Langgam.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau akrab disapa KDM, menyoroti tantangan kepemimpinan daerah yang berkaitan erat dengan pengelolaan keuangan.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri Musyawarah Wilayah (Muswil) VII Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Provinsi Sumatera Barat di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Sabtu (18/7/2026).
Dalam orasinya, Dedi menegaskan bahwa pembahasan mengenai kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari persoalan regulasi dan tata kelola keuangan.
Menurutnya, pemerintah daerah saat ini dihadapkan pada tuntutan masyarakat yang semakin besar terhadap kualitas pelayanan publik.
“Kalau berbicara kepemimpinan, maka berbicara soal regulasi keuangan. Kalau berbicara keuangan, problematikanya ada dua. Pertama, tingginya tingkat kebutuhan masyarakat untuk dilayani secara sempurna,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa salah satu kebutuhan mendasar masyarakat adalah tersedianya sarana dan prasarana pendidikan selama 12 tahun yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi.
Menurutnya, negara masih memiliki pekerjaan besar untuk memastikan seluruh warga memperoleh akses pendidikan yang benar-benar gratis.
“Hingga saat ini jaminan pendidikan gratis selama 12 tahun belum sepenuhnya dapat dinikmati seluruh masyarakat. Saat ini, kebijakan pendidikan gratis baru berlaku di sekolah negeri,” ungkapnya.
Selain persoalan pendidikan, Dedi menyoroti kondisi keuangan daerah yang dinilai masih menjadi tantangan besar dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Ia menyebut banyak pemerintah daerah menghadapi keterbatasan fiskal akibat dinamika hubungan antara desentralisasi dan sentralisasi keuangan.
“Di balik itu, banyak daerah yang dibelenggu oleh kemampuan keuangan yang dipengaruhi problematika desentralisasi dan sentralisasi keuangan,” katanya.
Menurut Dedi, hubungan antara sentralisasi dan desentralisasi fiskal selalu menghadirkan dinamika tersendiri, terutama dalam membangun kepercayaan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
“Sentralisasi dan desentralisasi keuangan selalu melahirkan kepercayaan dan ketidakpercayaan,” ucapnya. (HER)






