Rumah Baru bagi Marwah Ulama Indonesia

Ke mana umat harus berpaling ketika otoritas ulama institusional terfragmentasi oleh syahwat politik? Pertanyaan itulah yang dilontarkan Tuanku Taufik dalam tulisannya Berislam tanpa MUI (langgam.id). Jawaban yang ia tawarkan pun tegas: memindahkan kiblat pencarian ilmu dan agama kembali ke rahim kultural surau, sambil mendengarkan suara para “ulama sunyi” yang memilih jalan dakwah jauh dari hiruk-pikuk kekuasaan.

Gagasan itu lahir dari pembacaan kritis atas dinamika Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat beserta relasinya dengan sejumlah organisasi Islam. Di mata Tuanku Taufik, kontestasi kelembagaan telah menggerus kewibawaan moral ulama. Karena itu, ia menawarkan pergeseran kiblat otoritas: dari legitimasi organisasi menuju otoritas kultural yang tumbuh di surau-surau, masjid, dan kampung-kampung.

Seyogianya saya menghadiri Musyawarah Daerah XI MUI Sumatera Barat sebagai bagian dari pengurus yang menerima undangan. Namun, amanah lain akhirnya membuat saya berhalangan hadir. Posisi itu justru mendorong saya membaca gagasan Tuanku Taufik dengan semangat berdialog, bukan mempertentangkannya. Saya masih mengingat sebuah percakapan kami ketika sama-sama aktif dalam ruang gerakan aktivis beberapa tahun silam. Saat membahas perubahan sosial, ia mengemukakan gagasan tentang “revolusi dari dalam”. Kalimatnya sederhana, tetapi membekas: “Masuklah, lalu benahi dari dalam.” Karena itulah saya memandang “Berislam tanpa MUI” sebagai kritik moral yang lahir dari kecintaan kepada ulama dan lembaga, bukan dari keinginan meruntuhkan keduanya.

Namun, saya melihat persoalan yang sedang kita hadapi telah bergerak lebih jauh. Dinamika MUI hanya salah satu gejalanya. Perubahan yang lebih besar sedang berlangsung pada cara masyarakat membangun kepercayaan kepada otoritas agama. Sejarah Islam selalu berjalan beriringan dengan perubahan masyarakat. Setiap zaman melahirkan ruang komunikasi baru. Bersamaan dengan itu, cara umat mencari ilmu, membangun kepercayaan, dan memilih rujukan agama ikut berubah. Jangan pernah mencari ilmu ke MUI, agaknya jawaban yang tepat sebab MUI adalah ruang perjumpaan dan representasi dari element-element yang mungkin saja memaksa diri atau terpaksa menjadi ulama.

Surau pernah menjadi pusat peradaban Islam Minangkabau. Dari ruang sederhana itu lahir ulama-ulama besar, tradisi intelektual, kepemimpinan moral, sekaligus karakter masyarakat. Hubungan guru dan murid dibangun melalui kedekatan, keteladanan, dan adab. Otoritas lahir dari proses panjang, bukan dari popularitas. Sementara hari ini, masyarakat memasuki ruang yang berbeda. Algoritma menghadirkan ceramah ke jutaan layar telepon genggam setiap detik. Video pendek, podcast, siaran langsung, dan media sosial membentuk pengalaman baru dalam belajar agama. Generasi muda mengenal banyak ulama bahkan sebelum menginjakkan kaki ke sebuah surau. Perubahan itu membawa kabar baik. Semangat belajar Islam tumbuh semakin luas. Kitab dapat diakses dalam hitungan detik. Kajian hadir dari berbagai penjuru dunia. Dakwah menemukan jalan-jalan baru yang dahulu sulit dibayangkan.

Pada saat yang sama, pola pembentukan otoritas pun ikut berubah. Kedekatan dengan umat lahir melalui ruang digital. Kepercayaan tumbuh melalui konsistensi, kualitas keilmuan, kemampuan berkomunikasi, dan keteladanan yang hadir setiap hari. Di sinilah wajah baru otoritas keagamaan mulai terbentuk. Surau tetap menjadi mata air peradaban Islam Minangkabau. Dari surau mengalir ilmu, adab, kebijaksanaan, dan keberanian moral. Nilai-nilai itu tetap menjadi fondasi keulamaan. Namun, mata air selalu mencari sungainya.

Ruh surau memerlukan ruang yang lebih luas agar terus menghidupi masyarakat. Ilmu para ulama perlu hadir di ruang-ruang digital tempat generasi hari ini bertumbuh. Adab yang diwariskan di surau perlu menjelma menjadi etika bermedia. Keteladanan para Buya perlu menjangkau platform yang kini menjadi ruang belajar jutaan generasi baru. Di titik ini, saya akhirnya mengenang masa kecil di surau kampung. Saya masih mengingat rotan ayah yang mengajari disiplin mengaji. Kenangan itu menghadirkan rasa syahdu setiap kali membicarakan surau. Saat dimana tak ada platform sosial media seperti sekarang. Lalu, siapa yang bakal mengisi ruang-ruang digital itu dengan ilmu?

Surau Saja Belum Cukup
Saya belum membayangkan perpindahan kiblat dari MUI menuju surau, atau dari organisasi menuju ulama sunyi. Saya justru membayangkan perjumpaan di antara seluruh kekuatan itu. Surau tetap menjadi tempat lahirnya ulama. MUI dan berbagai organisasi Islam menjadi ruang musyawarah, representasi, serta konsolidasi umat. Platform digital menjadi medan baru pengabdian keilmuan. Ketiganya memikul amanah yang saling melengkapi.

Tanpa surau, ulama kehilangan akar. Tanpa lembaga, umat kehilangan ruang representasi. Tanpa kehadiran di ruang digital, generasi muda kehilangan kesempatan bertemu dengan tradisi keilmuan yang otentik. Marwah ulama akan tumbuh ketika ketiga ruang itu saling menguatkan.

Setiap perubahan zaman selalu menghadirkan ruang dialog baru. Begitu pula perjalanan otoritas keagamaan. Marwah ulama akan tetap hidup selama ilmu, akhlak, dan keteladanan terus menjadi fondasi utama. Rumah baru bagi marwah ulama Indonesia, menurut saya, bukan lahir dari perpindahan antara satu ruang dan ruang lainnya. Rumah itu tumbuh melalui perjumpaan antara kedalaman tradisi surau, kekuatan kelembagaan, dan keluasan ruang publik digital.

Ketika ketiganya berjalan seiring, umat memperoleh bimbingan dari ulama yang berilmu, berakhlak, berwibawa, sekaligus hadir di ruang tempat masyarakat mencari petunjuk. Saya setuju Tuanku Taufik, pertengkaran dalam kontestasi kepengurusan memang menghadirkan rasa risih yang tinggi. Bahwa selalu ada yang menyaru kepentingan personal untuk kekuasaan, inilah anasir yang perlu terus dilokalisir dari setiap gerakan kemaslahatan ummat, termasuk MUI. Mudah-mudahan kegelisahan itu menjadi jalan pulang untuk satu tujuan: mengabdi kepada umat, bukan kepada kekuasaan. Tabik!

*Penulis: Abdullah Khusairi (Akademisi Kajian Media dan Dakwah UIN Imam Bonjol Padang)

Baca Juga

Negeri Korupsi yang Terus Menggenang
Negeri Korupsi yang Terus Menggenang
Merajalelanya Ketidakintegritasan Membawa Negara Makin Sakit
Merajalelanya Ketidakintegritasan Membawa Negara Makin Sakit
Spektrum Keterbelian Intelektualitas
Spektrum Keterbelian Intelektualitas
PFII dan Ilusi Jalan Pintas
PFII dan Ilusi Jalan Pintas
(Masih) Ada Jalan Lain
(Masih) Ada Jalan Lain
Sidaria adalah dosen keperawatan di Unand
Waspadai Low Back Pain pada Perawat: Beban Kerja Fisik yang Sering Terabaikan