Harap-Harap Cemas Penghuni Huntara Menanti Hunian yang Dijanjikan

salah satu penghuni huntara Kapalo Koto menjemput air untuk kebutuhan harian.

salah satu penghuni huntara Kapalo Koto menjemput air untuk kebutuhan harian.

“Sejak di huntara bingung mau kerja apa? Kebutuhan harian harus dipenuhi untuk anak sekolah, beli token listrik dan kebutuhan lainnya,” ujarnya.

Kecemasan yang serupa diutarakan oleh Arizal (40). Baginya, hal paling berat bukan hanya kehilangan rumah, melainkan rasa tidak pasti tentang masa depan keluarganya. Ia khawatir suatu hari nanti penghuni diminta keluar dari hunian sementara sementara rumah permanen yang dijanjikan belum selesai dibangun.

Bapak dua anak ini juga kesulitan untuk mencari pekerjaan tetap sejak tinggal di huntara. Kini Arizal bekerja serabutan di proyek bangunan di Kota Padang demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun penghasilannya yang tidak menentu membuat kehidupan mereka semakin sulit.

“Saya hanya ingin punya rumah lagi, sederhana saja. Yang penting anak-anak bisa tidur tenang,” ujarnya. 

Lampiran Gambar

Target 1,5 Tahun

Data Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi mencatat hingga 4 Mei 2026, progres pembangunan huntap di Sumatera Barat  telah mencapai 434 unit dari rencana total pembangunan 2.824 unit. Pembangunan huntap ditargetkan selesai dalam satu hingga satu setengah tahun kedepan. 

“Rencananya akan diselesaikan dalam 1,5 tahun ke depan karena proses pembangunan saat ini sudah mulai dikerjakan,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, Hendri Zulviton.

Ia menambahkan, rencana hunian tetap untuk korban bencana dibangun di sejumlah titik di Kota Padang seperti di kawasan Lubuk Minturun, Labuah Bukit dan Simpang Haru. “Insya Allah akan cukup untuk seluruh warga yang saat ini berada di hunian sementara,” katanya.

Namun, BPBD juga mempersilakan bagi ada warga yang ingin membangun hunian tetap secara mandiri. Pemerintah juga akan menanggung biaya perbaikan tersebut berdasarkan kategori kerusakan bangunan.  

“Catatan lainnya adalah lokasi pembangunan hunian tetap mandiri tidak boleh lagi berada di daerah rawan bencana dan kepemilikan sendiri,” ungkapnya.

Menanggapi pertanyaan kepastian perihal sampai kapan warga terdampak bencana tinggal di hunian sementara, Zulviton memastikan bahwa sebelum hunian tetap selesai maka warga akan tetap tinggal di hunian sementara.

“Kita pastikan hunian tetap selesai, maka warga yang tinggal di hunian sementara baru akan dipindahkan ke hunian tetap. Paling lama dalam 1,5 tahun ke depan,” tutur Zulviton.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Amran mengatakan pembangunan huntap berbeda seperti halnya hunian sementara yang keperluannya mendesak sehingga harus disegerakan. Menurutnya, pembangunan huntap memerlukan waktu lebih lama untuk menjamin kualitasnya sebagai tempat tinggal permanen.

“Huntap ini memang punya tahapan yang agak panjang ya, karena untuk menjamin kualitas tempat tinggal dan sebagai hunian tetap, tidak bisa langsung kita paksakan untuk tuntas dalam waktu dekat seperti halnya huntara,” ucap Amran.

Amran menyebut pembangunan huntap akan diupayakan rampung secepat mungkin, walaupun tidak bisa singkat. Namun, tetap memperhatikan kualitas bangunan agar nyaman untuk ditinggali nantinya. 

Adapun hingga 4 Mei 2026, progres pembangunan huntap di tiga provinsi tercatat mencapai 4,2 persen, dengan rincian: 1.661 unit dalam tahap pembangunan dan 248 unit telah selesai. Direncanakan total huntap ada 39.501 unit. (FIX)

Halaman:

Baca Juga

Kondisi huntara di Kapalo Kota, Kota Padang.
Setengah Tahun Pascabencana, Penghuni Huntara Kota Padang Krisis Air Bersih
Rakit darurat untuk penyeberangan masyarakat di Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman. Jembatan di sungai tersebut terdampak saat bencana banjir November 2025. Ghafar
Centang Parenang Setengah Tahun Penanggulangan Bencana Sumbar
Heboh Mobil Dinas Dipakai Istri ke Kampus, Ketua DPRD Limapuluh Kota Minta Maaf
Heboh Mobil Dinas Dipakai Istri ke Kampus, Ketua DPRD Limapuluh Kota Minta Maaf
Jumlah pelanggan listrik di Sumatra Barat (Sumbar) pada 2022 lalu mencapai 1.628.705. Jumlah ini meningkat 4,42 persen dibandingkan 2021
PLN Klaim Sistem Kelistrikan di Sumbar Sudah Pulih Total
Listrik di Sumbar Gagal Pulih Total Pukul 9 Malam, PLTU Ombilin Masih Bermasalah!
Listrik di Sumbar Gagal Pulih Total Pukul 9 Malam, PLTU Ombilin Masih Bermasalah!
Pasokan Listrik PLN
Listrik di Sumbar Padam Bergilir hingga Pukul 9 Malam, Target PLN Molor dari Jam 3 Sore!