Harap-Harap Cemas Menanti Hunian yang Dijanjikan

salah satu penghuni huntara Kapalo Koto menjemput air untuk kebutuhan harian.

salah satu penghuni huntara Kapalo Koto menjemput air untuk kebutuhan harian.

LANGGAM.ID — Desas-desus kabar penghuni hunian sementara atau huntara akan dipindahkan kembali terdengar. Beredar kabar mereka akan dikeluarkan dalam satu bulan kedepan. Kabar burung itu sering menghantui penghuni huntara di tengah ketidakpastian, kapan rumah yang dijanjikan pemerintah selesai dikerjakan.

Beberapa penghuni huntara Kapalo Koto, Kota Padang sering datang ke lokasi pembangunan hunian tetap atau huntap, untuk memastikan rumah-rumah tersebut terus dikerjakan oleh pemerintah. 

“Ada yang mengatakan bahwa bulan Agustus nanti kami harus meninggalkan hunian sementara ini, namun kabar tentang hunian tetap yang dijanjikan kepada kami juga belum ada hingga hari ini,” ujar salah satu penghuni huntara Yusnianti kepada langgam.id.

Saat ini pemerintah tengah membangun 500-800 unit hunian tetap untuk warga terdampak banjir bandang di Kota Padang pada 25 November 2025. Huntap tersebut dibangun beberapa titik, yaitu di Lubuk Minturun, Labuah Bukit dan Simpang Haru. 

“Beberapa waktu lalu, ada warga di hunian sementara yang melihat lokasi bangunan hunian tetap, namun katanya masih dalam pembangunan,” ujar Yusnianti.

Baca: Centang Parenang Setengah Tahun Penanggulangan Bencana Sumbar

Kepastian kapan akan dipindahkan ke hunian tetap sangat penting bagi Yusnianti dan penghuni huntara lainnya. Sebab selama tinggal di huntara para penyintas bencana kesulitan untuk menata perekonomiannya, terutama dalam mencari peluang pekerjaan baru. Apalagi, tidak sedikit dari penghuni huntara yang kehilangan sumber pendapatan sejak bencana tersebut. 

Hal senada juga disampaikan oleh penyitas banjir lainnya Istaria yang kini tidak memiliki pekerjaan tetap sejak tinggal di huntara. Ibu dua anak ini sebelumnya bertani di kawasan Batu Busuak. Empat petak sawah milik Istaria kini rata dengan lumpur usai diterjang banjir.

“Padahal padi waktu itu sudah menguning mau dipanen, tapi banjir datang dan semuanya habis, sudah rata tidak tersisa,” ujarnya.

Ia mengatakan hasil panen dari sawah tersebut mencapai lima atau enam karung beras. Hasil panen itu biasanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga serta dijual.

Sejak di huntara, Istaria mulai kesulitan untuk memenuhi kebutuhan harian, terutama biaya anak-anaknya pergi sekolah. Sementara itu suami Istaria  harus berjibaku mencari pekerjaan serabutan.

Halaman:

Baca Juga

Rekap Bencana, BPBD Laporkan Banjir dan Longsor di Agam-Pasaman Barat
Rekap Bencana, BPBD Laporkan Banjir dan Longsor di Agam-Pasaman Barat
angka kecelakaan Sumbar | 1 Calon Periwira Polisi di Sumbar Positif Covid-19
Polwan Polda Sumbar Korban Dugaan Pelecehan Seksual Mengaku Diancam dan Didesak Damai
polda sumbar
Diduga Dilecehkan di Ruang Kerja Atasan, Polwan Polda Sumbar Buka Suara
Ilustrasi
Siswi SD Negeri 33 Rawang Padang Meninggal Dunia, Diduga Korban Perundungan
Wanita di Pasaman Dipersekusi
Polwan Polda Sumbar Diduga Alami Pelecehan Seksual, Pelaku Perwira Pangkat AKBP 
Respons Wali Kota Bukittinggi usai Dipolisikan di Polemik Lahan Universitas Fort De Kock
Respons Wali Kota Bukittinggi usai Dipolisikan di Polemik Lahan Universitas Fort De Kock