Saat Galodo Merenggut Sawah, Bulog Menjaga Harapan

Saat Galodo Merenggut Sawah, Bulog Menjaga Harapan

Relawan menyalurkan bantuan logistik untuk penyintas galodo atau banjir bandang di Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Jumat (5/12/2025). Salah satu logistik yang selalu disalurkan di masa darurat adalah beras Bulog kantong 5 kg atau pun 10 kg.

Langgam.id – Suara air bah itu masih terngiang di kepala Yusra. Malam di penghujung November 2025 itu, perempuan paruh baya di Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, tak pernah membayangkan kampungnya akan berubah menjadi hamparan lumpur dan batu.

Hujan turun deras sejak sore. Sungai yang biasanya tenang mendadak mengaum. Material kayu, batu, dan lumpur datang menghantam permukiman. Orang-orang berlari menyelamatkan diri. Di tengah kepanikan, sawah yang selama ini menjadi sumber hidup masyarakat ikut hilang disapu galodo.

Beberapa hari setelah bencana, dapur-dapur warga mulai sunyi. Persediaan beras menipis. Banyak keluarga kehilangan penghasilan sekaligus kehilangan lahan pertanian. Sawah yang biasanya hijau berubah menjadi aliran sungai baru yang dipenuhi batu dan pasir.

Dalam situasi itulah, bantuan beras berlabel Bulog datang ke kampung mereka. Beras itu dibawa oleh relawan maupun pemerintah.

Bagi Yusra, beras itu bukan sekadar bantuan pangan. Ia adalah penanda bahwa cadangan beras yang dikelola Bulog hadir di tengah krisis.

“Waktu itu kami benar-benar susah. Sawah habis, tidak bisa ditanami lagi. Beras bantuan itu sangat berarti, setidaknya kami masih bisa makan nasi,” tutur Yusra pelan, Sabtu (2/5/2026).

Di rumah-rumah pengungsian dan hunian sementara, karung-karung beras Bulog mulai dibagikan kepada warga terdampak. Banyak keluarga menggantungkan kebutuhan pangan dari bantuan tersebut karena mata pencaharian mereka lumpuh total.

Wali Jorong Labuah, Elbama, masih mengingat bagaimana bantuan pangan mulai berdatangan ke nagari mereka. Salah satu yang paling dirasakan manfaatnya adalah beras Bulog.

“Masuk bantuan beras Bulog ke kenagarian. Dipakai masyarakat. Kuotanya sekitar tiga ton untuk 310 kepala keluarga,” katanya.

Menurut Elbama, bantuan itu sangat membantu warga yang hingga kini masih kesulitan memulihkan sawah mereka.

“Berasnya bagus, tidak bergetah, dan gratis. Kalau ada bantuan seperti itu lagi, kami sangat membutuhkan. Sebab sawah masyarakat belum bisa diolah. Banyak yang sudah berubah jadi batu semua,” ujarnya.

Galodo yang menghantam Kabupaten Agam pada 2025 bukan sekadar bencana biasa. Dampaknya memukul sendi pangan masyarakat. Bukan hanya rumah yang rusak, tetapi juga lahan produksi pangan yang selama ini menopang kehidupan ribuan warga.

Data Pemerintah Kabupaten Agam mencatat, hingga 22 Desember 2025, sedikitnya 2.044,84 hektar areal pertanian terdampak bencana hidrometeorologi tersebut. Total kerugian ditaksir mencapai lebih dari Rp83,2 miliar.

Sawah, perkebunan, lahan hortikultura, hingga jaringan irigasi rusak berat. Bahkan lebih dari 500 hektar lahan pertanian dinyatakan tidak lagi berfungsi karena tertimbun material banjir bandang dan berubah menjadi aliran sungai.

Di sejumlah lokasi terdampak parah, masyarakat kehilangan sumber pangan sekaligus sumber penghasilan. Dalam kondisi seperti itu, bantuan pangan menjadi penyangga kehidupan.

Di balik distribusi bantuan itu, ada peran penting Cadangan Pangan Pemerintah yang dikelola Bulog.

Pimpinan Cabang Bulog Bukittinggi, Romi Victa Rose, menjelaskan bahwa penguatan stok cadangan pangan pemerintah merupakan bagian dari program strategis nasional untuk memperkuat ketahanan pangan.

“Ini bagian dari roadmap Asta Cita Presiden, terutama terkait pertahanan dan kemandirian bangsa melalui swasembada pangan,” katanya.

Bulog, kata Romi, menjalankan fungsi penyerapan, penyimpanan, dan penyaluran pangan berdasarkan ketentuan pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Pemerintah menetapkan harga pembelian gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram dan harga beras Rp12.000 per kilogram untuk memperkuat stok cadangan pangan nasional.

Dari Sumatra Barat, daerah yang menjadi tumpuan serapan gabah dan beras pemerintah antara lain Kabupaten Pasaman, Pesisir Selatan, dan Dharmasraya. Dari daerah-daerah itulah stok pangan pemerintah diperkuat.

Menariknya, beras hasil serapan dari petani lokal tersebut kemudian kembali disalurkan ke daerah-daerah terdampak bencana di Sumatra Barat, termasuk Agam, Padang, Solok, dan Tanah Datar.

“Beras serapan pemerintah oleh Bulog menjadi stok cadangan pemerintah yang kemudian disalurkan ke daerah-daerah yang terkena bencana,” ujar Romi.

Di sinilah rantai ketahanan pangan bekerja. Dari sawah petani, masuk ke gudang Bulog, lalu kembali ke masyarakat saat keadaan darurat.

Peran itu menjadi sangat penting ketika bencana datang menghantam sentra produksi pangan.

Bagi masyarakat korban galodo, bantuan pangan bukan hanya soal bertahan hidup dalam hitungan hari. Bantuan itu juga memberi ruang bagi warga untuk bangkit perlahan tanpa dihantui ancaman kelaparan.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Agam, Villa Erdi, mengatakan selama masa tanggap darurat hingga pasca-bencana, kebutuhan pangan masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah.

Tercatat, sekitar 272,5 ton beras dari berbagai sumber disalurkan untuk warga terdampak. Bantuan datang dari donasi masyarakat, Kementerian Sosial, Badan Pangan Nasional, Dinas Sosial Provinsi Sumatra Barat, hingga pengadaan dari dana donasi.

Distribusi bantuan bahkan dilakukan melalui udara menggunakan helikopter untuk menjangkau daerah yang sempat terisolasi akibat putusnya akses jalan.

Di antara berbagai bantuan tersebut, Cadangan Pangan Pemerintah yang dikelola Bulog menjadi salah satu penopang utama.

“Beras Bulog yang merupakan cadangan pangan daerah sebanyak 22 ton, ditambah penyaluran CPP dari Badan Pangan Nasional sebanyak 449.181 kilogram pada awal Ramadan,” ujar Villa Erdi.

Secara keseluruhan, total beras yang disalurkan mencapai 721.681 kilogram.

Menurut Villa, keberadaan beras Bulog sangat membantu masyarakat yang kehilangan harta benda dan mata pencaharian akibat bencana.

“Iya, sangat membantu, karena hal ini sangat dibutuhkan korban bencana dan warga terdampak saat mereka kehilangan harta dan mata pencaharian akibat bencana,” katanya.

Yang paling penting, kata dia, selama masa tanggap darurat hingga pasca-bencana, hampir tidak terdengar keluhan masyarakat kekurangan sembako.

“Dalam masa tanggap dan pasca tanggap bencana, kita tidak mendengar keluhan masyarakat kekurangan sembako,” ujarnya.

Pernyataan itu mungkin terdengar sederhana. Namun di tengah lumpuhnya lahan pertanian dan rusaknya akses ekonomi masyarakat, keberhasilan menjaga pasokan pangan adalah hal yang sangat menentukan.

Sebab bencana tidak hanya menghancurkan rumah dan sawah, tetapi juga rasa aman.

Kini, beberapa bulan setelah galodo menerjang, kehidupan di Nagari Sungai Batang perlahan mulai bergerak kembali. Namun bekas luka bencana masih nyata terlihat. Batu-batu besar masih menumpuk di bekas sawah. Saluran irigasi banyak yang belum pulih. Sebagian lahan bahkan diperkirakan tidak lagi bisa ditanami.

Di tengah kondisi itu, ketahanan pangan menjadi isu yang sangat nyata bagi masyarakat.

Bagi Cicing dan ratusan keluarga lainnya, bantuan beras Bulog mungkin datang dalam bentuk sederhana: karung putih berisi beras. Namun maknanya jauh lebih besar.

Beras itu adalah penghubung antara negara, petani, dan masyarakat yang sedang bertahan dari bencana.

Di satu sisi, Bulog menyerap hasil panen petani untuk menjaga harga dan memperkuat stok nasional. Di sisi lain, stok itu menjadi penyelamat ketika bencana memutus rantai produksi pangan masyarakat.

Di tengah ancaman perubahan iklim dan meningkatnya bencana hidrometeorologi, peran cadangan pangan pemerintah menjadi semakin penting. Ketahanan pangan tidak lagi hanya berbicara soal produksi, tetapi juga kesiapan menghadapi krisis.

Dan di Jorong Labuah, pelajaran itu terasa begitu nyata.

Tag:

Baca Juga

Pimpinan Perum Bulog Kantor Wilayah Sumbar, R. Darma Wijaya. (Foto: Buliza Rahmat/Langgam.id)
Perum Bulog Sumbar Akui Harga Minyakita Masih Tembus HET, Distribusi Diklaim Aman
Bulog Klaim Stok Beras di Sumbar Tembus 10.000 Ton
Bulog Klaim Stok Beras di Sumbar Tembus 10.000 Ton
Dampingi Kunker Mentan ke Sumbar, Bulog: Kami Pastikan Stok dan Distribusi Pangan Terkendali
Dampingi Kunker Mentan ke Sumbar, Bulog: Kami Pastikan Stok dan Distribusi Pangan Terkendali
Sasar Warga Rentan, Bulog Salurkan Bantuan Pangan di Payakumbuh
Sasar Warga Rentan, Bulog Salurkan Bantuan Pangan di Payakumbuh
Perkuat Koordinasi, Bulog Bukittinggi Pastikan Bantuan Pangan Februari–Maret Tepat Sasaran
Perkuat Koordinasi, Bulog Bukittinggi Pastikan Bantuan Pangan Februari–Maret Tepat Sasaran
Perkuat Ketahanan Pangan Sumbar, Bulog Bangun Sinergi dengan Legislatif
Perkuat Ketahanan Pangan Sumbar, Bulog Bangun Sinergi dengan Legislatif