Tradisi Malamang

Ibnu Khaldun

Dosen Fakultas Adab & Humaniora UIN Imam Bonjol Muhammad Nasir. (IST)

Hampir habis bulan Sya’ban, hampir tiba pula bulan Ramadhan. Berbagai tradisi menyambut Ramadhan biasanya sudah semarak.

Bulan Sya’ban dalam masyarakat Minangkabau memiliki nama sendiri. Ada yang disebut bulan balimau. Sebagiannya lagi menyebutnya bulan tadu’a (bulan ter-do’a). Ada juga yang melafalnya dengan bulan malamang. Di bulan malamang inilah hidup tradisi malamang, tradisi yang tak banyak mendatangkan kontroversi.

Tersebut bulan malamang karena ada aktivitas membuat lamang. Lamang adalah penganan yang terbuat dari beras ketan bercampur santan yang dimasak di dalam ruas bambu muda. Dibakar dan diputar-putar agar matang merata. Tujuannya agar orang tak termakan lamang matah.

Termakan lamang matah artinya tertipu. Hangus di luar, badatuih (berderai) di dalam. Suatu pantang bagi orang Minang, meskipun nyatanya banyak juga yang melanggar pantang.

Asal-usul

Malamang mempunyai sejarahnya sendiri. Awalnya malamang bukanlah tradisi Minangkabau, apalagi acara adat.

Menurut cerita, lamang sebagai kata dasar malamang adalah jenis makanan tradisional yang berasal dari beras ketan yang dimasukkan ke dalam bambu disisipkan daun pisang lalu dibakar di atas api. Selain di alam Minangkabau, lamang sebagai makanan ini juga tersebar di seluruh kebudayaan Melayu.

Populernya lamang di Minangkabau, menurut cerita masyarakat Pariaman, lamang diperkenalkan Syekh Burhanuddin Ulakan (1646-1704). Syekh Burhanuddin adalah salah seorang penyebar (pengajar) agama di Minangkabau. Ia banyak membangun surau tempat belajar agama di Ulakan, Pariaman, Sumatera Barat.

Diceritakan, bahwa Syekh Burhanuddin sering dijamu masyarakat ketika berdakwah. Namun ia meragukan kehalalan makanan yang disuguhkan kepadanya.

Di zaman itu, masyarakat masih suka memakan makanan olahan dari daging tikus dan ular, tulis Ph.S. van Ronkel dalam artikelnya Het Heiligdom te Oelakan atau Tempat Keramat di Ulakan (1914).

Syekh Burhanuddin menolak dengan halus. Ia katakan bahwa dirinya tak suka daging tikus dan ular. Meskipun telah disuguhi makanan lainnya, ia masih tetap ragu dengan kehalalan makanan itu, karena sangat mungkin makanan tersebut dimasak di wadah bekas memasak daging tikus, ular dan mungkin juga daging babi.

Lalu, ia mulai mencontohkan. Memasak nasi di dalam ruas bambu yang dilapisi daun. Namun, karena nasi tidak bisa tahan lama, lalu ia mengganti beras dengan beras pulut. Itulah asal mula lamang.

Cara masak Syekh Burhanuddin tersebut lalu ditiru oleh orang-orang di sekitar surau tempat ia mengajar. Begitulah ceritanya.

Namun demikian, Lamang juga ditemukan sebagai makanan tradisional di Riau, Bengkulu, Jambi, Malaysia, Suku Dayak dan beberapa daerah lainnya. Bagaimana pula asal usulnya, apa terkait juga dengan Syekh Burhanuddin, lain pula pasal pembahasannya.

Bagaimana lamang berubah menjadi tradisi tak banyak sumber yang bisa dirujuk. Budayawan Emha Ainun Najib (2018) mengatakan terkait asal-usul penciptaan tradisi apapun bisa ‘dibisa-bisakan’, ‘disambung-sambungkan’, dan bisa disesuai-sesuaikan.

Namun, merujuk kepada perkembangan hantaran dalam acara kekerabatan, maka diduga kuat lamang menjadi salah satu bentuk perubahan yang sifatnya menambah dalam hantaran adat di Minangkabau.

Kehangatan Sosial Lamang

Malamang atau proses membuat lamang biasanya dilakukan kaum ibu. Dilakukan di tempat terbuka, di samping dapur, di sasak rumah atau di mana mungkin asap mengepul, aroma berpendar di udara.

Tegur sapa serupa ungkapan malamang kau piak? (sedang membuat lemang ya, Upik), merupakan sapaan yang menggembirakan bagi perempuan-perempuan yang sedang memasak lamang.

Bersama gelora bara di tungku pembakaran lemang, bergelora pula rasa hangat dan gembira orang yang di sapa itu.  Betapa tidak, aktivas membuat lamang itu bagi perempuan Minang merupakan tanda rejeki sedang naik dan hubungan berkerabat sedang elok, kata A.A. Navis dalam bukunya Alam Terkembang Jadi Guru (1984).

Aktivitas ini berubah menjadi tradisi, sebab ada aktivitas dan makna sosial di sana. Terutama untuk kepentingan hubungan antara menantu dan mertua.

Lamang tersebut akan menjadi isi hantaran seorang menantu kepada mertuanya. Agak sebatang dua batang untuk menukuk-tambah hantaran nasi, gulai ayam dan kue gadang (kue tart).

Di daerah Pariaman dan Agam sebelah Barat terlihat kesan bahwa semakin besar hantaran semakin besar pula hati mertua. Dengan bangga, hantaran yang besar tersebut dapat dibagi kepada kerabat yang lain.

Dengan bangga ia akan berbagi seraya bercerita, “inilah hantaran menantu saya si Upiak anak rang mudiak.” Semakin besar jumlah hantaran, semakin panjang cerita. Begitu pula sebaliknya.

Selain untuk mertua, lamang ini juga dibagikan kepada urang siak (tokoh agama), dan anak siak (santri) yang ada di sekitarnya. Maksudnya sebagai tanda bersyukur, ada berlebih rejeki, tersapa karib kerabat, handai tolan.

“Iko mah tando kami lai barasaki, Tuangku. Alhamdulillah, lai talakik malamang,” begitu di antara ucapan ibu-ibu usai membagi lemang buatannya kepada Tuanku urang siak dalam kampung.

Demikianlah di antara makna sosial dalam tradisi malamang. Namun perlu disadari bahwa  tradisi itu banyak mengandung simbol.

Simbol itu bersifat manasuka, suka-suka pembuatnya, (arbitrer). Maka cara mencari makna yang paling pas adalah bertanya langsung kepada masyarakat yang mengamalkannya.

Di musim mewabahnya corona virus alias covid-19 ini patut pula ditunggu liputan media. Apakah tradisi malamang ter-lockdown pula. Andaipun iya, ahai sayang lah pula. Padahal, sesuai tujuannya, selain pertanda ekonomi membaik dan hubungan kerabat sedang elok, tradisi dimaksudkan untuk bermaaf-maafan menjelang masuk puasa.

Nun, jauh di rantau. Anak nagari yang lelah bergelut dengan nasib, sedang termenung. Gagal pulang kampuang. Di bibir perantauan entah di Merak entah di Bakauheni ia berpantun:

Antah lamang antah kolak
Santan lah kuyuik jo mambana
Antah pulang antah indak
Badan lah takuik jo korona.

*Muhammad Nasir adalah Dosen Fakultas Adab & Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Baca Juga

Ahmad Muzani Lelang Sapi untuk Bantu Korban Banjir Lahar Dingin Sumbar, Laku Rp 500 Juta
Ahmad Muzani Lelang Sapi untuk Bantu Korban Banjir Lahar Dingin Sumbar, Laku Rp 500 Juta
Wajah Gelap Homo Digitalis
Wajah Gelap Homo Digitalis
Ribuan Komix Herbal untuk Korban Banjir Lahar Dingin dan Longsor Sumbar
Ribuan Komix Herbal untuk Korban Banjir Lahar Dingin dan Longsor Sumbar
Nofel Nofiadri
Galodo Soko dalam Kontestasi Kepala Daerah
Anggota Dewan Pembina DPP Partai Gerindra,Andre Rosiade mengucapkan selamat kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran
Anggap sebagai Kampung Halaman, Prabowo Berkomitmen Bangun Sumbar
KY Fokuskan Pemantauan Sidang Perempuan Berhadapan dengan Hukum
KY Fokuskan Pemantauan Sidang Perempuan Berhadapan dengan Hukum