Tutup Saja Jalan Lembah Anai, Ada Jalur Lain Sejak Zaman Belanda

Khairul Jasmi. (Foto: Do. Probadi)

Khairul Jasmi. (Foto: Do. Probadi)

Langgam.id – Seenaknya ngomong tutup. Jangan asal melontong saja ya ndak. Tapi, begini, siapa bisa menjamin Lembah Anai bebas bencana galodo? Titik terendahnya sampai Silaing Bawah, Padang Panjang, itu tinggi. Jika ditegakkan benang, satu kilometer tingginya. Bagaimana kalau waduk? Melontong juga sepertinya.

Apapun jalur itu layak ditutup, kalau mau. Kalau tidak, mari kita “nikmati” saja segenap masalahnya. Kawan saya lulusan Belanda, S2 pula, punya catatan. Novelia Musda namanya, menulis di Harian Singgalang 17 Desember 2025 dengan judul “Alternatif untuk Zaman Kini – Jalan Kayu Tanam ke Tambangan Sudah Ada Sejak Zaman Lampau”. Biar panjang tulisan saya ini, dikutipkan saja mana yang perlu. Sebagai berikut:

Jalur lama itu bukan dongeng. Satu jalur historis dari pesisir barat Sumatera ke pedalaman Minangkabau adalah dari Kayu Tanam ke Tambangan, Batipuh, via Bukit Ambacang. Rujukannya tulisan EB Kielstra tentang Sumatera Barat 1819-1825 dan HM Lange (1852) tentang pasukan Hindia Belanda di Sumatera Barat. Catatan yang tua, tapi nyata.

Ceritanya begini. Letnan Kolonel Antonie Theodore Raaff, komandan militer Belanda di Sumatera Barat, tiba di Kayu Tanam pada 24 Desember 1821. Ia sedang mencari jalan tercepat dari Padang ke pos Belanda di Simawang untuk menghadapi Kaum Paderi. Tiga jalur pribumi sudah ditolaknya: via Saning Bakar (yang pernah dilewati Raffles), Jalan Bukit Tujuh yang dipakai penduduk VI Kota, yakni Pandai Sikek, Koto Baru, Koto Laweh, Aie Angek, Paninjauan, Singgalang, dan Jalan Jawi yang dipakai penduduk IV Kota seperti Balingka, Koto Tuo, dan Koto Gadang. Yang terakhir ini, kata Novelia, kemungkinan jalur Malalak sekarang.

Di Kayu Tanam, Raaff dapat informasi soal jalan via Bukit Ambacang. Rutenya: Padang, Jambak, Ulakan, Pakandangan, Kayu Tanam, Tambangan, Sipinang, Simawang. Jalan dari Kayu Tanam dibuat melingkar naik di pinggang hingga ke puncak bukit dan menurun ke Tambangan dengan rerata kemiringan sedang, 20 sampai 22 derajat. Puncaknya 900 meter. Lebarnya, menurut Novelia, kemungkinan sampai 2 meter karena dipakai mengangkut artileri berat. Jalur ini intensif dipakai dari 1821 sampai 1833.

Baru pada 1833, atas perintah Gubernur Jenderal Van den Bosch, jalan Lembah Anai dibuat. Dan inilah yang menarik: tanggal 23 September 1833, Van den Bosch memerintahkan dua anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Alam Hindia Belanda, Burger dan Korthals, melakukan survei apakah mungkin dibuat jalan di jalur tersebut. Burger menyebut jalan tersebut sangat sulit dibuat tapi bukan tidak mungkin, sementara Korthals lebih pesimis lagi dengan menganggapnya mustahil. Pada prinsipnya keduanya tidak merekomendasikan. Tapi Van den Bosch tetap memerintahkan pengerjaan, dan pada 3 Oktober 1833 dimulailah konstruksi serentak, dari Padang Darat oleh Burger dan Letnan HM Lange, dari bawah oleh Haccou. Panjang ruas Kayu Tanam-Padang Panjang 17 km, dengan 6 km di Lembah Anai itu sendiri.

Lalu datang rel. Persiapan pembangunan jalur kereta api dimulai 1873, konstruksi 1887, dan segmen Lubuk Alung-Padang Panjang yang melewati Lembah Anai selesai 1 Juli 1891. Terowongan Lembah Anai juga rampung di tahun yang sama. Seluruh jalur Teluk Bayur-Sawahlunto sepanjang 155,5 km baru tuntas 1 Januari 1894, dengan tenaga “orang rantai”, tawanan dari penjara-penjara di Jawa, dan insinyur didatangkan dari Inggris karena orang Belanda sendiri angkat tangan menghadapi kontur ekstremnya. Yang sering luput: jalur kereta api itu, menurut catatan Koran Sulindo, dibangun sejajar atau di atas jalan pedati Van den Bosch. Artinya jalan dan rel berbagi satu koridor sempit yang sama, yang kini sama-sama rentan galodo.

Sejak itu jalur Bukit Ambacang pelan-pelan ditinggalkan orang Eropa, meski pribumi masih memakainya. Ini titik balik yang sering kita lupa: Lembah Anai itu inovasi Belanda, bukan warisan leluhur kita. Nenek moyang kita justru menghindari lembah itu. Bahkan ahli ilmu alam Belanda sendiri pun sudah memperingatkan: mustahil. Tapi tetap dipaksakan.

Yang menohok dari catatan Novelia, data geologi kawasan ini sebenarnya sudah ada sejak RDM Verbeek menerbitkan kajian topografi dan geologi Sumatera Barat pada 1883. Tapi hasil-hasil relevan dari disiplin ilmu tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal apakah untuk perencanaan pembangunan fisik, identifikasi potensi sumber daya alam, termasuk antisipasi bencana. Riset 150 tahun tersimpan rapi di jurnal, tak sampai ke meja pengambil kebijakan. Inilah jenis kelalaian yang ongkosnya kita bayar tiap kali galodo turun.

Maka usulan Novelia jelas: Dengan kondisi jalan Lembah Anai yang semakin rawan sekarang, ada baiknya jalur lama Kayu Tanam ke Tambangan ini diselidiki kembali sebagai alternatif. Jarak tempuhnya tidak akan jauh beda, tapi resiko jalur ini kemungkinan besar tidak sebesar jalur Lembah Anai karena tidak mengikuti jalur sungai yang sifatnya fluktuatif.

Dan ini hitungan yang masuk akal. Jalan tol Padang-Pekanbaru butuh terowongan 3,5 km atau fly over, proyek bertahun-tahun. Jalur Kayu Tanam-Tambangan, kata Novelia, bisa diupayakan dalam waktu kurang dari setahun jika digarap sungguh-sungguh, dengan kontur dan lebar jalan yang representatif tentu saja.

Sampai di sini, izinkan saya menyebut julukan yang sejak tadi saya tahan. Novelia menjuluki Lembah Anai dengan satu kata: jalur maut. Barangkali sudah ribuan orang yang telah meninggal sejak jalan Belanda tersebut dibuat pada 1833, kuli pembangun jalan, penumpang pedati dan kereta kuda, korban perampokan, korban konflik, kecelakaan kereta api dan kendaraan bermotor sepanjang dua abad, ditambah korban galodo dan longsor. Bukan angka kecil. Bukan pula bencana yang baru kemarin sore.

Jadi, mari kita kembali ke pertanyaan awal: tutup atau biarkan?

Tutup permanen barangkali terlalu drastis, dan saya sudah bilang di awal, jangan melontong saja. Tapi tutup sementara, sambil membuka dan mempersiapkan jalur Kayu Tanam-Tambangan yang sudah ada sejak zaman lampau itu, kenapa tidak? Belanda yang membangun Lembah Anai pada 1833 punya alasan militer dan ekonomi yang masuk akal di zamannya, meski para ahlinya sendiri sudah memperingatkan. Kita di tahun 2026, dengan data geologi dua abad, dengan korban yang sudah ribuan, dengan galodo yang berulang tiap beberapa tahun, apa alasan kita tetap bertahan di jalur maut itu?

Dan, Lembah Anai sekarang bersengketa pula. Sebelumnya juga. Habis waktu oleh “ketidakmengertian” kedua belah pihak. Kecek langik inyo nan janiah, kato bulan inyo nan tarang. Kita orang banyak ini, kost di Sumatera Barat. Numpang lewat saja boleh di Lembah Anai, tapi jangan ikut campur.

Bagaimana akal lagi? Akal kita banyak, akal pemerintah khusus untuk hal ini, “tertumbuk ladang ke ngarai,” diam saja dia. Tak tentu yang akan dikerjakan. Kata urang Piaman, “lah tatumbuak gala ka napa.”

Namun, inilah kenaifan paling agung zaman kontemporer di Minangkabau setelah DIM.

Nenek moyang kita memilih Bukit Ambacang. Mungkin ada hikmahnya. Mungkin sudah saatnya kita rendah hati, mendengar mereka. (*)

Baca Juga

Ketua Tim Koordinasi Penanganan Pelanggaran Pemanfaatan Ruang Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi saat meninjau bangunan rangka besi hotel di Lembah Anai, pada Senin 16 Februari 2026.
Tarik Ulur Pembongkaran Bangunan Lembah Anai, dari Maladministrasi hingga Putusan Sela 
Peserta antusias mengikuti seminar. (Foto: Istimewa)
HGI Dorong Literasi Digital sebagai Benteng Generasi Muda
Ekonomi Sumbar Pascabencana Bergeliat, Pasar Rakyat hingga UMKM Kembali Bergerak
Ekonomi Sumbar Pascabencana Bergeliat, Pasar Rakyat hingga UMKM Kembali Bergerak
Pemprov Bakal Bangun Pembatas Jalan Kawat Baja di Lembah Anai
Pemprov Bakal Bangun Pembatas Jalan Kawat Baja di Lembah Anai
Jalan Amblas Mirip Sinkhole di Limapuluh Kota, Jalur Tembus Situjuah - Batusangkar Lumpuh Total
Jalan Amblas Mirip Sinkhole di Limapuluh Kota, Jalur Tembus Situjuah – Batusangkar Lumpuh Total
Bangunan rangka besi hotel di sempadan sungai Lembah Anai.
Apa Saja Aturan yang Dilanggar Bangunan di Lembah Anai?