1.491 Hektare Karhutla di Sumbar Selama 2026, Dinas Kehutanan Klaim Angka Tak Gambarkan Kebakaran Masif

1.491 Hektare Karhutla di Sumbar Selama 2026, Dinas Kehutanan Klaim Angka Tak Gambarkan Kebakaran Masif

Damkar berjibaku memadamkan kebakaran lahan di Kabupaten Limapuluh Kota. (Foto: Damkar Limapuluh Kota).

Langgam.id – Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Barat (Sumbar) selama 2026 mencapai 1.491,07 hektare. Kabupaten Pesisir Selatan, menjadi wilayah dengan luasan terbesar berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi).

Data SiPongi mencatat, dari total luasan karhutla di Sumbar tersebut sebanyak 1.071,53 hektare berada di Kabupaten Pesisir Selatan. Luasan itu setara sekitar 71,9 persen dari total karhutla Sumbar sepanjang 2026.

Selanjutnya, Kabupaten Pasaman Barat berada di posisi kedua dengan luas karhutla mencapai 215,67 hektare. Kemudian disusul Kabupaten Pasaman dengan luas 69,86 hektare, Kabupaten Dharmasraya 64,27 hektare, dan Kabupaten Sijunjung 47,93 hektare.

Sementara itu, sejumlah daerah lainnya mencatat luasan karhutla yang relatif lebih kecil. Di antaranya Kabupaten Solok Selatan 9,75 hektare, Kabupaten Padang Pariaman 6,39 hektare, Kabupaten Solok 4,96 hektare, dan Kabupaten Agam 0,71 hektare.

Berdasarkan data tersebut, total luasan karhutla di delapan kabupaten dan kota di Sumbar mencapai 1.491,07 hektare. Di sisi lain, SiPongi mencatat sejumlah kabupaten dan kota di Sumbar belum mencatat luasan karhutla sepanjang 2026. 

Wilayah tersebut yakni Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kota Sawahlunto, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang, Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kota Pariaman, Kota Payakumbuh, dan Kota Solok.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar, Ferdinal Asmin, mengatakan angka luasan dalam data karhutla tersebut perlu dilihat secara proporsional.

“Luasan yang tercatat dalam laporan tidak serta merta menggambarkan kondisi kebakaran yang terjadi secara masif di lapangan,” kata Ferdinal kepada Langgam.id, Senin (24/8/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan laporan kebakaran yang diterima dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah kejadian terjadi di Dharmasraya. Kebakaran tersebut mayoritas terjadi di lahan pertanian maupun lahan milik masyarakat.

“Hanya saja ada laporan kebakaran yang kami terima dalam waktu dekat terjadi di Dharmasraya seperti di Kecamatan Timpeh” ujarnya.

Menurut Ferdinal, luasan lahan yang terbakar dalam kejadian-kejadian tersebut umumnya berkisar satu hingga dua hektare.

“Namun, kondisi kebakaran sejauh ini dinilai belum menunjukkan situasi yang masif,” jelasnya. 

Ferdinal menyebut kondisi cuaca turut memengaruhi perkembangan kebakaran. Cuaca yang panas kemudian diikuti hujan membuat sejumlah kejadian kebakaran relatif dapat dikendalikan sehingga belum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

“Artinya karena kondisi cuaca yang cukup panas satu hari, terus besoknya hujan jadi relatif masih bisa dikendalikan,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan, masih ada masyarakat yang masih melakukan aktivitas pembakaran untuk persiapan pembukaan lahan. 

“Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi peningkatan risiko karhutla,” ujarnya.

Kata Ferdinal, potensi peningkatan risiko karhutla akan sangat bergantung pada kondisi cuaca, khususnya periode hari panjang tanpa hujan.

Menurutnya, pemerintah daerah masih menunggu data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk melihat perkembangan kondisi tersebut.

“Kalau semakin panjang hari tanpa hujan, maka risiko kebakaran lahan akan semakin tinggi,” ujarnya.

Ferdinal mengatakan periode Agustus hingga September menjadi waktu yang perlu mendapat perhatian lebih dalam pengendalian karhutla.

“Pemerintah akan menyesuaikan langkah antisipasi dengan perkembangan data cuaca dan kondisi di lapangan,” ungkapnya. (WAN)

Baca Juga

Karhutla di Kabupaten Solok
Risiko Karhutla Masih Mengintai Sumbar, Terdeteksi 449 Hotspot
Disdikbud menginteruksikan siswa memakai masker untuk mengantisipasi dampak asap karhutla.
Pemko Padang Tetapkan PJJ Sampai Jumat Imbas Udara Memburuk
Sumbar Diselimuti Asap, BMKG Sebut Berasal dari Jambi dan Sumsel 
Sumbar Diselimuti Asap, BMKG Sebut Berasal dari Jambi dan Sumsel 
Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi
Sejumlah Daerah Berlakukan PJJ, Gubernur Sebut SMA Tetap Tatap Muka
Gubernur Sumbar Mahyeldi
Asap Karhutla, Gubernur Surati Kabupaten/Kota Terkait Sekolah Jarak Jauh
Siswa SMA 10 Padang tampak masih berada di lingkungan sekolah pada Rabu (16/9/2026). Foto: Sayudi/Langgam
Kota Padang Kembali PJJ, Siswa SMA Masih Masuk Sekolah Akibat Telat Dapat Info