Langgam.id – Penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah tidak hanya berdampak pada operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tetapi juga berdampak langsung terhadap para relawan yang tentu kehilangan penghasilan.
Hal itu juga yang memicu lahirnya aksi demonstrasi relawan MBG di berbagai daerah di Indonesia. Mereka menuntut agar program MBG tidak dihentikan.
Aksi tersebut dianggap wajar oleh salah seorang pemilik SPPG di Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar). Menurutnya, para relawan termasuk pihak yang terdampak langsung dari penghentian sementara program MBG.
“Itu hak para relawan. Mereka menyuarakan hak mereka, kita harus menerima dan mendengar,” kata Pemilik SPPG Parak Karakah, Adhitia Lingga, kepada Langgam.id, Sabtu (20/6/2026) malam.
Menurut Adhitia, relawan selama ini menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program MBG. Karena itu, aspirasi yang mereka sampaikan perlu mendapat perhatian dari seluruh pihak terkait.
Ia mengakui, penghentian sementara program selama masa libur sekolah turut menimbulkan dampak ekonomi bagi relawan yang selama ini menggantungkan pendapatan dari kegiatan tersebut.
“Kita juga harus mendengar aspirasi (relawan). Mereka bagian dari penerima manfaat dari program ini,” ujarnya.
Diketahui, Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional seluruh SPPG dan distribusi MBG selama masa libur sekolah.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran BGN Nomor 12 Tahun 2026 yang mengatur penghentian operasional SPPG mulai 22 Juni hingga 13 Juli 2026. (ICA)






