Emas, Peti dan Nasib Sumbar ke Depan

Emas, Peti dan Nasib Sumbar ke Depan

Jurnalis dan Sejarawab, Khairul Jasmi. (Dok. Pribadi)

Langgam.id – Kematian paling pilu, mungkin yang tertimbun di tambang emas ilegal seperti di Sijunjung. Di Peru, jauh di sana, kepergian ayah mencari emas, dianggap setengah dari kematian.

Al labor me voy, no sé si volveré” — Aku berangkat bekerja, entah apakah akan bisa kembali lagi. (Pepatah penambang emas tradisional di Pegunungan Andes, Peru)

Kita punya juga: dek ameh kameh, dek padi manjadi. Masih ada: 

ka tambang babungo ameh, 

Ka sawah babungo ampiang,

ka rimbo babungo kayu,

ka sungai babungo pasia,

ka lauik babungo karang,

Soal ungkapan kita nomor satu, nomor dua sekaligus. Tentang hasil? Nanti dulu. Kita sudah tahu, mungkin bagaimana emas mengatur dunia. Juga rakyatnya. Di dunia, emas paling banyak dipakai rakyat, ada di India, banyak disimpan, China. 

Negara paling banyak punya emas, Amerika Serikat. Bank Central Amerika, The Fed di Eccles Building, 20th Street and Constitution Avenue N.W., Washington, DC 20551, terlihat berwibawa. Dari sini bisnis uang diatur, namun emas Amerika disimpan di tempat lain dalam sebuah brankas besar yang terbuat dari baja, dijaga sejumlah satpam tangguh. Emas yang disimpan dalam suhu stabil itu, didatangkan dari berbagai tambang di dunia. Penyimpanan emas itu “ada di deretan perbukitan Kentucky utara, di sebuah pangkalan militer berpenjagaan ketat, pemerintah AS menyimpan timbunan emas terbesarnya. The Fort Knox Bullion Depository,” tulis Jack Weatherford dalam buku Sejarah Uang.

Bayangkan brankas itu. Dindingnya setebal benteng kerajaan. Pintunya seberat gajah dewasa. Kuncinya dipegang banyak tangan, tak satu pun bisa membukanya sendirian. Di dalamnya, batangan-batangan emas tersusun rapi seperti roti tawar di toko, tapi setiap potongnya bernilai lebih dari rumah orang kebanyakan. Termasuk rumah saya.

Suhunya dijaga seperti merawat bayi, pasutri baru di rumah KPR yang belum lunas. Kelembapannya diatur seperti mengasuh anggrek, di taman kecil rumah KPR tado. Tentara berjaga seperti semut menjaga ratunya. Emas itu tidur nyenyak di Kentucky, bermimpi tentang dunia yang membutuhkannya. Dan, dijamin tak sama dengan mimpi kita yang tidurnya lelap setipis apapun kasurnya.

Emas dibutuhkan dunia. Jila biaya sekolah anak tersendat, subang dilego ke toko emas oleh emak. Kita punya banyak emas di Minangkabau, tapi dikelola secara serampangan. Dibiarkan. Bumi merana dan yang kaya yang serampangan tadi. Pemerintah bermain dengan APBD, seperti semut pada gula. Pemimpin Iran berkata, “tak ada anggaran,” merupakan sebuah kebodohan. Sudah lama semestinya, royalti emas memperkaya pundi-pundi APBD Sumbar. 

Sementara itu, rakyat berkata, mereka mau berhenti asal dicarikan kerja. Ini juga salah. Minta dicarikan kerja. Ini sehabis-habis main. Semestinya: kami baru akan mencari emas lagi, setelah kami urus izin. Pemerintaj tolong bantu, jangan dipersulit, jangan dilama-lamakan. Tak ada larangan cari emas adal ada izin. Nah, pemerintah kita, di sini lalainya

Emas kita banyak, Salido, Gunung Arum, Supayang, Sirukam, Sungai Abu, Hiliran Gumanti, Sungai Pagu, Abai, Batanghari, Palangki, Silungkang, Singkarak, Sulit Air, Timbulun, Rambatan, Simawang, Mangani, Mahat, Pangkalan, Ladang Padi, Bonjol, hampir seluruh Pasaman, Ophir, Masang, Air Bangis, dan hampir semua wilayah Pasaman Barat  dan Pasaman serta lokasi lain, seperti di daerah Agam. 

Bayangkan, banyak tapi tak satu pun orang mau masuk. Industri saja sejak zaman Belanda hanya satu, Semen Padang. Tanda-tanda apa itu? SOP tanah ulayat tidak duduk, maka kabar yang tersiar, “Sumbar susah.”

Yang susah itu pemimpin formal dan informal, yang kena dampak rakyat. Susah cari kerja. 

Maka maraklah tambang liar. Lalu siapa di balik gajah-gajah besi itu?. Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Sumbar sendiri mengakui adanya dugaan keterlibatan oknum dalam membekingi aktivitas pertambangan emas tanpa izin. Pengakuan yang datang terlambat, seperti hujan yang baru turun setelah hutan Sumatera terbakar. 

Pemerintah daerah?. “Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama pemerintah kabupaten/kota hanya sibuk menyaksikan tragedi demi tragedi, seolah yang dipersiapkan bagi masyarakat hanyalah liang kubur.” Kalimat Walhi itu seperti pisau, dingin, tapi menusuk tepat di ulu hati. 

Biarlah negeri ini, seperti sekarang saja. Biarlah kami begini-begini saja, asal anak sekolah, berobat gratis, negeri aman. Ini standar minimalis, seperti rumah KPR type 35. Tuhan tak suka orang yang tak maksimal berusaha, namanya ikhtiar. Ingat kisah Nabi Musa? Sampai ke titik tanah kering terakhir, bertemu bibir pantai. Tak ada lagi tempat lari. Ikhtiar sudah selesai, Fir’un semakin dekat. Ikhtiar itu sampai batas logika. Indak tamakan dek utak lai, bukan berhenti pada, “yo baa lai jano awak, sanggo iko talok nye, itu namanya malas berpikir. 

Nabi Musa sudah habis segala ikhtiar, maka di sana Tuhan bertindak.  Kalau laut akan terbelah juga kenapa mesti dipukul dulu, di situ ternyata masih ada ikhtiar. Nabi saja seperti itu diberlakukan Allah. 

Kita bukan nabi. Manusia biasa. Al Qur’an membuat urutan:  ikhtiar dulu, doa menyertai, lalu pasrah, tapi pasrah bukan sejak awal. Urutannya penting dan disengaja oleh Al-Qur’an. Yang hendak saya sampaikan, “bagaimana ya APBD kita kecil.” Mengurus rakyat tidak demikian. Uruskan izinnya sampai dapat.

Dan:  Majalah National Geographic edisi Indonesia, Januari 2009, tampil dengan cover depan seorang perempuan yang seluruh wajahnya dibalur emas. Bahkan emas itu memenuhi jemarinya yang sedang mengusap wajahnya sendiri. Itulah kisah emas nan jelita itu. Di kita, jadi kisah maut, entah bagaimana nasib Sumbar ke depan. (**)

Baca Juga

Prakiraan Cuaca | cuaca limapuluh kota
Prakiraan Cuaca Sumbar: Hujan Sedang-Le­bat Berpotensi di Solok Selatan dan Dharmasraya
Kata Gubernur Sumbar Soal Penertiban Tambang Emas Ilegal: Harus Diproses Hukum
Kata Gubernur Sumbar Soal Penertiban Tambang Emas Ilegal: Harus Diproses Hukum
Walhi Sumbar Desak Penindakan Pemodal dan Pembeking Tambang Emas Ilegal, WPR Bukan Solusi!  
Walhi Sumbar Desak Penindakan Pemodal dan Pembeking Tambang Emas Ilegal, WPR Bukan Solusi!  
Gerebek Tambang Emas Ilegal di Sijunjung hingga Solok: Polisi Hanya Bakar-bakar, Tak Ada Pelaku Diamankan 
Gerebek Tambang Emas Ilegal di Sijunjung hingga Solok: Polisi Hanya Bakar-bakar, Tak Ada Pelaku Diamankan 
Langgam.id-Paskibraka
Polemik Seleksi Paskibraka 2026, DPRD Sumbar Tunggu Surat Pengaduan 
Dalih Kapolda dan Kadis ESDM Sumbar Soal Beking Tambang Emas Ilegal, Singgung Regulasi Hukum
Dalih Kapolda dan Kadis ESDM Sumbar Soal Beking Tambang Emas Ilegal, Singgung Regulasi Hukum