Bersama puluhan petani lainnya, Syamsul warna Manggu Tanah, Kabupaten Solok berbondong-bondong ke lokasi groundbreaking pemulihan sawah rusak terdampak bencana banjir Sumatra. Acara itu digelar secara daring dan serempak di tiga provinsi terdampak, Kamis 15 Januari 2026. Menteri Pertanian Amran Sulaiman meminpim seremonial itu dari Aceh.
Syamsul datang dengan harapan lahan sawahnya seluas 1 hekater bisa segera diperbaiki usai di landa banjir bandang. Namun, hari itu, para petani terdampak hanya menyimak kata-kata sambutan. “Sampai acara selesai tak ada alat berat yang membersihkan lahan saya,” ujar Syamsul, Jumat (10/04/2026).
Beberapa minggu pascabanjir bandang 25 November 2025 lalu, Syamsul menyewa eskavator secara pribadi untuk membersihkan lahan sawahnya yang tertimbun pasir material longsor.
Setidaknya ia harus meronggoh kocek sekitar Rp4 juta untuk sewa eskavator selama dua hari. Namun, air sungai kembali naik dan menerjang lahan sawah Syamsul. Empat bulan berlalu, sawah Syamsul masih belum diperbaiki. Pematang sawah yang runtuh, belukar rumput liar juga memenuhi lahan sawah Syamsul.
“Selama ini yang baru saya dapat hanya sembako. Bukan tidak bersyukur, tetapi pemulihan lahan pertanian ini yang paling penting dibantu, sebab ini mata pencaharian utama saya,” ujarnya.
Symsul kini harus menanti sawah miliknya rampung diperbaiki, sehingga bisa kembali diolah sebagai sumber pendapatan sehari-hari. Biasanya, dari sawah sekitar 1 hektare itu Syamsul bisa mendapatkan 800 kilogram hingga 1.200 kilogram gabah.
Selain Syamsul, petani di Nagari Koto Hilalang, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Naman juga sempat menyewa eskavator secara pribadi untuk membersihkan lahan sawahnya yang tertimbun pasir dan bebatuan yang terbawa arus banjir. “Harga sewanya Rp2 juta sehari, itu belum termasuk bbm,” kata Naman.
Langkah tersebut terpaksa diambil Naman, sebab jika pemulihan lahan pertanian lambat dikerjakan, tentu akan mengganggu perekonomiannya. Saat ini sawah Naman sudah bersih dari material sisa banjir. Namun, masih belum bisa digarap lantaran system irigasi yang terdampak banjir masih dalam perbaikan.
Masalah yang sama juga dihadapi oleh Parmawi (85) yang terpaksa memperbaiki lahan sawah miliknya yang ikut terdampak banjir. Saat ini, sawah Parmawi masih tertimpun pasir, serta batang kayu berukuran besar bergelimpangan di tengah sawahnya.
“Kayunya besar-besar, harus dipotong-potong dulu agar bisa dipindahkan ke pinggir,” ucapnya sambil menunjuk ke arah sawahnya, Sabtu (11/04/2026).
Banjir bandang yang menerjang Solok menyebakan sawah Parmawi seluas setengah hectare rusak. Dari lahan tersebut, Parmawi bisa mendapatkan sebanyak dua ton. Kini ia juga berharap lahan tersebut kembali bisa diolah agar tidak berdampak pada musim tanam yang akan segara tiba.
Pemerintah Provinsi Sumatra Barat mencatat 6.451 hektar lebih sawah di rusak akibat bencana banjir bandang, banjir serta longsor akhir November 2025. Rinciannya, 2.827 hektar sawah rusak berat, 2.802 hektar rusak ringan dan 822 hektar rusak sedang. Total kerugian dari kejadian tersebut mencapai Rp663 miliar lebih. Sementara itu di Kabupaten Solok mencapai 1.920 hektar, dengan 367 hektar mengalami puso dan 1.394 meter jaringan irigasi rusak.
Tebelenggu Rantai Birokrasi dan Pendataan
Lambatnya proses perbaikan lahan sawah terdampak bencana tidak lepas dari rantai birokrasi pemerintahan yang tidak efektif. Hal ini berdampak cukup signifikan terhadap pengambilan keputusan di lapangan.






