN 41 Padang
Berjibaku Bersihkan Banjir Lumpur di SMPN 41 Padang
SMP Negeri 41 Gunung Sarik, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang usai terdampak banjir, Selasa (4/8/2026).
Banjir Kota Padang, SMPN 41 Padang Masih Dipenuhi Lumpur