Menjajaki Transisi Energi Swadaya Warga di Kaki Bukit Barisan

PLMTH di Jorong Muaro Busuak, Kabupaten Solok, Sumbar sebagai sumber energi listrik swadaya warga

PLMTH di Jorong Muaro Busuak, Kabupaten Solok, Sumbar sebagai sumber energi listrik swadaya warga

Pada 2009 warga Muaro Busuak mulai musyawarah untuk mengusulkan pengadaan listrik. Warga berencana akan membangunan Pembangkit Listrik Mikro Hidro dengan memanfaatkan aliran Sungai Batang Gawan Kaciak.

Lampiran Gambar

Pembangunan PLTMH ini bisa terwujud lewat program PNPM atau Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri pada 2009.

Ivan mengingat betul proses pengerjaan itu dilakukan secara bersama-sama di tengah keterbatasan fasilitas yang ada. Bahkan pipa-pipa besi untuk turbin PLTMH diangkut ke dalam Jorong Muaro Busuak diangkut dengan bantuan tenaga kerbau lantaran alat berat tidak bisa masuk ke daerah itu. 

 “Pembangunan pipa saluran airnya dikerjakan dengan gotong royong. Pipa itu dibawa dengan bantuan kerbau ke tempat pembangunan turbin di tepi sungai,” ujar Ivan. 

Masyarakat secara gotong royong berjibaku membangun bak penampung dan rumah turbin. Warga Jorong Muaro Busuak berbagi tenaga, sebagian mengangkut material, sebagian lagi menggali saluran air dengan cangkul dan tenaga manual.

Para kaum perempuan juga turut ikut serta dalam pembangunan PLTMH dengan membawa pasir sejauh 50 meter untuk pembangunan PLTMH. 

Kurang lebih 40 hari proses pembangunan PLTMH rampung. Listrik yang berkapasitas 12 kva mulai dinikmati warga Jorong Muaro Busuak yang selama ini belum dialiri listrik negara.

65 kepala keluarga merasakan kehadiran PLTMH itu. Rata-rata setiap rumah menerima 150 watt. Pada awalnya listrik dari PLTMH hanya menyala selama 12 jam sehari, mulai dari sore hingga esok pagi.

Kondisi dialami oleh masyarakat lebih dari 10 tahun yang hanya bisa menikmati aliran listrik setengah hari. Baru pada 2021 kemarin, masyarakat bisa mendapatkan aliran listrik 24 jam sehari setelah masyarakat mengganti kapasitas mesin turbin menjadi 42 KVA. 

Sementara itu, untuk biaya perawatan mesin serta operasional pengurus PLTMH meminta iuran kepada kepala keluarga. Awalnya, dulu Rp20.000 per bulan, namun seiring berjalannya waktu, iuran naik Rp35.000 hingga Rp45.000 per bulannya. 

“Iuran ini untuk perawatan mengganti lahar turbin, yang paling sering tali pambel. Itu bisa lima kali dalam setahun ganti,” sebutnya.

Rumah pembangkit PLTMH berada di pinggiran Sungai Batang Gawan Kaciak di sela lereng Bukit Barisan sehingga harus berhadap dengan risiko alam seperti banjir dari sungai yang meluap.

Lampiran Gambar

Dilema Warga Beralih ke Listrik Negara

Beberapa waktu terakhir warga Jorong Muaro Busuak mendengar isu PLN sebagai perusahaan listrik negara akan masuk ke desa tersebut untuk menggantikan PLTMH. 

Isu itu semakin santer terdengar, sejak PLTMH mulai mengalami kerusakan, terutama setelah diterjang banjir bandang November 2025 lalu.

Halaman:

Baca Juga

Komisari SR12, Ridwanto Efendy, memotong tumpeng tanda dibukanya SR12 Training Center di Padang. (Langgam.id / Irwanda Saputra)
Dari Rantau ke Ranah Minang, SR12 Hadirkan Training Center Baru di Padang
Transisi Energi Kian Mendesak, Masyarakat di Tiga Daerah Terdampak Dorong Keadilan dan Transparansi
Transisi Energi Kian Mendesak, Masyarakat di Tiga Daerah Terdampak Dorong Keadilan dan Transparansi
Presiden Prabowo Turunkan Biaya Haji 2026 di Tengah Lonjakan Harga Avtur
Presiden Prabowo Turunkan Biaya Haji 2026 di Tengah Lonjakan Harga Avtur
Polda Sumbar Ungkap 7 Kasus Narkoba Selama Maret 2026, Sita 9,9 Kg Sabu
Polda Sumbar Ungkap 7 Kasus Narkoba Selama Maret 2026, Sita 9,9 Kg Sabu
Siswa SMA di Padang Diduga Dibully Teman Sekelas, Korban Depresi dan Dirawat di RS Jiwa
Siswa SMA di Padang Diduga Dibully Teman Sekelas, Korban Depresi dan Dirawat di RS Jiwa
Ilustrasi warga mendulang emas
Harga Gambir Turun, Warga Ramai-ramai Mendulang Emas di Limapuluh Kota