Langgam.id – Heboh dugaan perundungan (bullying) terjadi di SMA Pertiwi 2 Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar). Korban berinsial B, diduga mendapatkan ancam hingga berupa bullying verbal.
Terduga pelaku berjumlah empat orang, teman korban di kelas 12. Kasus ini mencuat setelah keluarga korban marah-marah di ruang kepala sekolah.
Video keluarga korban emosi ini viral di media sosial. Terlihat, para guru hanya bisa tertunduk. Tampak juga empat orang sisiwa yang disinyalir terduga pelaku bullying, duduk di lantai.
“Tampang-tampang yang membully. Siap siap kamu ya, kamu bikin hancur masa depan keponakan saya,” ucap pria sambil mengambil video.
Informasinya, saat ini korban sedang menjalani observasi di Rumah Sakit Jiwa Prof HB Saanin Padang. Menurut keluarga di dalam video yang beredar, korban mengalami depresi.
Langgam.id sudah mencoba untuk meminta bertemu dan wawancara langsung kepada ibu korban bernama Tari. Awalnya rencana tersebut disetujui, namun tiba-tiba dibatalkan.
Ia beralasan belum bersedia bertemu dengan orang baru. “Saya belum siap untuk bertemu dan diwawancarai wartawan,” katanya, Rabu (8/4/2026).
Sekolah Bantah Bullying
Wakil Kepala SMA Pertiwi 2 Kota Padang, Desi Nofita Sari, membantah adanya tindakan bullying yang dilakukan sesama peserta didiknya.
“Saya rasa tidak terjadi bullying,” kata Desi ditemui di sekolah.
Meskipun demikian, kata dia, tim dari pihak sekolah saat ini masih melakukan penelusuran fakta. Dalam dugaan kasus ini, sekolah sangat berempati besar.
“Info pastinya terkait bullying masih dalam tahap penelusuran mendalam. Semua pihak harus berkontribusi, baik dari si korban dan sipelaku. Ini kan baru setengah setengah,” ucapnya.
“Kami dari phak sekolah, kami memiliki empati besar. Semua untuk siswa kami, baik yang dituduh sebagai korban maupun yang dituduh sebagai pelaku. Jadi intinya gini, apapun yang terjadi kami masih dalam tahap penelusuaran fakta,” tambah Desi.
Desi mengungkap pihak sekolah tidak ingin gegabah dalam mengambil kesimpulan yang saat ini datanya masih belum lengkap. Maka itu, ia bakal meminta kedua belah pihak untuk adil mengungkap fakta sebenarnya.
“Kami menghubungi pihak keluarga, mendatangi siswa kami, kami berdiskusi dengan orang tua yang dituduh anaknya pelaku. Kami hubungi semua, kami berikan support, dalam masalah ini kami tidak diam. Otomatis kami akan evaluasi apa yang menajdi, kenapa hal ini terjadi,” ungkapnya.
Sampai saat ini, pihak dari sekolah mengaku belum bisa bertemu dengan Bima. Hal ini lantaran masih menjalani obseservasi di rumah sakit jiwa.






